PONTIANAK POST – Utang luar negeri (ULN) Indonesia terus meningkat dalam tiga bulan terakhir hingga mencapai USD459,3 miliar atau Rp8.267.400.000.000.000 (asumsi kurs dolar 18 ribu rupiah) pada Agustus 2026. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi dalam deret data Januari–Agustus 2026, sekaligus tumbuh 5,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, posisi ULN Indonesia meningkat dari USD453,4 miliar pada Juni menjadi USD454,8 miliar pada Juli, lalu kembali naik menjadi USD459,3 miliar pada Agustus. Dalam dua bulan terakhir saja, utang bertambah USD5,9 miliar.
Kenaikan tersebut terutama ditopang sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral. Sebaliknya, ULN swasta justru mengalami kontraksi, mengindikasikan bahwa pertumbuhan utang nasional tidak berlangsung merata di seluruh sektor peminjam.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, posisi ULN pemerintah pada Agustus 2026 mencapai USD220,9 miliar, tumbuh 3,3 persen secara tahunan.
“Perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ujar Denny, Rabu (15/10).
Pemerintah, lanjut dia, berkomitmen menjaga kredibilitas pengelolaan utang dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga tepat waktu. Pengelolaan ULN juga dilakukan secara hati-hati, terukur, dan fleksibel untuk memastikan pembiayaan yang efisien dan optimal.
Berdasarkan penggunaannya, ULN pemerintah dialokasikan antara lain untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen. Berikutnya, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,7 persen; jasa pendidikan 16,2 persen; konstruksi 11,4 persen; serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.
Di sisi lain, peningkatan ULN bank sentral terutama dipengaruhi kenaikan kepemilikan nonresiden pada instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Menurut Denny, perkembangan tersebut sejalan dengan strategi operasi moneter untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Utang Swasta Menyusut
Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta pada Agustus 2026 tercatat USD195,6 miliar, turun 0,8 persen secara tahunan. Kontraksi terjadi pada kelompok korporasi nonkeuangan sebesar 0,8 persen dan lembaga keuangan sebesar 0,6 persen.
ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut mencakup 80,5 persen dari total ULN swasta.
BI menyatakan struktur ULN Indonesia tetap sehat karena dikelola dengan prinsip kehati-hatian. Indikatornya, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 30,9 persen pada Agustus 2026. Struktur utang juga didominasi utang berjangka panjang, baik pada sektor pemerintah maupun swasta.
Meski demikian, kenaikan posisi ULN perlu dicermati bersama kemampuan ekonomi menghasilkan penerimaan dan membiayai kewajiban pembayaran utang. Besarnya utang tidak berdiri sendiri sebagai ukuran risiko; penggunaannya, biaya pinjaman, jatuh tempo, serta kemampuan membayar juga menentukan keberlanjutan pengelolaannya. (mim/dio)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro