PONTIANAK POST - Film The Bride! tidak hanya menghadirkan kisah cinta monster Frankenstein. Di balik nuansa gothic dan fiksi ilmiah, film ini juga membawa pesan tentang perempuan, perlawanan, dan usaha merebut kendali atas hidup sendiri.
Film garapan Maggie Gyllenhaal itu terinspirasi dari The Bride of Frankenstein (1935). Namun berbeda dari versi klasiknya, cerita kali ini lebih banyak berfokus pada sosok The Bride (Jessie Buckley).
Penonton diajak melihat perjalanan The Bride sejak sebelum kematiannya, saat hidup sebagai Ida, hingga dibangkitkan kembali dan mulai menentukan jalan hidupnya sendiri.
Baca Juga: The Bride! Sajikan Romansa Gelap Monster Frankenstein dan Pengantin Misterius
Sudut Pandang Baru untuk Kisah Klasik
Dilansir dari Jawapos, dalam wawancara dengan Variety, Maggie Gyllenhaal menyebut film ini sebagai bentuk pengembangan baru dari kisah klasik karya Mary Shelley.
Adegan pembuka bahkan menampilkan Jessie Buckley sebagai Mary Shelley. Cara itu seolah menunjukkan bahwa cerita klasik masih bisa dihidupkan kembali dengan perspektif berbeda.
“Aku punya bayangan. Aku tidak berbicara untuk Mary Shelley, tapi pasti ada hal yang lebih liar dan berbahaya yang ingin dia sampaikan. Aku berpikir, apa yang akan dia ungkapkan,” kata Gyllenhaal dalam wawancara bersama Los Angeles Times.
Baca Juga: Pixar Gunakan Teknologi Fiksi Ilmiah untuk Mengangkat Isu Alam dalam Film Hoppers
Selain menampilkan romansa gothic, Gyllenhaal juga memasukkan unsur feminisme ke dalam cerita.
Perempuan dan Perlawanan dalam The Bride!
Dalam film ini, perempuan digambarkan mengalami kekerasan dan diskriminasi di tengah masyarakat. The Bride menjadi simbol perlawanan lewat tindakan dan sikapnya sepanjang cerita.
Aksi-aksi The Bride memantik gerakan perlawanan perempuan dan membuat beberapa adegan terasa lebih kuat secara emosional.
Baca Juga: Film Suamiku Lukaku: Ayu Azhari Edukasi Anak Soal Hubungan Toxic
Namun, unsur feminisme itu dinilai belum sepenuhnya tergarap maksimal. Saat ada kesempatan untuk menampilkan isu perempuan dengan lebih kuat, dialog dan penceritaan justru terasa setengah-setengah.
Film lebih banyak berfokus pada dinamika pelarian Frank dan The Bride dibanding memperdalam pesan feminisme yang dibangun sejak awal.
Jessie Buckley Tampil Emosional dan Liar
Meski demikian, penampilan Jessie Buckley menjadi salah satu kekuatan utama film ini.
Buckley berhasil memerankan The Bride sebagai sosok yang liar, rapuh, emosional, sekaligus penuh kebingungan. Kemampuan memainkan emosi yang luas kembali terlihat dalam film ini.
Baca Juga: Film Mick Jagger 'Three Incestuous Sisters' Digarap, Ini Bocoran Perannya
Nomine Aktris Terbaik Academy Awards 2026 untuk film Hamnet itu mengaku kolaborasinya dengan Maggie Gyllenhaal membantu dirinya mendalami karakter tersebut.
“Maggie selalu bisa membangkitkan sisi diriku, bahkan sisi yang perlu kuketahui,” ujar Buckley. (*)
Editor : Chairunnisya