Bukan Cuma Asap, Karhutla Mulai Mengancam Harga Pangan di Kalimantan

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 12:13 WIB
Ilustrasi ibu pusing melihat harga pangan naik (AI)
Ilustrasi ibu pusing melihat harga pangan naik (AI)

PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai memberikan dampak yang lebih luas dari sekadar kabut asap.

Gangguan terhadap produksi pangan, distribusi barang hingga tekanan terhadap harga kebutuhan masyarakat mulai menjadi persoalan ekonomi yang ikut muncul di tengah musim kemarau.

Di Kalimantan Barat, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi karhutla ikut memberikan tekanan terhadap inflasi pada September 2026.

Baca Juga: Inflasi Kalbar 2,83 Persen, Pemerintah Waspadai Gejolak Harga Pangan

Kondisi tersebut berkaitan dengan terganggunya suplai, distribusi, dan rantai pasok sejumlah komoditas.

“Terlebih lagi adanya karhutla diprediksi sangat memengaruhi inflasi Kalbar pada September ini,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Kalbar Sri Suyatmi dikutip dari Antara (22/9).

Luas Karhutla Sudah Puluhan Ribu Hektare

Tekanan tersebut terjadi ketika kebakaran di Kalbar masih meluas. Data BNPB sebagaimana dilaporkan Antara pada pertengahan September menunjukkan luas area terdampak karhutla di Kalbar telah mencapai 48.535,73 hektare.

Angka tersebut merupakan hasil sinkronisasi data pemantauan satelit dengan pengukuran langsung di lapangan. Pemerintah kemudian mengerahkan ribuan personel serta armada udara untuk menangani kebakaran.

Baca Juga: Hadapi Musim Kering dan Karhutla, Bupati Kayong Utara Bersama Ratusan Warga Gelar Salat Istisqa

Besarnya area terdampak membuat persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman. Aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar wilayah terdampak juga berpotensi terganggu.

Produksi Pangan Ikut Tertekan

Salah satu sektor yang rentan adalah pertanian. Kemarau panjang dapat mengurangi produktivitas lahan dan mengganggu pasokan sejumlah komoditas pangan.

Di Kalimantan Timur, misalnya, Bulog Kaltimtara menyebut penyerapan gabah lokal belum mencapai target karena kekeringan berkepanjangan. Dari target sekitar 23.000 ton, penyerapan yang terealisasi sekitar 15.000 ton.

Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara termasuk wilayah yang selama ini diandalkan untuk pasokan gabah lokal.

Distribusi Barang Menghadapi Tantangan

Persoalan tidak berhenti di tingkat produksi. Ketika pasokan dari daerah tertentu berkurang, pedagang dan pemerintah daerah harus mencari sumber komoditas dari wilayah lain.

Di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pemerintah daerah memperluas jaringan pemasok bahan pangan dari berbagai daerah di Kalimantan maupun luar pulau.

Baca Juga: Muara Jungkat Makin Dangkal, Pelaku Usaha Dukung Pengerukan demi Kelancaran Distribusi Barang di Kalbar

“Kelancaran distribusi komoditas pangan perlu dijaga agar ketersediaan komoditas di pasar diharapkan tidak terganggu,” ujar Kepala Bidang Perdagangan Dinas KUKMPerindag Penajam Paser Utara Marlina.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana gangguan produksi dapat merembet ke jalur distribusi.

Harga Pangan Jadi Perhatian

Di Kalbar, BPS memperkirakan karhutla dapat memengaruhi inflasi melalui gangguan suplai dan distribusi. Tekanan ini menjadi perhatian karena sejumlah komoditas pangan memiliki pengaruh terhadap pergerakan harga konsumen.

Meski demikian, kondisi pasokan tidak seragam di seluruh Kalimantan. Bulog Kaltimtara memastikan stok beras sekitar 15.000 ton masih aman untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan, sekaligus menjadi penyangga ketika produksi lokal mengalami penurunan.

Baca Juga: BP BUMN Apresiasi Perum Bulog Jaga Ketahanan Pangan Nasional

Dengan demikian, dampak ekonomi karhutla tidak selalu muncul dalam bentuk kenaikan harga secara langsung.

Gangguan produksi, perubahan sumber pasokan, meningkatnya kebutuhan distribusi, hingga biaya logistik menjadi mata rantai yang perlu diwaspadai.

Karhutla akhirnya menjadi persoalan yang jauh lebih besar dari asap. Ketika lahan terbakar, dampaknya dapat bergerak dari sektor lingkungan menuju pertanian, distribusi, perdagangan, dan akhirnya memengaruhi biaya yang harus dibayar masyarakat.

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
persoalan ekonomi harga pangan karhutla kabut asap