PONTIANAK POST - Influencer olahraga Canggih Fitra melontarkan kritik tajam terhadap Timothy Ronald. Selain menudingnya telah menghina komunitas gym dan fitness, Canggih juga mengungkap dugaan kerugian besar yang dialami banyak orang akibat mengikuti kelas akademi kripto milik Timothy, dengan total mencapai puluhan miliar rupiah.
Dalam podcast bersama Deddy Corbuzier, Canggih mengaku siap mempertanggungjawabkan semua pernyataannya karena memiliki bukti kuat. Ia baru mengetahui besarnya kerugian tersebut setelah banyak korban menghubunginya untuk curhat, terutama sejak dirinya aktif mengkritik Timothy. “Ternyata banyak orang yang mau sikat ini orang, banyaknya luar biasa. Salah satunya orang yang rugi karena kelas akademi kripto dia. Mereka sangat serius sampai membuat paguyuban,” kata Canggih.
Menurut Canggih, banyak korban yang mengikuti arahan Timothy dalam membeli dan menahan aset kripto. Namun ketika harga anjlok, Timothy justru dianggap lepas tangan. “Ketika rungkad, dia bilang, ‘kan lo yang nekan tombolnya, gua cuma menyarankan.’ Padahal ada yang rugi jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta,” ujarnya.
Canggih memperkirakan total kerugian yang dialami para korban mencapai lebih dari Rp20 miliar. “Ini orang gila sih, ini orang harus disikat karena kerugian korban-korbannya puluhan miliar. Ngeri banget,” tegasnya.
Sebelum kasus kripto ini mencuat, Canggih termasuk salah satu pihak yang getol menghantam Timothy karena pernyataannya yang dinilai merendahkan komunitas gym. Ia mengaku sudah mengetahui video tersebut sebelum viral, namun baru terpancing untuk menanggapi setelah tim Timothy sendiri memotong dan menyebarkan ulang video itu di media sosial.
“Kenapa gua kontenin? Karena video itu di-up kembali dipotong sama clipper Timothy Ronald. Jadi memang sengaja untuk disebar. Harus dirujak ini,” ujarnya. Bagi Canggih, ucapan Timothy bukan lagi sekadar opini, melainkan penghinaan terhadap hobi orang lain. Ia bahkan menyebut Timothy juga pernah menjelek-jelekkan gamer dan penonton sepak bola. Karena itu, ia merasa perlu bersuara agar tidak ada komunitas lain yang kembali direndahkan. (jpc)
Editor : Hanif