PONTIANAK POST - Novel klasik tak selalu harus tampil kaku dan puitis.
Lewat Wuthering Heights, Emerald Fennell mencoba menghadirkan kisah lama dengan pendekatan yang lebih berani, emosional, dan gelap.
Adaptasi Novel Klasik dengan Pendekatan Berbeda
Wuthering Heights merupakan adaptasi dari novel klasik karya Emily Bronte.
Namun, Emerald Fennell tidak sekadar memindahkan cerita dari halaman buku ke layar lebar.
Baca Juga: Cinta Gelap dan Rumit di Balik Romansa Wuthering Heights
Fennell justru mencoba memberi warna baru lewat pendekatan visual dan emosional yang lebih intens.
Dia memadukan romansa klasik dengan unsur psikologis dan atmosfer gothic yang kuat.
Untuk membangun konsep tersebut, Fennell bahkan menonton sejumlah film sebagai referensi.
Beberapa di antaranya adalah Romeo + Juliet (1996), Bram Stoker’s Dracula (1992), dan The Handmaiden (2016).
Baca Juga: Remaja dan AI: Drama Esok Tanpa Ibu Menyoroti Kehilangan dan Teknologi Masa Kini
“Menurutku, terlalu mengejutkan jika hanya menempatkan Wuthering Heights sebagai romansa, meski itu adalah cerita cinta. Aku mencoba menonton film-film yang subversif atau menantang genre romansa. Misalnya, menyajikan cinta dengan cara yang lebih aneh dan keras,” ujar Fennell dikutip dari Vogue.
Cinta yang Ditampilkan Lebih Kasar dan Apa Adanya
Versi film Wuthering Heights menampilkan cinta dalam bentuk yang lebih vulgar dan lugas dibanding novelnya.
Jika novel Emily Bronte terasa subtil dan puitis, film ini justru menampilkan emosi secara mentah dan terbuka.
Hubungan Catherine Earnshaw (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi) digambarkan penuh gejolak.
Ada cinta, kecemburuan, hasrat, hingga manipulasi emosi yang saling bertabrakan.
Baca Juga: Film Timur Sajikan Drama Persahabatan Lama di Tengah Misi Penyelamatan Mematikan
Di beberapa adegan, cinta bahkan muncul dalam bentuk toksik dan destruktif.
Namun, justru sisi itulah yang membuat hubungan kedua karakter terasa lebih manusiawi dan emosional.
Atmosfer Gothic Menjadi Kekuatan Film
Nuansa gothic menjadi elemen penting dalam film ini.
Griya tua yang suram, lorong gelap, lampu redup, dan tebing berbatu menciptakan suasana yang mencekam sekaligus indah.
Baca Juga: Nagita Slavina Sebut Film Timur Punya Drama Emosional yang Sangat Kuat
Visual tersebut bukan sekadar pelengkap, tetapi ikut memperkuat kondisi emosional para karakter. Rasa bersalah, penyesalan, dan kerinduan terasa semakin kuat lewat atmosfer yang dibangun sepanjang film.
Margot Robbie juga menyebut film ini sangat emosional bagi para pemainnya.
“Tapi film ini tetap emosional. Aku banyak menangis, karakter-karakter lain juga mengalami perubahan emosi,” papar Robbie, dikutip dari The Sun.
Berakhir Tragis seperti Romeo & Juliet
Di balik kisah cinta yang intens, Wuthering Heights tetap mempertahankan sisi tragis yang menjadi ciri khas cerita klasiknya.
Seperti Romeo & Juliet, film ini berakhir dengan kematian salah satu karakter.
Penutup tersebut mempertegas bahwa cinta dalam Wuthering Heights bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kehilangan dan luka yang tak pernah benar-benar hilang. (*)
Editor : Chairunnisya