BRIN Dorong Kemandirian Nelayan Lewat Inovasi Kapal Fiberglass

Uray Ronald • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 22:11 WIB
Ilustrasi - Kapal fiberglass nelayan.
Ilustrasi - Kapal fiberglass nelayan.

 

PONTIANAK POST  – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong kemandirian nelayan melalui inovasi desain dan pembuatan kapal fiberglass yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

Inovasi tersebut tidak hanya menghasilkan kapal, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan untuk membuat, memelihara, serta mengembangkan kapal secara mandiri.

Pengembangan kapal dilakukan dengan memanfaatkan desain kapal tradisional yang telah digunakan masyarakat setempat. Desain tersebut kemudian dikembangkan untuk meningkatkan keamanan, stabilitas, dan performa kapal saat beroperasi.

“Setiap daerah memiliki tipe kapal yang berbeda-beda. Karena itu, kami tidak membawa desain yang sama untuk setiap lokasi, tetapi mengambil desain kapal yang sudah ada di daerah tempat pelatihan," ujar Abdul Kadir, Periset Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Rabu (16/9).

"Kapal tradisional tersebut kemudian kami redesign dan diberikan inovasi agar lebih aman, lebih stabil, dan performanya dapat meningkat.” 

Dengan memulai dari desain yang telah digunakan masyarakat, inovasi juga mempertahankan pengetahuan lokal sekaligus memasukkan pengembangan teknologi baru.

Baca Juga: DKP Tebar 5.000 Bibit Kerapu di Kayong Utara, Dibudidayakan Kelompok Nelayan Desa Pelapis

Nelayan Belajar Membuat Kapal dari Nol

Transfer pengetahuan menjadi bagian penting dalam pengembangan kapal fiberglass tersebut.

Masyarakat dilibatkan langsung dalam proses pembuatan kapal melalui pelatihan, mulai dari membaca gambar desain hingga membuat cetakan dan mencetak kapal fiberglass.

“Kami mengajari para nelayan mulai dari membaca gambar hingga membuat cetakan. Targetnya, peserta tidak hanya bisa membaca gambar, tetapi juga mampu mendesain kapal," jelas Abdul Kadir.

"Setelah itu, masyarakat nelayan dilibatkan langsung untuk membuat kapalnya sendiri.” 

Peserta kemudian terlibat dalam pemasangan lapisan fiberglass, rangka, mesin, dan berbagai peralatan hingga kapal diluncurkan.

Kapal yang telah selesai dibuat juga melalui sejumlah pengujian untuk memastikan kesesuaian dan keamanan sebelum digunakan.

Baca Juga: BRIN Kembangkan Inovasi Pangan untuk Kurangi Gula, Manfaatkan  Pati Singkong dan Sagu

Kapal Diuji Sebelum Digunakan Nelayan

BRIN melakukan uji kebocoran, daya apung, dan kecepatan terhadap kapal yang telah dibuat.

Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kapal sesuai dengan karakteristik tempat dan kebutuhan operasional masyarakat.

“Setelah kapal dibuat, kami harus memastikan kapal tersebut betul-betul sesuai dengan tempat dan aman untuk dioperasikan. Karena itu dilakukan uji coba kebocoran, daya apung, dan kecepatan untuk melihat apakah performanya sesuai dengan kebutuhan di daerah tersebut,” terang Abdul Kadir.

Setelah diserahterimakan kepada kelompok nelayan, peserta diharapkan tidak hanya dapat menggunakan kapal.

Mereka juga diharapkan mampu membuat dan memelihara perahu fiberglass serta mengembangkannya sesuai kebutuhan daerah.

Keterampilan Berlanjut hingga Mendirikan Galangan

Diseminasi pembuatan kapal fiberglass telah dilaksanakan di 33 lokasi di Indonesia, mulai dari Pulau Nias hingga Papua.

Pengalaman salah satu peserta di Flores menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat terus dikembangkan setelah program selesai.

Abdul Kadir menceritakan seorang peserta pelatihan di Flores yang beberapa tahun kemudian menghubungi tim BRIN setelah berhasil mendirikan galangan kapal.

“Kami pernah melakukan pelatihan di Flores. Beberapa tahun kemudian, salah satu peserta menghubungi kami dan ternyata sudah mendirikan galangan kapal. Dia sudah memiliki bekal pengetahuan membuat kapal dari pelatihan yang kami berikan,” ungkapnya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa transfer teknologi dapat memberikan dampak yang berlanjut ketika keterampilan masyarakat dapat digunakan kembali untuk kegiatan produktif di daerah.

Baca Juga: Pemerintah Bangun 1.582 Kapal Ikan Baru hingga 2028 untuk Modernisasi Armada dan Penguatan Kampung Nelayan Merah Putih

Kapal Fiberglass Lebih Minim Perawatan

Penggunaan fiberglass atau glass-reinforced plastic (GRP) menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan kapal kayu, terutama dari sisi perawatan dan ketahanan material.

Australian Maritime Safety Authority (AMSA) menjelaskan bahwa kapal kayu memerlukan pemeriksaan dan perawatan rutin karena material kayu dapat mengalami pembusukan, pembengkakan, serta kerusakan akibat organisme laut.

Kayu juga dapat menyerap air selama masa penggunaan sehingga berat kapal meningkat dan material maupun pengikat logamnya dapat mengalami kerusakan. 

Sementara itu, dokumen pemerintah Amerika Serikat mengenai kapal fiberglass menyebut material GRP tidak mengalami korosi atau pembusukan seperti material kayu.

Kapal fiberglass juga umumnya membutuhkan perawatan yang relatif rendah, meskipun tetap memerlukan pemeriksaan dan perbaikan apabila terjadi kerusakan atau cacat konstruksi. 

Keunggulan lain berada pada fleksibilitas desain. Fiberglass dapat dicetak menjadi berbagai bentuk dan ukuran, sehingga memungkinkan pengembangan desain lambung yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional kapal. 

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) juga mencatat fiberglass sebagai material yang tahan lama, ringan, relatif mudah dirawat dan diperbaiki, serta dapat digunakan dalam konstruksi lambung secara terpadu. 

Bagi nelayan, karakteristik tersebut dapat menjadi keuntungan ketika kapal digunakan dalam jangka panjang.

Namun, kapal fiberglass tetap membutuhkan inspeksi karena dapat mengalami masalah seperti retak, delamination, atau kerusakan pada material inti jika konstruksi dan perawatannya tidak dilakukan dengan baik. 

Karena itu, pengembangan kapal fiberglass berbasis desain lokal tidak hanya berkaitan dengan penggantian material dari kayu ke fiberglass.

Desain, kualitas pembuatan, pengujian, serta kemampuan masyarakat melakukan perawatan tetap menjadi faktor penting untuk memastikan kapal aman dan sesuai dengan kondisi perairan setempat.

Dari segi harga, kapal fiberglass tidak selalu lebih mahal dari kapal kayu. Biaya awal sangat bergantung pada ukuran, desain, material, mesin, dan perlengkapan.

Sejumlah penelitian IPB bahkan menemukan biaya produksi dan perawatan kapal fiberglass lebih rendah dalam kasus yang dibandingkan.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : BRIN
kapal fiberglass BRIN kapal fiberglass untuk nelayan inovasi kapal BRIN teknologi kapal nelayan pelatihan kapal fiberglass