PONTIANAK POST - Setiap orang punya cara berbeda untuk menghadapi luka. Ada yang memilih diam, ada yang memendam, dan ada pula yang mengubah rasa sakit menjadi bahan tawa.
Film Suka Duka Tawa memperlihatkan bagaimana luka keluarga justru bisa menjadi sumber kekuatan sekaligus konflik baru dalam hidup seseorang.
Karier Komika Berjalan Ditempat
Tokoh utama Tawa (Rachel Amanda) merupakan komika muda yang kariernya berjalan di tempat. Dia harus berjuang mencari pemasukan demi melanjutkan hidup bersama sang ibu, Cantik (Marissa Anita).
Baca Juga: Nagita Slavina Sebut Film Timur Punya Drama Emosional yang Sangat Kuat
Sejak kecil, Tawa ditinggalkan ayahnya, Pak Hasan alias Keset (Teuku Rifnu Wikana), pelawak senior yang pernah berada di puncak kejayaan dunia hiburan.
Karier Melesat
Berbekal luka masa lalu itu, Tawa menjadikan pengalaman pahit hidupnya sebagai materi stand-up comedy. Ternyata, materi yang terasa jujur tersebut justru meledak dan membuat kariernya melesat.
Ironisnya, popularitas Tawa malah meredupkan karier Keset. Keadaan pun berbalik. Keset menjadi sasaran olok-olok publik karena tindakan masa lalunya.
Ayah dan anak itu kemudian dipertemukan dalam kondisi tak terduga.
Baca Juga: Film Timur Sajikan Drama Persahabatan Lama di Tengah Misi Penyelamatan Mematikan
Meski awalnya canggung, hubungan Tawa dan Keset perlahan mencair. Namun, situasi itu memunculkan gejolak batin baru bagi Tawa.
Dia mulai merasa kesal dan kecewa ketika Keset dijadikan bahan tertawaan banyak orang, termasuk materi stand-up teman-temannya sendiri.
Konflik Makin Rumit
Konflik semakin rumit ketika Cantik mengetahui kedekatan Tawa dengan Keset. Cantik tidak mampu membendung amarahnya karena luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Film ini bukan sekadar menampilkan kehidupan dunia stand-up comedy. Lebih dari itu, film tersebut menjadi refleksi tentang hubungan keluarga yang renggang, terutama relasi antara orang tua dan anak.
Sutradara Aco Tenriyagelli mengemas kisah tersebut lewat balutan drama komedi yang segar.
Film ini seolah menyiratkan bahwa kesedihan tidak selalu harus diratapi, tetapi juga bisa dihadapi dengan cara menertawakannya.
Baca Juga: Erling Haaland Debut Film di ‘Viqueens’, Isi Suara Prajurit Viking
Angkat Isu Fatrherless
Isu fatherless menjadi tema besar yang diangkat dalam film ini. Aco menilai persoalan hubungan anak dan orang tua sangat dekat dengan kehidupan banyak orang.
“Aku rasa itu masalah kita semua sepertinya. Anak sulit interaksi dengan orang tua. Orang tua juga punya kesulitan mengungkapkan kasih sayang ke anak,” kata Aco.
Kondisi itu juga dirasakan Rachel Amanda sebagai pemeran utama. Tawa membuatnya sadar pentingnya menjaga komunikasi dengan orang tua.
“Ternyata aku sekarang itu untuk ngontak bapakku duluan. Padahal, kami satu kota. Cuma memang udah nggak tinggal bareng,” ucap Rachel. (*)
Editor : Chairunnisya