PONTIANAK POST – Dunia musik kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah hip-hop setelah Afrika Bambaataa meninggal dunia di Pennsylvania, Amerika Serikat, Kamis (9/4) waktu setempat.
Legenda hip-hop yang dikenal sebagai salah satu “Bapak Pendiri” budaya hip-hop itu wafat pada usia 68 tahun akibat kanker prostat.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga melalui pengacaranya.
Kepergian Bambaataa memicu gelombang belasungkawa dari keluarga, sahabat, serta penggemar musik di berbagai negara.
Banyak musisi dan pecinta hip-hop mengenang kontribusinya dalam membentuk genre musik yang kini berkembang menjadi fenomena budaya global.
Namun, perjalanan hidup Bambaataa juga diwarnai kontroversi pada tahun-tahun terakhirnya.
Jejak Sang Maestro dari South Bronx
Lahir dengan nama Lance Taylor pada 1957, Bambaataa tumbuh besar di kawasan South Bronx, New York City.
Masa mudanya dihabiskan di lingkungan yang saat itu menghadapi krisis ekonomi dan sosial.
Di tengah kondisi tersebut, minatnya pada musik tumbuh melalui koleksi piringan hitam milik ibunya.
Pada era 1970-an, Bambaataa mulai dikenal sebagai DJ yang aktif dalam pesta-pesta jalanan di lingkungan Bronx.
Namanya semakin melambung setelah merilis lagu ikonik Planet Rock pada 1982.
Karya tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan musik hip-hop dan electro.
Bersama DJ Kool Herc dan Grandmaster Flash, Bambaataa kerap disebut sebagai tiga pilar utama yang membangun fondasi budaya hip-hop.
Rapper Fat Joe bahkan pernah menyebut ketiganya sebagai tokoh yang membentuk seluruh budaya hip-hop modern.
Revolusi Musik dan Zulu Nation
Keunikan Bambaataa terletak pada kemampuannya memadukan berbagai genre musik dalam permainan DJ-nya.
Ia menjadi salah satu pelopor penggunaan beat breaks serta mesin drum ikonik Roland TR-808 drum machine.
Gaya bermusiknya yang cepat dan eksperimental mengubah wajah pesta-pesta jalanan di New York.
Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada musik.
Bambaataa juga mendirikan komunitas seni dan budaya Universal Zulu Nation.
Organisasi tersebut lahir dari gagasan menggunakan hip-hop sebagai sarana menyebarkan pesan perdamaian dan persatuan.
Dengan slogan “peace, love, unity, and having fun,” Zulu Nation berupaya meredam konflik antar-geng di lingkungan Bronx.
Komunitas ini kemudian berkembang menjadi gerakan global yang merangkul berbagai kalangan pecinta hip-hop di seluruh dunia.
Bayang-Bayang Kontroversi
Di balik pengaruh besar yang ditinggalkannya, reputasi Bambaataa sempat tercoreng oleh kontroversi serius.
Pada 2016, aktivis Ronald Savage menuduh Bambaataa melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya ketika masih remaja pada dekade 1980-an.
Tuduhan tersebut kemudian memicu sejumlah pria lain untuk menyampaikan pengalaman serupa.
Bambaataa membantah keras seluruh tuduhan tersebut.
Meski demikian, organisasi Universal Zulu Nation sempat merilis surat terbuka yang menyampaikan permintaan maaf kepada para penyintas.
Organisasi itu juga mengakui bahwa sebagian anggotanya mengetahui dugaan kasus tersebut namun memilih untuk bungkam selama bertahun-tahun.
Kini, Afrika Bambaataa telah tiada.
Ia meninggalkan warisan musik yang besar dalam sejarah hip-hop, sekaligus catat **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro