Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Yuen Woo-ping Bangkit di Usia 80 Tahun, Satukan Legenda Kungfu Asia Jet Li dan Wu Jing di Film Baru

Uray Ronald • Jumat, 5 Juni 2026 | 19:22 WIB
Film "Blades of the Guardians: Wind Rises in the Desert". (fictionhorizon)
Film "Blades of the Guardians: Wind Rises in the Desert". (fictionhorizon)

 

PONTIANAK POST - Film wuxia terbaru "Blades of the Guardians: Wind Rises in the Desert" sukses meraup hampir US$199 juta atau sekitar Rp3,5 triliun di box office global, menandai kebangkitan sutradara legendaris Yuen Woo-ping yang kini berusia 80 tahun.

Film ini juga menjadi reuni langka sejumlah ikon bela diri Asia dalam satu layar setelah puluhan tahun berpisah.

Kesuksesan tersebut menjadi sorotan industri perfilman Asia karena menandai kembalinya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah film laga dunia.

Di tengah dominasi efek visual digital, Yuen memilih kembali mengandalkan aksi fisik dan koreografi bela diri yang membesarkan namanya selama beberapa dekade.

Yuen Woo-ping Kembali Menyutradarai Setelah Enam Tahun Vakum

Menurut laporan Fictionhorizon, "Blades of the Guardians: Wind Rises in the Desert" merupakan film pertama yang disutradarai Yuen Woo-ping dalam enam tahun terakhir.

Nama Yuen tidak asing bagi pencinta film aksi. Ia merupakan koreografer laga di balik film-film ikonik seperti The Matrix dan Crouching Tiger, Hidden Dragon yang membantu memperkenalkan seni bela diri Asia ke pasar global.

Baca Juga: Film Baru Star Wars Perlihatkan Sisi Baru Grogu yang Lebih Berani

Film terbarunya diadaptasi dari manhua populer "Biao Ren" karya Xu Xianzhe yang pertama kali diterbitkan pada 2015. 

Karya tersebut sebelumnya telah diangkat menjadi serial animasi pada 2023 sebelum akhirnya mendapatkan versi layar lebar.

Kembalinya Yuen menjadi perhatian karena beberapa proyeknya pada dekade 2010-an dinilai tidak sekuat karya-karya klasik yang membangun reputasinya sebagai maestro film laga Hong Kong.

Reuni Langka Jet Li dan Wu Jing Setelah Puluhan Tahun

Daya tarik terbesar film ini terletak pada jajaran pemainnya yang dipenuhi legenda seni bela diri lintas generasi.

Yuen berhasil mengumpulkan Wu Jing, Nicholas Tse, Max Zhang, dan Jet Li dalam satu produksi. Kehadiran Tony Leung Ka-fai semakin memperkuat status film sebagai proyek prestisius industri perfilman Asia.

Fakta menariknya, Yuen Woo-ping adalah sosok yang memberikan kesempatan besar pertama kepada Wu Jing melalui film Tai Chi Boxer pada 1996.

Film terbaru ini menjadi reuni keduanya sebagai sutradara dan pemeran utama setelah jeda sekitar 30 tahun.

Sementara itu, kerja sama Yuen dengan Jet Li bahkan telah terpisah lebih lama. Kolaborasi terakhir mereka sebagai sutradara dan bintang utama terjadi melalui film The Tai Chi Master.

Kehadiran Jet Li memiliki nilai emosional tersendiri bagi penggemar. Aktor tersebut terakhir kali tampil dalam film live-action Mulan pada 2020 sebelum akhirnya kembali ke layar lebar lewat proyek ini.

Baca Juga: Film Sekuel Michael Jackson Resmi Digarap, Lionsgate Janjikan Lebih Seru

Kisah Perjuangan di Tengah Gurun dan Kekuasaan yang Korup

Film ini mengikuti perjalanan Dao Ma yang diperankan Wu Jing, mantan prajurit pemerintah yang kini hidup sebagai pemburu bayaran bersama anak angkatnya.

Dao Ma menerima tugas mengawal Zhi Shilang, seorang buronan paling dicari di negeri tersebut. Tokoh itu menjadi simbol perlawanan setelah memimpin pemberontakan terhadap pemerintahan yang dianggap korup.

Perjalanan mereka melintasi gurun berubah menjadi pertarungan hidup dan mati. Berbagai kelompok, mulai dari pemburu hadiah rival, pasukan pemerintah, hingga klan-klan gurun, berlomba memburu hadiah besar yang ditawarkan.

Di balik aksi laga, cerita film juga mengangkat tema tentang keadilan, pengorbanan, dan perjuangan melawan penyalahgunaan kekuasaan.

Tema tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kisah "Biao Ren" memiliki basis penggemar yang kuat sejak pertama kali diterbitkan.

Minim CGI, Maksimalkan Aksi Nyata dan Raup Hampir US$199 Juta

Yuen Woo-ping memilih mempertahankan ciri khas yang membuatnya terkenal di seluruh dunia.

Alih-alih mengandalkan efek komputer secara berlebihan, film ini menggunakan banyak aksi fisik, koreografi pertarungan langsung, dan teknik wirework yang menjadi identitas film wuxia klasik Hong Kong.

Dengan anggaran produksi yang dilaporkan mencapai US$123 juta, film tersebut telah menghasilkan hampir US$199 juta di box office global.

Angka itu menunjukkan respons positif penonton terhadap pendekatan aksi tradisional yang mulai jarang digunakan dalam produksi modern.

Sejumlah kritikus film menilai karya terbaru ini sebagai "kembali ke bentuk terbaik" bagi Yuen Woo-ping. Banyak ulasan memuji kualitas koreografi laga serta keberhasilannya menghadirkan nuansa wuxia klasik yang tetap relevan bagi penonton masa kini.

Baca Juga: Pixar Gunakan Teknologi Fiksi Ilmiah untuk Mengangkat Isu Alam dalam Film Hoppers

Sinyal Awal Lahirnya Franchise Wuxia Baru

Kesuksesan komersial film ini membuka peluang hadirnya sekuel pada masa mendatang.

Judul lengkap "Wind Rises in the Desert" dinilai memberi petunjuk bahwa kisah Dao Ma kemungkinan hanya menjadi awal dari saga yang lebih besar.

Industri perfilman Tiongkok juga tengah mencari franchise baru yang mampu bersaing di pasar internasional.

Jika tren pendapatan terus berlanjut, "Blades of the Guardians" berpotensi menjadi salah satu franchise wuxia terbesar dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi Yuen Woo-ping, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk terus berinovasi dan memengaruhi generasi baru perfilman dunia.*

Editor : Uray Ronald
#Yuen Woo-ping #Blades of the Guardians #Jet Li #Wu Jing #film wuxia