PONTIANAK POST – Berdekade-dekade dari sekarang, Ozzy Osbourne yang berpulang pada Selasa (22/7) di Birmingham, Inggris, dalam usia 76 tahun bakal tetap relevan. Selama masih ada depresi, selama masih ada kekecewaan—entah karena ketimpangan ekonomi, tekanan sosial, atau politik yang busuk.
Sebab, latar itulah yang mengantarkan Ozzy dan bandnya Black Sabbath pada rumusan yang kemudian dikenal sebagai heavy metal: riff keras dan kasar, lirik yang menggambarkan sisi gelap hidup dan manusia, serta teatrikal edan di atas panggung.
“Musik Pink Floyd untuk anak-anak kaya kuliahan. Kami sepenuhnya ada di kutub yang berbeda,” kata Ozzy dalam sebuah kesempatan, seperti dikutip dari The Guardian, kemarin (23/7).
Dan, kutub tempat Ozzy berada itu tidak dibuat dengan sengaja, tetapi memang secara organik terbentuk. Rocker yang pernah melejit bersama reality show di MTV bertajuk The Osbournes itu lahir dari keluarga pekerja, pernah mengalami pelecehan dari dua seniornya di sekolah, dan akhirnya drop out pada usia 15 tahun karena disleksia.
Hidup menghajarnya begitu keras. Bahkan sebagai penjahat pun ia gagal. Televisi yang akan ia gondol justru menjatuhi kepalanya. Baju yang ia curi ternyata pakaian bayi.
Konser Perpisahan
Ozzy meninggal setelah enam tahun bertarung melawan Parkinson—penyakit yang menggerogoti fisik dan pergerakannya.
Bahkan, dalam konser reuni yang menjadi ajang pamitan Black Sabbath—yang formasi awalnya terdiri dari Ozzy Osbourne (vokal), Tony Iommi (gitar), Geezer Butler (bass), dan Bill Ward (gitar)—ayah enam anak tersebut menyanyi dalam posisi duduk. Beberapa kali juga ia tampak kesulitan berbicara.
Tak ada aksi gigit kelelawar hidup, tentu saja. Tapi, mengutip AFP, semangat khasnya di hadapan 40 ribu penonton di Villa Park, Birmingham, menyala. Suami Shannon Osbourne itu terlihat demikian berbahagia setelah melewati masa-masa pengobatan yang sulit.
“Terima kasih untuk dukungan kalian selama ini. Dari hati saya yang paling dalam, saya ucapkan terima kasih,” katanya kepada penonton dalam konser “Back To The Beginning” yang dihelat 5 Juli lalu itu.
Dipuji, Dicerca
Heavy metal yang dipioniri Black Sabbath sebenarnya lahir dari konsep sederhana. Adalah Bill Ward yang pertama mengapungkannya: kalau banyak orang suka film horor, kenapa tidak mereka ciptakan saja versi musik rock-nya?
Maka, band yang sebelumnya bernama Earth itu pun meninggalkan heavy blues yang biasa mereka mainkan. Sound mereka kencangkan, dengan suara distorsi yang mendominasi. Lirik mereka tajamkan, yang dipetik dari lingkungan pekerja tempat mereka dibesarkan di Birmingham.
Itu yang membuat Ozzy dkk terasa membumi. Kemarahan mereka pada politisi culas dalam “War Pigs”, misalnya, adalah kemarahan orang banyak. Depresi yang mereka tuturkan lewat “Paranoid” adalah juga yang dirasakan banyak orang.
Album kedua mereka, Paranoid (1970), adalah penanda zaman. Bahwa sebuah genre telah lahir, serupa Nirvana dengan grunge-nya dua dekade berselang.
Tapi, kritik dan cercaan tak pernah sepi, bahkan ketika Ozzy bersolo karier setelah dipecat Black Sabbath pada 1979. Mulai dari dituding penganjur satanisme sampai dianggap pendorong bunuh diri.
Ozzy terus membantah. Dreamer, hits ketiga dari album solonya yang dirilis pada 2001, Down to Earth, ikut menjawab tudingan itu.
Bagaimana bisa orang yang dituduh mempraktikkan satanisme bisa menulis,
“I’m hoping that the dawn will bring a sign // A better place for those who will come after us this time.”(ttg)
Editor : Hanif