PONTIANAK POST - Film Superman karya James Gunn ramai diperbincangkan karena alur ceritanya diduga mencerminkan konflik Israel–Palestina. Dalam film, Lex Luthor memicu perang antara dua negara fiktif: Bovaria dan Jarhanpur. Superman turun tangan menghentikan Bovaria, negara kuat yang menyerang tetangganya.
Sebagian warganet dan pengamat politik menilai narasi ini sebagai alegori konflik Timur Tengah. Komentator sayap kiri Hasan Piker bahkan menyebut film ini sebagai “dua jam sepuluh menit f*** terhadap Israel,” dalam unggahan YouTube-nya. Ia menuding film ini jelas menyindir Israel dan menggambarkan Palestina sebagai korban.
Aktivis pro-Palestina pun menyambut film ini sebagai kritik terhadap kebijakan Israel, terutama setelah serangan militer di Gaza. Namun, klaim ini diragukan karena naskah Superman sudah rampung pada Mei 2023, sebelum konflik terbaru meletus.
Menanggapi isu tersebut, James Gunn menegaskan filmnya tidak berkaitan dengan Timur Tengah. Dalam wawancara dengan The Times of London, Gunn berkata, “Konflik saat itu belum terjadi. Cerita ini murni fiksi tentang invasi negara kuat terhadap negara lemah.” Meski sudah dibantah sang sutradara, perdebatan belum mereda dan terus berkembang di media sosial. Apalagi, film ini terus meraih perhatian luas di box office. (jpc)
Editor : Hanif