PONTIANAK POST - Ikon K-pop BTS kembali mengguncang dunia melalui konser comeback di Gwanghwamun Square, Seoul, pada 21 Maret 2026. Momentum ini menandai berakhirnya masa vakum panjang mereka akibat wajib militer.
Antusiasme penggemar tak terbendung hingga menyebabkan seluruh hotel di pusat kota Seoul habis dipesan. Bahkan, banyak fans internasional rela menginap di jjimjilbang demi melihat sang idola.
Album ke-10 BTS bertajuk Arirang sukses memuncaki tangga lagu di Amerika Serikat, Jepang, hingga Inggris. Kesuksesan ini menjadi fondasi kuat bagi tur dunia mereka.
Mengutip Aljazeera, Sabtu (1/5) tur dunia BTS 2026 diprediksi akan meraup pendapatan fantastis sebesar 1,4 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan Rp21,8 triliun dari 80 pertunjukan di 23 negara.
Baca Juga: Album BTS ARIRANG Raih Platinum di Prancis, Pecahkan Rekor Penjualan Tercepat
Lonjakan Pariwisata dan Penjualan Merchandise
Data Kementerian Kehakiman menunjukkan jumlah turis asing naik 32,7 persen pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Fenomena ini didorong oleh fans yang ingin menyaksikan kepulangan BTS secara langsung.
Penjualan merchandise resmi di outlet bebas bea bahkan melonjak hingga 430 persen. Pendapatan department store besar di Seoul juga terkerek naik hingga 48 persen dalam sepekan.
Pemerintah Korea Selatan menganggap konser ini sebagai etalase pengaruh budaya nasional yang strategis. Dukungan logistik dan keamanan dikerahkan secara masif untuk menjamin kelancaran acara.
Baca Juga: Jungkook BTS Minta Maaf, Ada Gangguan Teknis Audio Saat Tur Arirang di Tampa
Presiden Lee Jae Myung kini mengusung visi "Hallyu 4.0" dengan target ekspor budaya mencapai Rp530 triliun. Sektor budaya kini dipandang sebagai industri strategis nasional, bukan sekadar pasar konsumsi.
Tantangan Reformasi Industri Hiburan
Meski sukses besar, industri K-pop tetap dibayangi isu kontrak yang mengekang dan tekanan mental. Isu "standar kecantikan" dan operasi plastik juga terus menjadi perdebatan hangat di masyarakat.
Kini, tantangan terbesar agensi seperti Hybe adalah menjaga keseimbangan antara identitas lokal dan selera global. "Industri harus berevolusi dalam sistem dan infrastruktur untuk mengimbangi minat dunia," ujar peneliti KCTI, Yang Ji-hoon.(*)
Editor : Uray Ronald