PONTIANAK POST - Rencana UC Rusal membangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina di Kalimantan ternyata bukan cerita baru.
Di tengah kabar itu, Presiden Prabowo Subianto menyebut investasi pada hilirisasi bauksit akan menciptakan 229.000 lapangan kerja baru.
Janji Lama Sejak 2014
Merujuk laporan Antara (26/2/2014), perusahaan aluminium asal Rusia itu menandatangani nota kesepahaman dengan PT Arbaya Energi, bagian dari Satmarindo Group, untuk eksplorasi dan penambangan bauksit serta produksi alumina di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Bauksit Bisa Naik 66 Kali Lipat, Perusahaan Asal Rusia Bakal Bangun Pabrik Alumina di Kalimantan
Penandatanganan dilakukan CEO UC Rusal saat itu, Oleg Deripaska, bersama Direktur Utama PT Arbaya Energi, Suryo Bambang Sulisto. Proyek tersebut tak kunjung berlanjut ke tahap konstruksi.
Sinyal Kembali Muncul pada 2026
Laporan Antara (27/2/2026) mencatat perwakilan Rusal, Aleksey Mirskiy, menawarkan investasi pabrik pengolahan aluminium di Kalimantan Barat saat delegasi Rusia berkunjung.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemudian mengonfirmasi di Jakarta, Jumat (11/9/2026), bahwa proses perizinan proyek itu mendekati tahap final.
Ia belum menyebut besaran investasi karena studi kelayakan belum rampung.
Baca Juga: Terkubur 12 Tahun, Janji Rusia Bangun Pabrik Bauksit di Kalimantan Akhirnya Mau Terealisasi
Investasi US$26 Miliar dan 229.000 Lapangan Kerja
Sementara itu, dalam dialog bersama para Jurnalis Senior dan Pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Prabowo memaparkan proyeksi hilirisasi bauksit.
Ia memperkirakan nilai ekonominya sekitar US$15-16 miliar pada 2030, dengan kebutuhan investasi US$26 miliar.
“Investasi 26 miliar dolar akan menciptakan 229.000 lapangan kerja baru. Cadangan bauksit kita keenam terbesar di dunia,” kata dia dikutip dari kanal Youtube Prabowo Subianto (19/9/2026).
Bagian dari Ambisi Hilirisasi Rp618 Triliun
Proyek Rusal sejalan dengan program penguatan hilirisasi mineral nasional. Kementerian ESDM mencatat 18 proyek hilirisasi prioritas nasional pada 2026 dengan total investasi sekitar Rp618 triliun, termasuk bauksit dan nikel.
Sebagai gambaran kesiapan ekosistem, Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, telah beroperasi dengan kapasitas satu juta ton alumina per tahun.
Baca Juga: Bauksit Tembus 17,76 Juta Ton: Kalbar Jadi Tumpuan Hilirisasi Alumina dan Aluminium Nasional
Editor : Khoiril Arif Ya'qob