PONTIANAK POST — Aktor laga Yayan Ruhian mendapat apresiasi atas kondisi fisiknya yang tetap prima saat menjalani produksi film The Furious. Kemampuan dan daya tahannya bahkan membuat sutradara sekaligus koreografer laga asal Jepang, Kenji Tanigaki, terkesan selama proses syuting.
Pengakuan itu disampaikan Joe Taslim dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6). Menurut Joe, ketangguhan Yayan terlihat jelas saat para pemain lain mulai mengalami kelelahan menjelang adegan-adegan akhir produksi.
"Kang Yayan diapresiasi enggak cuma oleh kita, Kenji pun kaget, karena pada saat adegan final, semua orang sudah mulai namanya pegal, ada yang bengkak-bengkak, ada yang (urat) ketarik sini, ketarik sana, sudah mulai dipijat. Kang Yayan duduk cengar-cengir saja," kata Joe, dilansir Antara.
"Kenji bilang, 'ini orang Indonesia gila-gila, ya, kuat-kuat banget'."
Sebagai informasi, Kenji Tanigaki adalah seorang pemeran pengganti (stuntman), koordinator stunt, koordinator adegan laga, dan sutradara.
Sejak kecil, Tanigaki mempelajari seni bela diri Shorinji Kempo yang kemudian membawanya bergabung dengan sekolah aksi Kurata Action di Jepang dan memulai kariernya sebagai stuntman. Kariernya kemudian membawanya ke Hong Kong, tempat ia menjadi anggota Asosiasi Stuntman Hong Kong.
Baca Juga: Joe Taslim Dalami Peran Jurnalis Investigasi di The Furious, Banyak Nonton Film Dokumenter
Sepanjang kariernya, Tanigaki terlibat dalam berbagai proyek film, termasuk Hidden Man, yang mengantarkannya meraih penghargaan Best Action Choreography di ajang Golden Horse Film Festival 2018.
Kemampuannya tidak hanya di bidang koreografi laga, tetapi juga di balik layar sebagai sutradara. Salah satu karya yang ia sutradarai adalah Enter the Fat Dragon pada 2020. Beberapa proyek besar yang juga melibatkan Tanigaki antara lain Rurouni Kenshin: Final Chapter, Raging Fire, dan Snake Eyes: G.I. Joe Origins.
Tetap Santai Saat Pemain Lain Mulai Kelelahan
Menurut Joe Taslim, Yayan tetap menunjukkan kondisi fisik yang stabil meski harus menjalani rangkaian adegan laga yang berat dan menguras tenaga.
Saat sebagian pemain mulai merasakan cedera ringan, pegal otot, hingga membutuhkan pemulihan intensif, Yayan justru terlihat santai di lokasi syuting.
“Dia (Yayan) kerja sekeras itu, dia duduk santai saja, seperti enggak terjadi apa-apa,” ujar Joe.
Pengalaman panjang Yayan di dunia seni bela diri dan film laga disebut menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu menjaga performa selama proses produksi berlangsung.
Aktor kelahiran Tasikmalaya, 19 Oktober 1968, itu kini berusia 57 tahun dan dikenal sebagai salah satu ikon film laga Indonesia yang berhasil menembus industri perfilman internasional.
Namanya mulai dikenal luas melalui film Merantau (2009), kemudian melejit lewat peran Mad Dog dalam The Raid (2011) dan Prakoso dalam The Raid 2 (2014).
Karier internasional Yayan terus berkembang setelah tampil dalam film Hollywood Star Wars: The Force Awakens (2015) sebagai Tasu Leech. Ia kemudian membintangi sejumlah produksi global, seperti Beyond Skyline (2017), dan John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019), hingga berbagai proyek film aksi Asia dan Amerika lainnya.
Baca Juga: Mortal Kombat II: Joe Taslim Bangga Jakarta Dipilih Jadi Lokasi Tur Global
Sempat Ragu Kembali Beradu Aksi dengan Joe Taslim
Di balik ketangguhannya, Yayan mengaku sempat diliputi keraguan ketika menerima tawaran bermain dalam The Furious. Keraguan itu muncul karena ia harus kembali menjalani adegan laga bersama Joe Taslim setelah sekitar 15 tahun sejak keduanya tampil dalam film The Raid.
“Sebenarnya terbersit juga rasa ragu, masih mampu enggak nih menghadapi Jaka (nama peran Joe Taslim di the Raid),” ujar Yayan.
Pernyataan itu menunjukkan tantangan yang dihadapi aktor laga senior ketika harus bersaing dengan tuntutan fisik yang tinggi. Namun, keraguan tersebut justru menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri lebih serius.
Disiplin Latihan Jadi Kunci Menjaga Performa
Yayan mengatakan selama berkarier, ia hampir selalu bekerja bersama aktor dan kru yang lebih muda. Kondisi itu membuatnya berusaha keras agar usia tidak menjadi hambatan dalam menjalankan adegan aksi.
Ia memilih meningkatkan intensitas latihan dibanding rekan-rekannya yang lebih muda. Baginya, konsistensi menjadi modal utama untuk mempertahankan kemampuan fisik.
“Alhamdulillah, banyak teman-teman muda yang memotivasi saya. Kalau mereka latihan tiga kali seminggu, saya kalau bisa sehari tiga kali. Kalau mereka lari dua hari sekali, saya setiap hari,” katanya.
Pola latihan tersebut menjadi bukti komitmen Yayan dalam menjaga kebugaran. Dedikasi itu pula yang membuatnya tetap dipercaya tampil dalam berbagai produksi film laga, baik di Indonesia maupun mancanegara.
Baca Juga: Joe Taslim Ungkap Tantangan Transformasi Sub-Zero ke Noob Saibot di Mortal Kombat II
Ketangguhan yang Menginspirasi
Kisah Yayan Ruhian dalam The Furious tidak hanya tentang adegan laga. Di balik layar, terdapat perjuangan seorang aktor senior yang terus menantang batas kemampuannya sendiri.
Saat banyak orang mulai mengurangi aktivitas fisik di usia mendekati 60 tahun, Yayan memilih mempertahankan disiplin latihan demi tetap memberikan performa terbaik. Ketekunan itulah yang membuatnya mendapat apresiasi dari rekan-rekan sesama aktor hingga pelaku industri film internasional.*
Editor : Uray Ronald