Kalimantan Sudah Punya Pabrik Alumina, Prabowo Bidik Aluminium Bernilai hingga USD 16 Miliar

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 17:42 WIB
Prabowo Subianto dalam dialog bersama para Jurnalis Senior dan Pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. (YOUTUBE)
Prabowo Subianto dalam dialog bersama para Jurnalis Senior dan Pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. (YOUTUBE)

PONTIANAK POST - Presiden Prabowo Subianto menargetkan hilirisasi bauksit hingga menjadi aluminium dapat memberi nilai ekonomi US$15-16 miliar pada 2030.

Target itu relevan bagi Kalimantan, wilayah yang sudah mengoperasikan pabrik alumina dan kini dilirik investor untuk proyek pengolahan bauksit.

Strategi Nilai Tambah Dalam Negeri

Menurut Prabowo, pengembangan industri tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

Baca Juga: Izin Hampir Final, tapi 3 Hal Ini Masih Dirahasiakan soal Pabrik Bauksit Rusia di Kalimantan

Pemerintah tengah mendorong pengolahan bauksit secara terintegrasi, dari bauksit menjadi alumina, lalu alumina diolah menjadi aluminium.

“Sebagai contoh, kalau kita bikin smelter aluminium di Indonesia, bauksit menjadi alumina, alumina menjadi aluminium, itu kenaikannya luar biasa ada yang 32 kali, ada yang 66 kali dan ini sedang kita kerjakan semua,” ujarnya dalam dialog bersama para Jurnalis Senior dan Pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dikutip dari kanal Youtube Prabowo Subianto (19/9).

Kebutuhan Investasi US$26 Miliar

Untuk merealisasikan potensi nilai ekonomi tersebut, Prabowo menyebut pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi mencapai US$26 miliar.

“Investasi 26 miliar dolar akan menciptakan 229.000 lapangan kerja baru. Cadangan bauksit kita keenam terbesar di dunia,” kata dia.

Baca Juga: Terkubur 12 Tahun, Janji Rusia Bangun Pabrik Bauksit di Kalimantan Akhirnya Mau Terealisasi

Kalimantan dan Tahap Alumina

Di Kalimantan Barat, Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah telah beroperasi dengan kapasitas satu juta ton alumina per tahun. Tahap itu merupakan mata rantai tengah dalam alur yang dijelaskan Prabowo.

Pada Jumat (11/9/2026), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa proses perizinan proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina oleh perusahaan aluminium asal Rusia, UC Rusal, di Kalimantan mendekati tahap final.

Pemerintah berkolaborasi dalam proyek tersebut, sementara Rusal akan bekerja sama dengan pelaku usaha dalam negeri yang namanya belum diungkap.

Rencana Rusal itu sebelumnya juga disinggung Prabowo dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026.

Modal Cadangan Bauksit Keenam Terbesar Dunia

Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri tersebut karena cadangan bauksit nasional berada di posisi keenam terbesar di dunia.

Kementerian ESDM mencatat 18 proyek hilirisasi prioritas nasional pada 2026 dengan total investasi sekitar Rp618 triliun, termasuk bauksit dan nikel.

Prabowo juga menyinggung bahan bangunan berbahan aluminium yang menurutnya memberikan nilai tambah 36,9 hingga 40 kali.

“Bauksit menjadi aluminium, building material 36,9 kali, 40 kali nilai tambah yang sekarang enggak ada di Indonesia! This is our strategy, ini tujuan kita,” kata Prabowo.

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
hilirisasi alumina pengolahan bauksit aluminium kalimantan