PONTIANAK POST - Quentin Tarantino melontarkan kritik tajam terhadap industri film modern dengan menyebut Hollywood saat ini sebagai "pabrik sosis hambar" yang menghasilkan film-film penuh kelemahan, kompromi kreatif, dan keputusan casting yang keliru.
Sutradara pemenang Oscar itu bahkan mengaku kini lebih memilih membaca buku daripada menonton sebagian besar film baru yang dirilis setelah pandemi.
Pernyataan tersebut muncul dalam artikel opini yang ditulis Tarantino untuk majalah film ternama Sight and Sound. Kritik itu langsung memicu perdebatan baru tentang masa depan Hollywood yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan akibat dominasi franchise, perubahan kebiasaan menonton, dan meningkatnya persaingan layanan streaming.
Tarantino Nilai Kualitas Film Hollywood Mengalami Kemunduran
Tarantino menyatakan dirinya semakin sulit menikmati film-film baru karena terlalu banyak menemukan kelemahan mendasar dalam proses pembuatannya.
Menurutnya, banyak film modern dipenuhi ketidaklogisan cerita, upaya berlebihan untuk menyenangkan penonton, hingga pemilihan aktor yang tidak sesuai karakter.
Baca Juga: Yuen Woo-ping Bangkit di Usia 80 Tahun, Satukan Legenda Kungfu Asia Jet Li dan Wu Jing di Film Baru
Dalam tulisannya, ia menyebut sebagian besar film baru gagal mempertahankan kualitas artistik yang pernah menjadi kekuatan utama Hollywood.
Komentar tersebut memiliki bobot tersendiri karena datang dari sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pembuat film paling berpengaruh di dunia.
Tarantino merupakan kreator di balik film-film ikonik seperti Pulp Fiction dan Inglourious Basterds yang mendapat pengakuan luas dari kritikus maupun penonton.
Dari Sutradara Aktif Menjadi Pengamat yang Semakin Kritis
Film terakhir Tarantino sebagai sutradara adalah Once Upon a Time in Hollywood yang dirilis pada 2019.
Sejak itu, ia belum kembali ke kursi sutradara. Proyek film panjang kesepuluh yang sebelumnya direncanakan juga dibatalkan. Sebaliknya, Tarantino memilih mengembangkan naskah drama panggung yang sedang dipersiapkan untuk dipentaskan di kawasan West End, London.
Dalam penampilannya di Festival Film Sundance awal tahun ini, Tarantino mengaku tidak terburu-buru membuat film terakhirnya. Ia bahkan menyatakan bahwa jika proyek teater tersebut sukses, karya panggung itu bisa menjadi penutup perjalanan kreatifnya.
Perubahan fokus tersebut menunjukkan bagaimana seorang sineas yang selama puluhan tahun hidup untuk film kini mulai mencari medium ekspresi lain. Bagi sebagian penggemar, kondisi itu menjadi gambaran perubahan besar yang sedang terjadi di industri hiburan global.
Hollywood Dinilai Kehilangan Keajaiban yang Pernah Membentuk Generasi Penonton
Kritik Tarantino tidak hanya ditujukan kepada film-film tertentu, tetapi juga kepada kondisi industri secara keseluruhan.
Ia bahkan membandingkan kualitas film saat ini dengan dekade 1980-an, periode yang selama ini sering ia sebut sebagai salah satu era terlemah Hollywood.
Menurut Tarantino, kualitas produksi beberapa tahun terakhir begitu mengecewakan sehingga era 1980-an kini terlihat jauh lebih baik jika dibandingkan.
Baca Juga: Taylor Swift Kini Bernilai Rp36 Triliun, Cetak Rekor sebagai Musisi Perempuan Terkaya di Dunia
Pernyataan itu menyentuh perdebatan yang sudah lama berkembang di kalangan pembuat film dan penonton. Banyak pengamat menyoroti meningkatnya ketergantungan studio pada franchise besar, remake, reboot, dan film superhero yang dianggap lebih aman secara bisnis dibandingkan proyek orisinal.
Di sisi lain, industri juga menghadapi penurunan jumlah film beranggaran menengah yang dahulu menjadi ruang berkembang bagi sutradara baru. Kondisi tersebut membuat sebagian sineas merasa kreativitas semakin dibatasi oleh pertimbangan pasar.
Hanya Segelintir Film yang Berhasil Memikat Perhatian Tarantino
Meski melontarkan kritik keras, Tarantino mengaku masih menemukan beberapa film yang menurutnya berkualitas.
Ia menyebut menyukai West Side Story garapan Steven Spielberg serta proyek western ambisius Horizon: An American Saga.
Namun film yang paling menarik perhatiannya adalah The Rip. Film produksi Netflix tersebut disutradarai oleh Joe Carnahan dan dibintangi Ben Affleck serta Matt Damon.
Tarantino memuji naskah yang ditulis Carnahan bersama Michael McGrale. Ia juga memberikan apresiasi terhadap kualitas akting para pemeran dan sinematografi yang digarap Juan Miguel Azpiroz.
Pujian tersebut menjadi menarik karena muncul di tengah kritik luas yang ia tujukan kepada industri. Fakta bahwa hanya satu film yang benar-benar mendapatkan rekomendasi kuat darinya dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa tingginya standar yang ia terapkan terhadap karya sinema modern.
Kritik Tarantino Perkuat Debat tentang Masa Depan Hollywood
Komentar Tarantino muncul pada saat Hollywood masih berupaya beradaptasi dengan perubahan besar pascapandemi.
Layanan streaming telah mengubah pola konsumsi hiburan. Studio besar semakin berhati-hati mengambil risiko finansial. Sementara penonton memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan era sebelumnya.
Baca Juga: Film Baru Star Wars Perlihatkan Sisi Baru Grogu yang Lebih Berani
Bagi sebagian kalangan, kritik Tarantino mencerminkan keresahan banyak sineas yang khawatir kreativitas perlahan tergeser oleh strategi bisnis jangka pendek.
Namun bagi pihak lain, perubahan tersebut dianggap sebagai evolusi alami industri yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi dan perilaku penonton modern.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, satu hal yang tidak terbantahkan adalah suara Tarantino masih memiliki pengaruh besar dalam dunia perfilman. Ketika seorang sutradara yang membangun hidupnya di atas kecintaan terhadap sinema mengaku lebih memilih membaca buku daripada menonton film baru, industri tidak bisa mengabaikan pesan tersebut begitu saja.*
Editor : Uray Ronald