PONTIANAK POST - Aktris Michelle Ziudith mengambil langkah berani dalam film terbarunya, Angel Pol, dengan menolak lipsync dan memilih untuk menyanyikan sendiri seluruh lagu yang dibawakannya di film tersebut.
Komitmennya ini membuatnya harus belajar menyanyi secara serius, terutama karena lagu-lagunya berbahasa Jawa Timur-an yang tidak ia kuasai.
"Aku di sini nyanyi 4 lagu. 3 lagu original, 1 lagu dari Happy Asmara. Aku pelajari lagu-lagunya agak lama ya. Sebelum syuting bahkan. Aku extra effort untuk judul kali ini," ujar Michelle dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (17/6).
Michelle yang berasal dari Medan mengaku memiliki pengalaman sebelumnya dengan bahasa Jawa, namun lebih kepada dialek Jawa Solo atau Krama.
Kali ini, ia dihadapkan pada tantangan berbeda dengan dialek khas Jawa Timuran, yang menuntut pelafalan dan intonasi yang benar.
"Aku kelahiran Medan. Aku pernah syuting pakai bahasa Jawa tapi Jawa Kromo, Solo. Tapi ini bahasa Jawanya Jawa Timuran. Aku harus belajar lagi pengucapannya," ucapnya.
Sementara itu, Jolene Marie yang berperan sebagai Odelia mengungkapkan kegembiraannya bisa terlibat dalam film yang sarat nuansa budaya lokal ini. Ia bahkan menyatakan ketertarikannya untuk mendalami budaya Jawa lebih dalam lagi di proyek berikutnya.
"Keluargaku ada yang orang Jawa. Aku senang banget dengerin lagu Jawa. Bahkan aku sempat berpikir, bisa nggak ya di film selanjutnya aku menari Jawa," tuturnya.
Aktor Bhisma Mulia menjelaskan perannya sebagai Jati, seorang mahasiswa seni rupa kritis yang dicabut beasiswanya karena melawan birokrasi kampus yang korup melalui karya seni.
Tokohnya digambarkan sebagai sosok pemberani dan tanggap terhadap ketidakadilan.
"Ketika Lastri ada masalah, aku maju untuk selesaikan. Ketika ada masalah terhadap orang di sekitarnya, dia tidak berpikir panjang, langsung maju untuk selesaikan saat itu juga," ucap Bhisma.
Film Angel Pol yang akan tayang mulai 19 Juni 2025 di bioskop ini mengusung genre drama komedi. Ceritanya berfokus pada dua anak muda yang terpinggirkan oleh sistem yang tidak adil: Jati, mahasiswa idealis, dan Lastri, gadis desa yang jadi korban penipuan saat mencoba mencari pekerjaan di kota.
Pertemuan keduanya memicu perjalanan baru saat mereka membentuk grup orkes dangdut koplo. Dimulai dari panggung jalanan, grup ini perlahan dikenal hingga akhirnya tampil di tempat megah, membawa semangat dan kritik sosial melalui musik rakyat. (mif/jpc)
Editor : Miftahul Khair