PONTIANAK POST - Film Komang turut meramaikan bioskop tanah air di momen libur Lebaran tahun ini. Proyek tersebut diadaptasi dari kisah nyata perjalanan komika Raim Laode bertemu pujaan hati yang kini menjadi istrinya, Komang Ade Widiandari.
Mulai dari pertemuan awal hingga menikah. Komang sendiri menjadi inspirasi Raim membuat lagu Komang yang hit.
Film tersebut menunjukkan kesetiaan Komang menemani Raim merintis karier sebagai komika daerah hingga berhasil meraih popularitas seperti sekarang.
Film yang dibintangi oleh Kiesha Alvaro dan Aurora Ribero tersebut tidak hanya menyajikan sebuah drama percintaan. Namun, juga menunjukkan toleransi yang tinggi antarbudaya maupun agama.
Raim dan Komang memiliki latar sosial yang berbeda. Raim memiliki darah Sulawesi Tenggara dan beragama Islam. Sementara, Komang berasal dari Bali dan memeluk agama Hindu sebelum memutuskan untuk mualaf.
Perbedaan keyakinan menjadi salah satu hambatan terbesar mereka untuk bersatu. Walau begitu, keduanya tetap menghormati perbedaan itu.
Dalam perjalanan mendapatkan hati Komang, Raim rutin mengirimkan dupa untuk keluarga sang kekasih secara diam-diam. Bahkan, ketika orang tua Komang telah menerima lamaran dari pria lain yang ingin menikahi putri mereka.
“Yang kalian lihat Ode (Raim, Red) kirim dupa setiap hari itu bukan film, tapi betul-betul kisah nyata. Dan itu masih dilakukan sampai sekarang,” ucap Raim, beberapa waktu lalu.Kebaikan Raim juga menyadarkan calon ibu mertuanya bahwa perbedaan bukan sebuah penghalang atau masalah besar.
Raim menyatakan bahwa perbedaan sejatinya merupakan momen untuk menunjukkan persatuan, kerukukunan, dan keharmonisan di Indonesia.
“Di saat orang-orang menggunakan perbedaan untuk saling serang, tapi Ode dan Komang justru merayakan perbedaan, merayakan takdir,” jelas komika dan musisi 30 tahun itu.
Sutradara Naya Anindita mengungkapkan kesulitan yang dihadapi selama proses produksi. Yakni, merangkum perjalanan cinta Raim dan Komang selama 7 tahun dalam medium film berdurasi 107 menit.
“Sulit banget memberikan porsi karakter dan memberikan mereka ruang untuk mengekspresikan emosinya di setiap scene,” ujar Naya.
Naya juga harus menambahkan elemen-elemen drama agar penonton bisa ikut merasakan apa yang dialami kedua tokoh utama tersebut. Tentunya, dengan tidak merusak cerita asli. “Saya harus memberikan bumbu-bumbu biar penonton ikutan gemas,” tutur Naya.
Cerita ringan dieksekusi dengan baik oleh Naya dan disempurnakan kualitas akting para pemain, terutama Kiesha dan Aurora. Mereka menjiwai peran masing-masing, yang membuat film Komang terasa istimewa.
Logat bahasa daerah kedua aktor utama tersebut sangat layak diacungi jempol, candaan atau rayuan yang dilontarkan juga sangat menggelitik dan terdengar natural. (shf/len)
Editor : Miftahul Khair