Garuda Catat Pendapatan Naik 16 Persen, Rugi Semester I 2026 Menyusut

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 11:13 WIB
Arsip Foto - Pesawat Garuda Indonesia bersiap melayani penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (ANTARA/Harianto)
Arsip Foto - Pesawat Garuda Indonesia bersiap melayani penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (ANTARA/Harianto)

PONTIANAK POST - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA mencatat perbaikan kinerja keuangan pada semester I 2026 meski industri penerbangan masih menghadapi tekanan kenaikan harga avtur global. Pendapatan perseroan tumbuh 16 persen menjadi 1,80 miliar dolar Amerika Serikat (AS), sementara rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dikutip di Jakarta, Kamis, pendapatan Garuda sepanjang Januari-Juni 2026 meningkat dari 1,55 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, rugi bersih perseroan turun dari 147,1 juta dolar AS menjadi 113 juta dolar AS.

Perbaikan tersebut terjadi ketika harga bahan bakar pesawat memberikan tekanan besar terhadap industri penerbangan global. Konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 turut mengganggu pasokan energi dunia.

Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan harga jet fuel pada April 2026 sempat melonjak sekitar 121 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Untuk keseluruhan 2026, IATA memperkirakan harga rata-rata jet fuel mencapai 152 dolar AS per barel atau hampir 70 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata 2025.

Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) sekaligus pengamat penerbangan Alvin Lie menyebut periode Agustus hingga November 2026 menjadi periode yang perlu diperhatikan maskapai.

"Tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, dan periode low season," kata Alvin saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan avtur menyumbang lebih dari separuh struktur biaya maskapai. Di sisi lain, sekitar 90 persen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing sehingga kenaikan harga avtur dan pelemahan nilai tukar dapat menekan margin perusahaan.

Pendapatan Naik, Beban Avtur Melonjak

Beban avtur Garuda Indonesia pada semester I 2026 meningkat 43,6 persen menjadi 677,6 juta dolar AS. Bahkan pada kuartal II, kenaikan beban avtur mencapai 90 persen secara tahunan.

Akibatnya, porsi biaya avtur terhadap pendapatan meningkat menjadi sekitar 37,7 persen dari sebelumnya 30,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Meski menghadapi tekanan tersebut, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) Garuda meningkat 12,7 persen menjadi 74 juta dolar AS dari 65,7 juta dolar AS. EBITDA juga tumbuh 5,8 persen menjadi 431,6 juta dolar AS.

Laporan keuangan perseroan menunjukkan terdapat sejumlah faktor yang menopang perbaikan kinerja tersebut.

Pertama, pendapatan dari sejumlah lini bisnis mengalami pertumbuhan. Pendapatan penerbangan berjadwal naik 10,9 persen menjadi 1,31 miliar dolar AS. Di dalamnya, pendapatan penumpang tumbuh 11,5 persen menjadi 1,23 miliar dolar AS.

Pendapatan penerbangan tidak berjadwal juga meningkat 32,5 persen menjadi 272,8 juta dolar AS. Kenaikan tersebut antara lain ditopang angkutan haji yang menghasilkan pendapatan 232,2 juta dolar AS atau meningkat 51,6 persen.

Bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) juga mencatat pertumbuhan. Pendapatan dari lini tersebut naik 43,8 persen menjadi 87,4 juta dolar AS.

Kedua, perseroan mampu menahan kenaikan biaya di luar bahan bakar. Ketika beban avtur melonjak 43,6 persen, biaya non-avtur hanya meningkat 3,9 persen menjadi sekitar 1,07 miliar dolar AS.

Rasio biaya non-avtur terhadap pendapatan pun turun menjadi 59,7 persen dari sebelumnya 66,7 persen. Artinya, setiap 1 dolar AS pendapatan Garuda dibebani biaya di luar avtur sekitar 60 sen, lebih rendah dibandingkan sekitar 67 sen pada periode sebelumnya.

Total beban usaha memang naik 16,4 persen. Namun, sekitar 84 persen dari tambahan beban tersebut berasal dari kenaikan biaya avtur. Sementara beban komisi agen justru turun 6,2 persen menjadi 33,6 juta dolar AS meski pendapatan perusahaan tumbuh dua digit.

Ketiga, perseroan mencatat penurunan beban keuangan dan total pinjaman. Beban keuangan turun 11,6 persen menjadi 222,4 juta dolar AS dari 251,6 juta dolar AS. Penurunan tersebut terjadi pada beban bunga yang berasal dari liabilitas sewa, obligasi dan utang usaha.

Total pinjaman, termasuk liabilitas sewa, obligasi dan pinjaman bank, turun 4 persen menjadi 3,76 miliar dolar AS per 30 Juni 2026 dari 3,92 miliar dolar AS pada akhir 2025.

Liabilitas sewa juga turun menjadi 2,34 miliar dolar AS setelah perseroan membayar pokok sewa sebesar 158,9 juta dolar AS.

Dari sisi likuiditas, arus kas operasional Garuda tercatat positif sebesar 253,1 juta dolar AS. Sementara kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 mencapai 624,3 juta dolar AS.

Perbaikan Garuda Disorot Pemerintah

Perbaikan kinerja Garuda sebelumnya juga disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI pada Jumat (14/8).

Presiden menyebut Garuda yang sebelumnya menghadapi persoalan keuangan dan banyak pesawat tidak beroperasi kini mulai mengaktifkan kembali armadanya.

"Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi, sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung," ujar Presiden.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria pada akhir Maret 2026 mengatakan tekanan terhadap kinerja Garuda sepanjang 2025 terjadi sebelum intervensi terhadap perusahaan berjalan.

Salah satu persoalan yang dihadapi saat itu adalah banyaknya pesawat yang grounded, tetapi tetap menimbulkan kewajiban pembayaran sewa.

Dony memperkirakan dampak intervensi mulai terlihat pada kuartal I dan kuartal II 2026. Ia menekankan perbaikan perusahaan tidak cukup hanya melalui tambahan pendanaan, tetapi harus dibarengi perubahan model dan pengelolaan bisnis.

"Tidak cukup hanya dengan memberikan pendanaan, tetapi juga harus diikuti transformasi bisnis," ucapnya. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
rugi bersih pendapatan garuda indonesia avtur