PONTIANAK POST - Aktris Michelle Ziudith mengungkapkan pengakuan mengejutkan saat menghadiri konferensi pers film Assalamualaikum Baitullah di kawasan Epicentrum, Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku sempat merasa takut menerima peran sebagai Amira, sosok perempuan tangguh yang menghadapi cobaan hidup hingga hampir menyerah.
Perempuan berusia 30 tahun ini mengakui bahwa karakter Amira sangat berbeda dari dirinya dan menuntut kesiapan emosional yang tinggi.
"Jujur, saat ditawari film ini, aku sempat mikir ini bukan aku banget dan aku takut untuk menjalaninya. Perjalanan Amira ini bikin aku takut, menjadi Amira membutuhkan emosional dan kepekaan yang tinggi,” ujar Michelle dikutip dari Jawapos.com.
Peran ini menjadi tantangan baru bagi Michelle dalam karier aktingnya. Sebelumnya, ia belum pernah memerankan karakter dengan kedalaman emosi seperti Amira.
Untuk mendalami tokoh tersebut, Michelle membaca naskah hingga 12 kali agar benar-benar memahami setiap lapis emosi yang dibutuhkan.
"Aku punya kepercayaan diri dan berserah diri untuk menerima layer jiwa Amira yang cukup dalam. Aku pasrah dalam momentum ini yang pastinya sangat menguras energi, terutama mental," ungkapnya.
Ia juga mengaku mengalami tekanan mental selama proses syuting karena begitu beratnya peran yang dimainkan.
"Aku tidak baik-baik saja saat syuting. Karena ternyata karakter Amira ini perpanjangan tangan dari yang dirasakan sama perempuan yang terlihat kuat, baik, dan sukses hidupnya,” jelas Michelle.
Film Assalamualaikum Baitullah, adaptasi dari novel karya Asma Nadia, tidak hanya menjalani proses syuting di Indonesia, tetapi juga di Tanah Suci.
Film ini menyoroti keikhlasan para tokohnya dalam menerima takdir Tuhan, sekaligus menjadi bentuk refleksi spiritual.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu menyebut film ini membawa pesan kekuatan yang lahir dari kesunyian batin dan menjadi ruang penyembuhan, khususnya bagi perempuan yang sedang mengalami ujian hidup.
"Di kesunyian Amira, ada kekuatan yang diam-diam menyembuhkan. Itulah yang ingin kami bagikan, sebuah ruang bagi perempuan untuk berhenti sejenak, dan percaya lagi," tutur Hadrah. (mif/jpc)
Editor : Miftahul Khair