PONTIANAK POST - Pemerintah Republik Indonesia resmi menjadikan rekam jejak pengembangan kapabilitas industri Toyota sebagai pilar acuan guna memperkuat daya saing ekosistem manufaktur otomotif nasional. Langkah strategis ini diambil untuk mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan rantai pasok dalam negeri agar mampu bersaing di tingkat global.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menegaskan bahwa inovasi industri domestik perlu dipacu melalui adopsi teknologi modern dan efisiensi rantai pasok.
“Toyota merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Susiwijono saat mengunjungi Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT) di Nagoya, dikutip di Jakarta, Minggu.
Susiwijono menilai riwayat panjang Toyota sangat sejalan dengan arah kebijakan Indonesia yang tengah mendongkrak performa sektor manufaktur. Apalagi, kemitraan antara produsen asal Jepang tersebut dengan Indonesia telah mengakar kuat selama lebih dari lima dekade.
Sejauh ini, Toyota Indonesia tercatat berhasil mencetak 10 juta unit kendaraan, di mana lebih dari 3 juta unit di antaranya telah menembus pasar ekspor di lebih dari 100 negara. Komitmen investasi Toyota Group di Tanah Air pun telah menembus angka sekitar Rp100 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai lebih dari 360.000 orang.
Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pada ekosistem produksi Toyota di Indonesia juga telah melampaui angka 80 persen. Kekuatan produksi ini disokong oleh lebih dari 240 pemasok Tier-1 serta sekitar 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3 yang memantapkan integrasi industri komponen lokal. Catatan positif ini membuktikan posisi Indonesia yang telah bertransformasi dari sekadar pasar konsumsi menjadi basis produksi dan ekspor global.
Mendorong Rantai Nilai Kendaraan Listrik
Memasuki era transisi menuju kendaraan ramah lingkungan, pemerintah memandang penguatan ekosistem industri menjadi prioritas utama. Susiwijono menyebutkan bahwa tren elektrifikasi membuka ruang lebar bagi Indonesia untuk memperluas rantai nilai industri, mulai dari pembuatan baterai, komponen pendukung, proses daur ulang, hingga penyiapan tenaga kerja ahli.
“Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” ungkapnya.
Menjawab tantangan tersebut, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada April 2026 telah menyepakati kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) guna mengembangkan manufaktur baterai kendaraan listrik di Indonesia lewat kucuran investasi Rp1,3 triliun. Langkah ini mencakup produksi sel hingga modul baterai, yang diproyeksikan menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor baterai Toyota ke pasar internasional mulai semester II 2026.
Ke depan, pemerintah akan terus mempererat sinergi dengan para pelaku industri guna memperluas jangkauan ekspor dan memperkuat kapasitas manufaktur nasional dalam menghadapi akselerasi teknologi. Kunjungan kerja ke TCMIT ini sekaligus mempertegas komitmen dialog antara pemerintah dan Toyota dalam mematangkan skema elektrifikasi serta pengembangan SDM berkelanjutan (ant).
Sumber : Antara