PONTIANAK POST - Aktor Nicholas Saputra kembali memikat layar lebar lewat film musikal "Siapa Dia", karya terbaru Garin Nugroho yang merangkai sejarah bangsa lewat kisah empat generasi. Film ini bukan sekadar hiburan, melainkan perjalanan menyelami ingatan kolektif Indonesia, dari panggung Komedi Stamboel, perjuangan kemerdekaan, Orde Baru, hingga keresahan generasi kini.
Tokoh utama bernama Layar, seorang sutradara muda yang sedang kebingungan mencari ide film musikal. Dalam kebuntuannya, ia menemukan sebuah koper tua milik keluarganya. Koper itu berisi surat, foto, dan barang peninggalan kakek buyut, kakek, hingga ayahnya. Dari sanalah cerita bergulir. Layar menyadari bahwa kisah-kisah leluhurnya bukan hanya kenangan, melainkan cerminan perjalanan bangsa.
Film ini terbagi ke dalam empat kisah besar. Bagian pertama membawa penonton ke era 1920-an ketika sandiwara Komedi Stamboel menjadi hiburan populer. Nicholaas, kakek buyut Layar, jatuh cinta pada diva panggung bernama Nurlela (Monita Tahalea). Namun cinta mereka kandas tragis ketika Nurlela dituduh mata-mata dan dihukum mati. Kehilangan itu meninggalkan luka sekaligus semangat baru: seni pertunjukan beralih dari panggung ke layar lebar.
Kisah berlanjut pada masa perjuangan kemerdekaan, lewat sosok Kabel, kakek Layar, yang menjadi kurir pesan rahasia. Ia bersinggungan dengan Mui (Giselle Anastasia), perempuan Tionghoa pemberani yang berorasi melawan penjajah. Cinta dan perlawanan bertemu, namun berakhir dengan perpisahan pahit saat Mui diasingkan. Kabel memilih melanjutkan perlawanan lewat seni, melukis poster film dengan pesan-pesan terselubung.
Bagian ketiga terasa paling muram, menggambarkan ayah Layar, Putra, yang hidup di tahun 1988. Sebagai wartawan foto dan penulis skenario, Putra menyaksikan langsung represi Orde Baru. Ia jatuh hati pada Sari (Dira Sugandi), aktivis jalanan, yang kemudian tewas ditembak misterius. Trauma itu membuat Putra terpuruk, hingga kehadiran Indah (Cindy Nirmala), seorang penjaga persewaan komik, perlahan menyadarkannya. Adegan dengan latar Kantor Berita Antara di Braga, Bandung, menjadi penanda kelamnya zaman itu.
Akhirnya cerita kembali ke masa kini. Layar masih berusaha menyusun filmnya, terhimpit tekanan dari tim produksinya. Konflik personal membuatnya sadar bahwa kisah dalam koper tidak cukup. Ia harus menuliskan ceritanya sendiri, dari pengalaman hidup yang nyata. Film ditutup dengan kesadaran bahwa "film adalah gambar hidup" yang harus lahir dari keberanian menjalani hidup, bukan sekadar mewarisi cerita.
Nicholas Saputra tampil memukau dengan memerankan empat karakter berbeda lintas generasi. Kehadiran Monita Tahalea, Happy Salma, Widi Mulia, hingga Ariel Tatum memberi warna kuat dalam setiap fragmen cerita. Lagu-lagu klasik seperti Nurlela, Badai Pasti Berlalu, Panggung Sandiwara, hingga Payung Fantasi menyatu organik dengan narasi, menghadirkan nostalgia sekaligus mempertegas emosi. (ant)
Editor : Hanif