PONTIANAK POST - Cinta tak selalu hadir dalam bentuk manis dan menenangkan.
Ada kalanya, cinta berubah menjadi rasa bersalah, kecemburuan, hingga luka yang terus membekas.
Itulah yang ditawarkan Wuthering Heights, film adaptasi novel klasik Emily Bronte yang menghadirkan romansa kelam penuh emosi dan tragedi.
Cinta Catherine dan Heathcliff yang Tak Pernah Sederhana
Catherine Earnshaw (Charlotte Mellington) merupakan putri dari Tuan Earnshaw (Martin Clunes), pemilik griya di Wuthering Heights.
Baca Juga: Remaja dan AI: Drama Esok Tanpa Ibu Menyoroti Kehilangan dan Teknologi Masa Kini
Suatu kali, Tuan Earnshaw mengajak bocah laki-laki, Heathcliff (Owen Cooper), untuk tinggal bersama Catherine dan dirinya.
Seiring waktu, Catherine dan Heathcliff tumbuh semakin dekat.
Saat dewasa, Catherine (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi) masih memiliki hubungan yang erat.
Namun, kehidupan di Wuthering Heights perlahan berubah suram akibat sang ayah yang menjadi pecandu alkohol.
Baca Juga: Drama IDOL I Tampilkan Sisi Gelap Dunia Idola KPop
Catherine ingin keluar dari lingkungan tersebut. Dia berusaha mendekati pedagang kaya, Edgar Linton (Shazad Latif), agar bisa pindah ke tempat yang lebih baik.
Kedekatan Catherine dan Edgar memicu kecemburuan Heathcliff, meski Catherine sebenarnya ingin mengajaknya hidup lebih layak lewat hubungan tersebut.
Konflik memuncak ketika Catherine menerima lamaran Edgar walaupun dirinya mencintai Heathcliff.
Merasa terluka, Heathcliff meninggalkan Wuthering Heights. Sementara itu, Catherine dihantui rasa bersalah dan akhirnya menikahi Edgar tanpa cinta.
Pertemuan Kembali yang Membuka Luka Lama
Bertahun-tahun kemudian, Catherine yang tengah mengandung kembali bertemu Heathcliff.
Baca Juga: Nagita Slavina Sebut Film Timur Punya Drama Emosional yang Sangat Kuat
Kini, Heathcliff telah berubah menjadi sosok kaya, tampan, dan berwibawa, meski asal-usul kekayaannya menjadi misteri.
Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang belum benar-benar padam.
Catherine pun terjebak dalam dilema antara rasa bersalah kepada Edgar dan kerinduan mendalam kepada Heathcliff.
Sejumlah media menyebut Wuthering Heights sebagai kisah cinta paling indah. Namun, film ini tidak hanya bicara soal romansa.
Baca Juga: Film Timur Sajikan Drama Persahabatan Lama di Tengah Misi Penyelamatan Mematikan
Kisah Catherine dan Heathcliff juga memperlihatkan bagaimana cinta bisa dihancurkan oleh status sosial, norma, dan penyesalan karena keputusan masa lalu.
Romansa yang Dipenuhi Hasrat dan Manipulasi Emosi
Jika hanya menyajikan kisah cinta beda kelas, Wuthering Heights mungkin tak jauh berbeda dari film romansa lainnya.
Baca Juga: Nana Bakal Bintangi Drama Baru Ma Theresa, Jadi Psikolog Kriminal Jenius
Namun, Emerald Fennell menghadirkan pendekatan berbeda lewat nuansa psikologis dan sisi gelap manusia.
Berlatar griya gothic yang suram, film ini memperlihatkan hasrat terlarang, dominasi, hingga manipulasi emosi yang membentuk hubungan para karakternya.
Penggambaran cinta di film ini terasa intens, terkadang manis, tetapi juga bisa tampil toksik dan manipulatif.
“Menurutku, terlalu mengejutkan jika hanya menempatkan Wuthering Heights sebagai romansa, meski itu adalah cerita cinta. Aku mencoba menonton film-film yang subversif atau menantang genre romansa. Misalnya, menyajikan cinta dengan cara yang lebih aneh dan keras,” ujar Fennell dikutip dari Vogue. (*)
Editor : Chairunnisya