PONTIANAK POST - Pengepungan di Bukit Duri karya sutradara Joko Anwar bakal tayang di bioskop tanah air pada 17 April mendatang. Banyak elemen menarik yang terdapat dalam film tersebut, misalnya isu kesejahteraan guru atau tenaga pengajar dan isu rasial. Isu penting itu dibungkus dengan film bergenre thriller yang menegangkan, namun dijanjikan Joko mudah diikuti alur ceritanya.
Joko menggandeng sejumlah talenta muda dalam cerita thriller berlatar sekolah itu. Misalnya Morgan Oey, Hana Malasan, Endy Erfian, Omara Esteghlal, Shindy Huang, Fatih Unru, dan Satine Zaneta. Jawa Pos berkesempatan ngobrol dengan sutradara asal Medan itu beberapa waktu lalu.
Bagaimana cerita proses perjalanan Joko memilih jajaran pemain film Pengepungan di Bukit Duri?
Yang terlama dari proses produksi Pengepungan di Bukit Duri itu casting-nya, empat bulan. Kami buka casting, mereka datang. Semua purely casting. Setiap pemain yang terpilih di sini mengalahkan setidaknya 20 orang.
Apa saja yang menjadi kriteria dan bahan pertimbangan Joko memilih mereka?
Baca Juga: Sejarah Ketupat: Dari Dakwah Sunan Kalijaga hingga Tradisi Lebaran
Tentu harus yang punya skill dan punya etika kerja yang baik. Terus, mereka harus aware dengan apa yang terjadi dengan negeri ini.Mereka adalah orang-orang yang ketika aku audisi bukan sekadar disuruh baca skrip, tapi juga aku interview satu-satu.
Dalam interview itu, apa yang Joko tanyakan kepada mereka?
Aku tanya cerita mereka sebelum menjadi pemain film, pengalaman apa yang sudah dilalui. Lalu, juga pandangan mereka terkait situasi Indonesia sekarang.
Ada cerita menarik selama proses interview itu?
Ketika di-interview mereka ngomongnya berkaca-kaca, berapi-api, for real,gitu. Dan ternyata mereka punya kegelisahan besar yang sama sepert yang aku rasakan tentang Indonesia.
Dari hasil interview itu, jawaban siapa yang paling membekas?
Aku baru tahu kalau Hana Malasan itu bapak dan ibunya pengajar. Jadi, dia punya concern sangat besar tentang itu. Karena selama main film, Hana belum pernah ada hubungan dengan guru, pendidikan, segala macam.
Jadi, ketika syuting itu aku dikelilingi orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama. Lalu, Omara yang ternyata dia mahasiswa filsafat. Ketika ngobrol, dia sangat asertif banget menyuarakan yang menjadi kegelisahan dia. (jp)
Editor : A'an