PONTIANAK POST – Kreator konten kuliner Bobon Santoso mengumumkan rencananya untuk pensiun dari YouTube sekaligus melepas akun miliknya yang telah memiliki hampir 18 juta subscriber dengan harga Rp20 miliar.
Melalui platform Instagram pribadinya (5/2), Bobon Santoso menyampaikan bahwa dirinya memutuskan untuk pensiun dari platform YouTube pada tahun ini.
“Tahun ini gw memutuskan untuk pensiun di platform Youtube. Akunn hamper 18 juta pelanggan mau gw jual Rp20 miliar. Semoga laku segera ya. Kalo belum laku gw tar pertimbangkan lagi gimana. Makasih,” tulisnya.
Informasi tersebut kemudian mendapat perhatian dari warganet melalui platform X (6/2). Akun @bardanslm menilai bahwa rencana penjualan akun YouTube Bobon Santoso masih dapat dianggap masuk akal apabila ia tetap terlibat dalam pembuatan konten, dengan skema bekerja untuk pihak pembeli dan menerima bayaran sebagai kreator.
“Ini masuk akal kalau Bobon masihmau bekerja ke orang yang beli channel tersebut, jadi masih ngonten tapi jatuhnya digaji oleh pemilik channel,” tulisnya.
“Tapi kalau rencananya jual-putus terus dia pergi, nama channelnya aja Bobon Santoso, yang beli lalu mau diapain channelnya,” imbuhnya.
Ia juga berpendapat bahwa apabila kanal YouTube mengalami pergantian nama dan perubahan konsep sehingga harus membangun niche dari awal, maka lebih masuk akal untuk memulai kanal baru.
Dengan modal sebesar Rp20 miliar, dinilai sangat memungkinkan untuk membangun proyek besar di YouTube dalam waktu satu hingga dua tahun.
“Kalau ganti nama channel, ubah konsep, bangun niche dari awal lagi, menurut saya mending bangun channel youtube dari nol. Apalagi dengan modal 20 M sangat masuk akal dalam 1-2 tahun bisa buat something big.”
Lebih lanjut, ia membagikan pengalaman pribadinya pernah membeli akun Instagram dengan nilai puluhan juta rupiah sekitar enam tahun lalu.
Pengalaman itu membuatnya enggan kembali membeli akun media sosial, karena menurutnya membangun audiens, niche, dan karakter akun secara mandiri jauh lebih efektif.
Ia menilai penggunaan iklan dapat membantu mempercepat jangkauan dan pertumbuhan akun, sementara kekuatan interaksi dengan audiens tetap bisa tercipta meski tanpa jumlah pengikut yang besar, terutama jika audiens yang dibangun bersifat terarah dan relevan untuk kebutuhan bisnis.
“Jadi ingat saya beli akun Instagram 6 tahun lalu harga puluhan juta. Sejak pengalaman itu saya anti beli-beli akun lagi. Karena ternyata memang mending bangun audience sendiri, bangun niche sendiri, bangun ciri khas sendiri. Gunakan ads untuk mempercepat reach dan perkembangan akun. Lagipula tanpa followers besar kitab isa engage ke audience, akunnya bisa sangat powerfull untuk jualan apalagi followernya targeted. Just my opinion,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair