Silika Kalbar Berpeluang Masuk Rantai Industri Semikonduktor

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:12 WIB
Ilustrasi tambang pasir silika di Kalimantan Barat.
Ilustrasi tambang pasir silika di Kalimantan Barat.

 

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat masuk dalam daftar provinsi yang memiliki potensi sumber daya silika di Indonesia. Mineral non-logam ini berpeluang dikembangkan menjadi bahan baku industri bernilai tambah tinggi, mulai dari kaca dan keramik hingga material untuk industri elektronik dan semikonduktor.

Namun, besarnya potensi bahan baku belum otomatis membuat Indonesia menguasai industri pengolahan silika hingga tahap lanjut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai masih ada mata rantai industri yang belum terbentuk kuat di dalam negeri, terutama pada pengolahan material dengan tingkat kemurnian dan spesifikasi tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2025 yang dipaparkan Eneng Maryani dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Keramik dan Mineral Nonlogam, Indonesia memiliki sumber daya silika mencapai 26,4 miliar ton yang tersebar di 611 lokasi.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan potensi terbesar, mencapai 74,52 persen. Sumber daya silika juga tersebar di Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Banten, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Riau.

Meski Kalbar termasuk wilayah yang memiliki potensi silika, data yang dipaparkan belum merinci jumlah sumber daya maupun lokasi spesifik di provinsi ini. Karena itu, besarnya peluang pengembangan industri di Kalbar masih perlu ditopang pemetaan cadangan, mutu bahan baku, dan kebutuhan pasar.

Nilai Tambah Terbesar Ada di Pengolahan Lanjutan

Perekayasa Ahli Utama BRIN Nadirah menjelaskan, silika memiliki rantai nilai yang panjang. Pengolahannya dapat berlanjut dari bahan baku menjadi silikon metal, electronic-grade polysilicon, kristal tunggal (single-crystal ingot), wafer semikonduktor, hingga komponen elektronik seperti chip.

Setiap tahapan membutuhkan tingkat kemurnian material, teknologi, sumber daya manusia, dan investasi yang semakin tinggi. Penguasaan proses tersebut menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya memasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari produk olahan.

“Solusi hilirisasi baru dapat dirancang dengan tepat apabila kita mengetahui secara presisi mata rantai mana yang hilang, lemah, atau masih sangat bergantung pada teknologi dan pasokan dari luar negeri,” kata Nadirah dalam diskusi kelompok terarah mengenai pemetaan rantai nilai dan arah investasi strategis industri silika di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (28/9).

Ia mengingatkan adanya risiko hollow middle trap, yakni kondisi ketika industri hulu mampu menyediakan bahan baku, tetapi industri pengolahan antara yang menghasilkan material dengan spesifikasi lebih tinggi belum berkembang kuat. Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan industri nasional untuk memasuki tahap pengolahan bernilai tambah lebih besar.

Bagi Kalimantan Barat, tantangan tersebut menjadi pertimbangan penting apabila potensi silika hendak dikembangkan menjadi basis industri pengolahan. Ketersediaan bahan baku perlu diikuti teknologi pemurnian, infrastruktur, kepastian pasar, dan keterhubungan dengan industri pengguna.

Produk Bernilai Tinggi Masih Bergantung Impor

Eneng Maryani mengungkapkan, produk turunan silika bernilai tinggi di Indonesia masih memiliki ketergantungan impor sekitar 70–100 persen, berdasarkan pemaparan dalam forum tersebut.

Kebutuhan silika dengan kemurnian tinggi di atas 99 persen disebut berada pada rentang 120.000 hingga 3,3 juta ton per tahun untuk kebutuhan yang teridentifikasi. Sementara itu, pengolahan silika dalam negeri masih banyak bertumpu pada pemurnian fisik dan belum berkembang luas ke proses pemisahan kimia.

Menurut Eneng, penguatan hilirisasi membutuhkan peningkatan skala teknologi melalui fasilitas percontohan (pilot plant), investasi peralatan dan infrastruktur, penguasaan proses lanjutan, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta kolaborasi penelitian dengan industri. Kebijakan dan insentif juga diperlukan untuk mendorong investasi pada mata rantai yang belum berkembang.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN Nugroho Adi Sasongko menambahkan, Indonesia perlu memperkuat hubungan antara lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku industri. Ketidakselarasan antara riset dan kebutuhan industri dapat membuat inovasi yang dihasilkan berhenti pada produk dengan nilai tambah terbatas.

Kolaborasi tersebut penting agar hasil penelitian dapat diterapkan dalam proses produksi, memenuhi standar industri, dan menjawab kebutuhan pasar.

Peluang Pengembangan Industri di Kalbar

Potensi silika di Kalimantan Barat membuka peluang untuk dikaji lebih jauh sebagai bagian dari strategi pengembangan industri mineral non-logam. Namun, penentuan jenis industri yang layak dikembangkan perlu mempertimbangkan karakteristik bahan baku, ketersediaan energi dan air, akses logistik, kebutuhan investasi, serta kedekatan dengan pasar.

Pengolahan untuk industri kaca dan keramik dapat menjadi salah satu segmen yang dikaji sesuai mutu bahan baku. Sementara itu, pengembangan material untuk elektronik dan semikonduktor memerlukan persyaratan kemurnian, teknologi, serta pengendalian kualitas yang jauh lebih ketat.

Pengalaman yang dipaparkan Yadvi Arma dari PT Timah Investasi Mineral menunjukkan bahwa logistik dapat menjadi kendala dalam rantai pasok silika. Perusahaan tersebut menghadapi keterbatasan sarana angkut dan kapasitas dermaga untuk mengirim bahan mentah dalam volume besar.

PT Timah Investasi Mineral kini bekerja sama memasok silika kepada industri lokal bahan dasar kaca di Kabupaten Belitung. Perusahaan juga menilai pemetaan kebutuhan industri penting agar spesifikasi bahan baku yang dipasok sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Persoalan logistik itu relevan untuk diperhitungkan dalam kajian pengembangan silika di Kalimantan Barat. Potensi sumber daya yang besar tidak cukup menjadi dasar investasi tanpa perhitungan biaya pengangkutan, kapasitas infrastruktur, mutu material, dan kepastian pembeli.

Nadirah menegaskan pengembangan ekosistem industri silika membutuhkan keterlibatan pemerintah, peneliti, industri hulu dan hilir, pengelola kawasan industri, serta akademisi. Pemetaan rantai nilai diperlukan untuk menentukan prioritas riset, teknologi yang perlu dikembangkan, dan arah investasi.

Dengan pemetaan yang lebih terperinci, Kalimantan Barat dapat menilai peluang pengembangan silika berdasarkan keunggulan bahan baku dan kebutuhan industri. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan produksi mineral, melainkan memastikan pengolahan di dalam negeri mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat industri lokal, dan membuka peluang kerja. *

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
industri semikonduktor ilika Kalimantan Barat hilirisasi silika mineral non-logam BRIN