PONTIANAK POST - Aktris Emilia Clarke membantah kabar bahwa dirinya menerima bayaran 300.000 dolar AS per episode (sekitar Rp5 miliar) saat membintangi serial fenomenal Game of Thrones (GOT).
Pemeran Daenerys Targaryen itu menegaskan angka tersebut tidak sesuai kenyataan.
Ia juga mengungkap berbagai pengalaman pribadi, mulai dari tekanan ketenaran, operasi otak darurat, hingga kehilangan sang ayah di puncak popularitas serial HBO tersebut.
Emilia Clarke Bantah Kabar Gaji 300.000 Dolar AS per Episode
Emilia Clarke menepis laporan yang menyebut dirinya memperoleh 300.000 dolar per episode selama membintangi Game of Thrones. Dalam wawancara yang dikutip Variety, ia menyebut angka tersebut terlalu dilebih-lebihkan.
"Kami tidak menghasilkan sebanyak itu. Coba Anda bayangkan. Saya pasti sudah mengendarai beberapa Porsche!" kata Clarke dilansir Antara.
Baca Juga: Film Sekuel Michael Jackson Resmi Digarap, Lionsgate Janjikan Lebih Seru
Pernyataan itu sekaligus meluruskan berbagai spekulasi mengenai pendapatan para pemeran utama serial fantasi yang menjadi salah satu tayangan paling sukses dalam sejarah televisi modern.
Meski tidak mengungkap angka sebenarnya, Clarke menegaskan bahwa persepsi publik mengenai pendapatan pemain sering kali jauh berbeda dari kenyataan industri hiburan.
Aktris kelahiran London, Inggris, itu juga mengatakan bahwa ketenaran yang datang setelah kesuksesan serial HBO tersebut tidak selalu menghadirkan kenyamanan.
"Kepopuleran itu datang dan pergi," ujarnya.
Pengalaman Syuting dan Sorotan terhadap Adegan Tanpa Busana
Clarke yang mulai membintangi Game of Thrones pada usia 23 tahun mengaku tidak mengalami perlakuan buruk selama proses produksi serial tersebut.
Namun, ia menilai industri televisi saat itu masih kurang memiliki sensitivitas terhadap aktor perempuan yang harus menjalani adegan tanpa busana.
Menurut Clarke, situasi ketika seorang perempuan muda melakukan adegan telanjang di hadapan banyak orang asing merupakan hal yang semestinya mendapat pertimbangan lebih matang dari sisi kenyamanan dan perlindungan pemain.
Ia juga mengungkap pernah mengalami pengalaman kerja yang tidak menyenangkan di proyek lain, meskipun tidak menjelaskan secara rinci produksi yang dimaksud.
"Yang menurut saya itu sebenarnya bisa dicegah dengan sedikit pertimbangan," katanya.
Baca Juga: James Bond Baru Segera Hadir, Amazon MGM Mulai Audisi Pemeran 007
Pernyataan tersebut kembali menyoroti perubahan standar industri hiburan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk penggunaan intimacy coordinator atau koordinator adegan intim yang kini semakin umum digunakan untuk melindungi para pemain.
Pendarahan Otak yang Nyaris Merenggut Nyawanya
Di balik kesuksesan global Game of Thrones, Clarke menghadapi krisis kesehatan serius yang nyaris mengakhiri hidupnya.
Setelah menyelesaikan musim pertama serial tersebut, ia mengalami pendarahan otak akibat aneurisma setelah pingsan saat berolahraga di pusat kebugaran.
Kondisi itu memaksanya menjalani operasi darurat untuk menyelamatkan nyawanya. Beberapa tahun kemudian, saat serial memasuki musim ketiga, Clarke kembali mengalami pendarahan otak kedua.
Meski begitu, ia memilih tidak mengungkap kondisi tersebut kepada publik pada saat kejadian berlangsung.
Pengalaman itu baru dibagikannya pada 2019 ketika meluncurkan organisasi amal bernama SameYou yang fokus membantu pemulihan penyintas cedera otak dan stroke.
"Selama bertahun-tahun, saya merasa sudah lolos dari maut," ungkapnya.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu kisah paling menyentuh dari perjalanan karier Clarke selama membintangi serial yang mengubah hidupnya.
Baca Juga: Film The Devil Wears Prada 2 Raih $233 Juta, Pecahkan Rekor Box Office Global
Kehilangan Ayah dan Refleksi Setelah Game of Thrones Berakhir
Kesedihan Clarke tidak berhenti pada masalah kesehatan. Ia juga harus menghadapi wafatnya sang ayah akibat kanker setelah musim ketujuh Game of Thrones, ketika serial tersebut sedang berada di puncak popularitas global.
Menurutnya, satu dekade perjalanan bersama serial tersebut menjadi periode paling ekstrem dalam kehidupannya, baik dari sisi profesional maupun personal.
"Versi kehidupan yang paling ekstrem terjadi dalam periode 10 tahun itu," kenangnya.
Meski musim terakhir Game of Thrones menuai kontroversi dan kritik dari sebagian penggemar, Clarke menegaskan dirinya hanya berperan sebagai aktris dan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan kreatif terkait alur cerita.
Kini, ia mengaku telah berdamai dengan seluruh pengalaman yang dialaminya selama membintangi serial tersebut.
"Saya sangat bersyukur atas semua yang telah dilakukan dan diberikan Game of Thrones kepada saya. Saya tidak lagi merasa terjebak di dalamnya, termasuk akibatnya," katanya.
Baca Juga: Kangen Love Beyond The Grave? Ini 5 Drama China Seru Dilraba Dilmurat yang Wajib Anda Tonton
Warisan Game of Thrones dalam Industri Televisi
Game of Thrones merupakan serial drama fantasi produksi HBO yang diadaptasi dari seri novel A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin. Serial ini dikembangkan oleh David Benioff dan D. B. Weiss.
Serial tersebut tayang perdana pada 17 April 2011 dan berakhir pada 19 Mei 2019 setelah delapan musim.
Selama penayangannya, Game of Thrones berkembang menjadi salah satu serial televisi paling berpengaruh di dunia, memenangkan puluhan penghargaan dan mencetak rekor penonton untuk HBO.
Bagi Emilia Clarke, perjalanan sebagai Daenerys Targaryen atau "Mother of Dragons" bukan hanya kisah tentang ketenaran global, tetapi juga tentang bertahan menghadapi cobaan hidup yang datang bersamaan dengan kesuksesan besar.(ant)
Editor : Uray Ronald