Pasar Saham Vietnam Kian Jadi Favorit Investor, IHSG Tertekan Ditinggal Asing

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 23:41 WIB
Pegawai berjalan di bawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (5/8/2024).
Pegawai berjalan di bawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

 

PONTIANAK POST — Pasar saham Vietnam resmi naik dari kategori pasar perintis (frontier market) menjadi pasar berkembang sekunder (secondary emerging market) dalam indeks FTSE Russell, Senin (21/9). Status baru itu menempatkan Vietnam dalam kategori yang sama dengan Indonesia, tetapi kedua pasar sedang bergerak dalam arah berbeda.

FTSE Russell memperkirakan masuknya Vietnam ke indeks pasar berkembang dapat menarik dana hingga USD6 miliar. Sebaliknya, pasar saham Indonesia sedang menghadapi tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap transparansi kepemilikan saham, jumlah saham beredar di publik, dan tata kelola pasar.

Vietnam telah berada dalam daftar pemantauan FTSE Russell sejak 2018. Kenaikan kelas tersebut diperoleh setelah negara itu memperbaiki mekanisme perdagangan, penyelesaian transaksi, dan akses investor asing.

Dana Asing Mulai Masuk

Berdasarkan data Bursa Efek Ho Chi Minh, investor asing membukukan pembelian bersih saham senilai 2,7 triliun dong atau sekitar USD104 juta pada pekan sebelum pengumuman. Namun, secara kumulatif, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sekitar 91 triliun dong.

Pengelola dana global Vanguard juga berencana meningkatkan investasinya di Vietnam menjadi sekitar USD2,5 miliar dalam beberapa tahun mendatang. Investasi akan dipertahankan selama saham-saham Vietnam berada dalam indeks acuan tersebut. 

Masuknya Vietnam ke indeks dilakukan bertahap. Bobot awal sebesar 10 persen diterapkan pada September 2026, disusul 20 persen pada Maret 2027, kemudian masing-masing 35 persen pada Juni dan September 2027.

Chief Global Markets Officer SSI Securities Corporation Thomas Nguyen memperkirakan antusiasme pasar dapat mereda setelah momentum awal kenaikan status berlalu. Perhatian investor diperkirakan kembali meningkat menjelang tahap inklusi berikutnya.

“Saya memperkirakan pasar akan tetap relatif lesu hingga kita mendekati 2027,” ujarnya, dikutp dari Reuters.

Indonesia Sudah Lebih Dulu

Indonesia sebenarnya telah lebih dahulu menyandang status pasar berkembang sekunder dalam klasifikasi FTSE Russell. Karena itu, kenaikan kelas Vietnam bukan berarti pasar saham negara tersebut telah melampaui Indonesia secara ukuran maupun kedalaman.

Namun, momentum kedua negara kini berlawanan. Vietnam memperoleh pengakuan setelah memperbaiki akses pasar, sedangkan Indonesia harus meyakinkan penyedia indeks global mengenai transparansi kepemilikan dan likuiditas saham.

FTSE Russell sebelumnya menunda peninjauan indeks Indonesia dan membekukan penambahan maupun perubahan bobot saham baru. Meski status Indonesia sebagai pasar berkembang sekunder dipertahankan, kebijakan tersebut menunjukkan adanya persoalan yang harus segera dibenahi. 

Perlu dibedakan, IHSG merupakan indeks yang mengukur pergerakan seluruh saham di Bursa Efek Indonesia. Adapun status pasar berkembang merupakan klasifikasi terhadap pasar modal suatu negara berdasarkan aksesibilitas, likuiditas, infrastruktur, dan keterbukaan bagi investor global.

IHSG Turun 26 Persen

Kinerja pasar Indonesia juga tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN. Hingga pertengahan September 2026, pasar saham Indonesia turun sekitar 26 persen, sementara indeks saham Singapura dan Thailand masing-masing naik sekitar 22 persen dan 26 persen.

Tekanan terhadap Indonesia dipengaruhi kekhawatiran mengenai arah fiskal, tata kelola, dan kepastian kebijakan. Kondisi tersebut membuat investor asing lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar domestik. 

Perhatian penyedia indeks tidak hanya datang dari FTSE Russell. MSCI sebelumnya memperingatkan risiko penurunan klasifikasi Indonesia apabila persoalan transparansi kepemilikan dan kelayakan investasi tidak diperbaiki.

S&P Dow Jones Indices juga menempatkan Indonesia dalam pemantauan untuk kemungkinan reklasifikasi dari pasar berkembang menjadi pasar perintis pada evaluasi 2027.

Free Float Jadi Persoalan

Salah satu isu utama di pasar saham Indonesia ialah keterbatasan saham yang benar-benar dapat diperdagangkan publik atau free float. Struktur kepemilikan yang dinilai kurang transparan juga menyulitkan penyedia indeks menentukan bobot emiten secara akurat.

Indonesia telah meningkatkan persyaratan minimum free float menjadi 15 persen dan menurunkan ambang pelaporan kepemilikan saham dari 5 persen menjadi 1 persen. Namun, investor menunggu bukti pelaksanaan kebijakan tersebut.

Vietnam pun belum sepenuhnya bebas dari persoalan serupa. Batas kepemilikan asing dan rendahnya free float pada sejumlah perusahaan masih menjadi hambatan bagi masuknya modal global.

Vietnam juga harus membangun sistem kliring dengan pihak lawan transaksi sentral atau central counterparty untuk memenuhi standar akses pasar MSCI. Sistem tersebut ditargetkan berjalan pada 2027. 

Peringatan bagi Pasar Indonesia

Kenaikan kelas Vietnam menunjukkan dana global tidak hanya mempertimbangkan ukuran ekonomi. Kemudahan transaksi, transparansi kepemilikan, likuiditas saham, perlindungan investor, dan konsistensi kebijakan turut menentukan tujuan investasi.

Indonesia masih memiliki pasar yang lebih besar dan telah lama masuk kelompok pasar berkembang. Namun, status tersebut bukan jaminan permanen apabila persoalan mendasar tidak diselesaikan.

Di tengah peluang Vietnam meraih dana asing hingga USD6 miliar, tantangan Indonesia ialah memulihkan kepercayaan pasar. Reformasi free float dan transparansi harus diwujudkan dalam praktik agar IHSG tidak kehilangan lebih banyak modal asing maupun terancam turun kelas.

 

Perbandingan Pasar Saham Vietnam dan Indonesia

Indikator Vietnam Indonesia
Klasifikasi FTSE Russell Naik dari frontier market menjadi secondary emerging market Sudah berstatus secondary emerging market
Momentum pasar Naik kelas Menghadapi tekanan dan pengawasan
Indeks utama VN-Index IHSG
Potensi dana asing Hingga USD6 miliar Berisiko kehilangan aliran modal jika persoalan pasar tidak dibenahi
Rencana investasi besar Vanguard sekitar USD2,5 miliar Belum ada komitmen sebanding dalam bahan berita
Arus dana asing terbaru Beli bersih USD104 juta dalam sepekan, tetapi secara kumulatif masih jual bersih Investor masih berhati-hati di tengah ketidakpastian kebijakan
Kinerja hingga pertengahan September 2026 Ditopang sentimen kenaikan kelas Turun sekitar 26 persen
Masalah utama Batas kepemilikan asing dan free float terbatas Transparansi kepemilikan, likuiditas, dan free float
Posisi dalam indeks global Inklusi FTSE dilakukan bertahap hingga September 2027 Peninjauan FTSE sempat ditunda dan perubahan indeks dibekukan
Risiko klasifikasi Harus melanjutkan reformasi untuk mengejar status MSCI Menghadapi peringatan potensi penurunan kelas dari MSCI dan S&P DJI
Langkah perbaikan Menyiapkan sistem central counterparty pada 2027 Menaikkan minimum free float menjadi 15 persen dan memperketat pelaporan kepemilikan
Tantangan berikutnya Membuktikan likuiditas dan kemudahan akses investor Memulihkan transparansi dan kepercayaan investor global

Catatan: IHSG adalah indeks harga saham, sedangkan secondary emerging market merupakan klasifikasi pasar modal suatu negara berdasarkan aksesibilitas, likuiditas, infrastruktur, dan keterbukaan bagi investor.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
dana asing pasar saham Vietnam FTSE Russell pasar berkembang ihsg