PONTIANAK POST - Limbah dari pengolahan bauksit selama ini menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi seiring berkembangnya industri alumina.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat sisa pengolahan tersebut masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
BRIN mengembangkan teknologi yang memanfaatkan red mud atau lumpur merah, limbah dari proses pengolahan bauksit, bersama slag nikel untuk diolah menjadi katalis dalam pembuatan biodiesel.
Baca Juga: Bauksit Bisa Naik 66 Kali Lipat, Perusahaan Asal Rusia Bakal Bangun Pabrik Alumina di Kalimantan
Inovasi ini menarik perhatian karena menawarkan cara berbeda dalam melihat limbah industri mineral.
Material yang sebelumnya menjadi sisa proses dapat diteliti kembali untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.
BRIN Cari Manfaat dari Limbah Pengolahan Mineral
Dalam risetnya, BRIN mengolah red mud dan slag nikel menjadi material yang dapat digunakan sebagai katalis biodiesel.
“Hasil tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan limbah mineral sebagai katalis untuk mendukung pengembangan energi terbarukan dan transisi menuju industri rendah karbon di Indonesia,” kata Postdoktoral Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Boy Attaurrazaq dikutip dari laman BRIN (28/9).
Baca Juga: Bauksit Masuk Diplomasi Mineral dengan Amerika Latin
Dengan pendekatan seperti ini, limbah tidak hanya dipandang sebagai material yang harus ditangani, tetapi juga sebagai sumber bahan yang masih mungkin dimanfaatkan melalui proses teknologi.
BRIN sebelumnya juga melakukan penelitian terhadap red mud dari wilayah penghasil bauksit, termasuk di Kalimantan Barat.
Hilirisasi Bauksit Kalbar Terus Berkembang
Riset di atas menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan perkembangan industri bauksit dan alumina di Kalimantan Barat.
Pada laporan Antara (10/2) PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memperkuat hilirisasi bauksit, alumina, dan aluminium melalui pengembangan fasilitas di Mempawah.
Pengembangan tersebut mencakup pembangunan SGAR Fase 2 dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa aktivitas pengolahan bauksit di Kalbar tidak lagi hanya berkutat pada bahan mentah.
Proses pengolahan hingga menghasilkan alumina menjadi bagian dari rantai industri yang semakin panjang.
Baca Juga: Izin Hampir Final, tapi 3 Hal Ini Masih Dirahasiakan soal Pabrik Bauksit Rusia di Kalimantan
Saat Produksi Meningkat, Limbah Juga Perlu Diperhatikan
Perkembangan industri pengolahan mineral membawa konsekuensi berupa meningkatnya kebutuhan terhadap pengelolaan sisa produksi.
Di sinilah penelitian mengenai pemanfaatan red mud menjadi penting. Teknologi yang dikembangkan BRIN dapat menjadi salah satu rujukan untuk melihat kemungkinan pemanfaatan material sisa pengolahan bauksit.
Namun, belum ada informasi yang menunjukkan bahwa teknologi BRIN tersebut telah diterapkan secara komersial pada industri alumina di Kalimantan Barat.
Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Red Mud Bauksit Jadi Mineral Bernilai Tinggi
Karena itu, peluang pemanfaatannya di daerah ini masih memerlukan penelitian dan kajian lebih lanjut.
Dari Limbah Menjadi Peluang Baru
Aktivitas industri alumina di Kalbar sendiri terus menunjukkan perkembangan. Pada Agustus 2026 kegiatan ekspor produk alumina kembali dilakukan dari Kalimantan Barat.
Kondisi tersebut membuat isu pengelolaan sisa pengolahan mineral semakin penting untuk diperhatikan.
Hilirisasi bukan hanya soal meningkatkan nilai bahan tambang sebelum dipasarkan, tetapi juga bagaimana sisa proses industrinya dapat dikelola secara aman dan, jika memungkinkan, dimanfaatkan kembali.
Bagi Kalimantan Barat, riset BRIN membuka satu kemungkinan yang menarik: red mud tidak selalu harus dipandang sebagai akhir dari proses pengolahan bauksit.
Dengan penelitian dan teknologi yang tepat, material tersebut berpotensi menjadi bagian dari proses baru yang menghasilkan nilai tambah.
Tantangannya adalah memastikan teknologi tersebut layak secara teknis, ekonomis, dan aman bagi lingkungan sebelum diterapkan dalam skala industri.
Baca Juga: Bauksit Tembus 17,76 Juta Ton: Kalbar Jadi Tumpuan Hilirisasi Alumina dan Aluminium Nasional
Dengan semakin berkembangnya industri alumina di Kalbar, penelitian terhadap pemanfaatan limbah seperti red mud dapat menjadi bagian penting dari upaya membangun industri mineral yang tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga mampu mencari manfaat dari sisa prosesnya.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob