PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah dibuka menguat 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.857 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu. Penguatan tersebut terjadi dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah turut dipengaruhi perkiraan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung hari ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan menguat pada kisaran Rp17.830-Rp17.880 dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI hari ini yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 5,75 persen,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Sejumlah ekonom sebelumnya memproyeksikan BI-Rate tetap berada di level 5,75 persen pada RDG BI September 2026. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun masih terbuka jika tekanan eksternal semakin persisten.
Eskalasi konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina telah mendorong sejumlah bank sentral meninjau kembali kebijakan moneternya. Bank sentral tersebut antara lain The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.
Di sisi lain, The Fed juga mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih dapat menjadi pilihan pada tahun ini meskipun kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat relatif kuat.
Secara keseluruhan, tekanan global terhadap rupiah berasal dari kombinasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, serta harga minyak yang tinggi.
Menurut Rully, BI pada hari ini akan menunjukkan sikap hawkish untuk menjaga stabilitas rupiah melalui perluasan sejumlah instrumen, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pasar valas spot, serta derivatif Non-Deliverable Forward (NDF) dan swap.
“Dari global, harga minyak menunjukkan tren penurunan mendorong penurunan indeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS,” ungkap dia. (ant)
Sumber : Antara