PONTIANAK POST – Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi kebangkitan film animasi karya anak bangsa.
Salah satu yang paling ditunggu adalah Panji Tengkorak, garapan sutradara Daryl Wilson, yang resmi tayang di layar bioskop Tanah Air pekan ini.
Daryl mengungkap, proses produksi film ini memakan waktu hingga tiga tahun dan melibatkan ratusan talenta muda berbakat.
“Jadi, film ini udah digodok sejak tiga tahun lalu dengan melibatkan 250 animator lebih,” ujarnya dikutip dari jawapos.com saat gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan.
Adaptasi Komik Lawas
Panji Tengkorak diadaptasi dari komik legendaris era 1960-an karya Hans Jaladara. Menurut Daryl, tantangan terbesar adalah menyajikan cerita baru yang tetap relevan bagi penonton zaman sekarang tanpa meninggalkan identitas asli.
“Kan ada calon penonton yang kenal dan ada juga yang nggak kenal dengan Panji. Jadi, tantangannya gimana kami harus menghadirkan cerita Panji yang fresh dengan DNA dari Pak Hans tetap terjaga,” tutur Daryl.
Lebih dari sekadar film, Daryl menyebut karya ini menjadi wadah bagi para kreator untuk bereksperimen.
“Banyak elemen yang kami coba. Jadi, bukan sekedar kerja keras, tapi ini tempat kami mengasah kreativitas,” katanya.
Gaya Animasi 2D dengan Nuansa Gelap
Film ini menggunakan teknik animasi 2D yang dipadukan matte painting. Produser Frederica menjelaskan, pemilihan gaya tersebut dilakukan dengan pertimbangan khusus.
“Karena didasari pemikiran ini seperti animasi Jepang. Kalau dibikin 3D terlalu cute,” ucapnya.
Frederica menambahkan, Panji Tengkorak sarat dengan adegan aksi penuh darah yang menuntut visual kelam dan berani. Jika menggunakan 3D, nuansa tersebut dikhawatirkan hilang.
“Malah jadi kayak Kung Fu Panda nanti. Gorenggak dapat, kami nggak ngerasa kalau 3D bisa divisualkan dapat ke sana. Jadi, ini keputusan yang memang kami ambil bersama tim,” ungkapnya. (*)
Editor : Miftahul Khair