PONTIANAK POST - Secanggih apa pun teknologi, tidak ada yang bisa menggantikan kehangatan hubungan manusia, terutama ikatan antara ibu dan anak.
Drama keluarga Esok Tanpa Ibu menampilkan bagaimana sosok ibu tetap tak tergantikan meski telah tiada.
Rama (Ali Fikry) adalah remaja yang menjalani hari-hari penuh dinamika: belajar, bersosialisasi, dan menjalin cinta.
Segala hal kerap ia ceritakan kepada ibunya, Laras (Dian Sastrowardoyo).
Baca Juga: Film Sore: Istri dari Masa Depan Wakili Indonesia di Oscar 2026
Laras bukan hanya ibu, tapi juga pendamping, pendengar, sahabat, dan zona nyaman bagi Rama.
Sementara itu, ayahnya, Hendi (Ringgo Agus Rahman), lebih fokus pada pekerjaan.
Hubungan mereka cenderung kaku dan minim komunikasi.
Ketika Laras meninggal, Rama dan Hendi sama-sama berduka dan harus belajar melanjutkan hidup.
Baca Juga: Rachel Amanda dan Rifnu Wikana Tampil Solid dalam Film Suka Duka Tawa
Kehilangan ini mendorong Rama membuat aplikasi AI bernama I-BU, yang meniru sosok Laras.
Awalnya, suara dan bahkan citra Laras dari aplikasi I-BU membuat Rama tak kesepian.
Dia jadi punya ‘ibu’ yang hadir menemaninya. Namun teknologi dan akal imitasi tetap punya keterbatasan.
Mereka juga tak bisa secara total menggantikan kasih sayang dan kehadiran emosional ibu.
Baca Juga: Rachel Amanda dan Rifnu Wikana Tampil Solid dalam Film Suka Duka Tawa
Konflik dalam keluarga semakin terasa karena hubungan Rama dan Hendi semakin jauh, meski mereka harus saling menjaga.
Cerita ini menyoroti dinamika duka yang berbeda antara ayah dan anak, serta bagaimana kehilangan membentuk perjalanan emosional masing-masing anggota keluarga.
Dalam jumpa pers, penulis naskah Gina S. Noer menjelaskan ide cerita lahir dari pemikirannya tentang konsep duka dan kehilangan.
Baca Juga: Nagita Slavina Sebut Film Timur Punya Drama Emosional yang Sangat Kuat
“Ada kehilangan karena ditinggal wafat, ada juga kehilangan karena anak tumbuh dewasa dan menjauh,” paparnya, dikutip dari Jawapos.
Visual Esok Tanpa Ibu memadukan palet putih, krem, coklat, dan hijau untuk menekankan nuansa duka dan alam.
Simbol bunga menjadi representasi harapan di tengah kesedihan, menguatkan tema keluarga dan cinta yang tak tergantikan. (*)
Editor : Chairunnisya