Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Cek Khodam: Saat Hantu Kalah oleh Cicilan dan Dompet Kosong, Film Komedi Horor yang Menyindir Ketakutan Manusia Modern

Uray Ronald • Senin, 8 Juni 2026 | 22:22 WIB
Poster film Cek Khodam. (ANTARA/Dee Company)
Poster film Cek Khodam. (ANTARA/Dee Company)

 

PONTIANAK POST – Dee Company menyiapkan film komedi horor terbaru berjudul Cek Khodam yang mengangkat fenomena konten mistis digital yang belakangan menjadi hiburan masyarakat. Film ini menghadirkan sudut pandang berbeda tentang ketakutan manusia masa kini yang dinilai lebih besar terhadap persoalan ekonomi dibandingkan dunia gaib.

Dalam laporan Antara, Senin (8/6), Dee Company menyebut film tersebut berangkat dari realitas sehari-hari. Ketakutan terhadap dompet kosong, cicilan menunggak, dan tanggal tua kini dianggap lebih mengkhawatirkan dibandingkan sosok hantu.

"Dunia gaib yang dulu dianggap menyeramkan kini berubah menjadi bahan tontonan dan candaan," demikian disampaikan Dee Company.

Kisah Tiga Sahabat Pembuat Konten Mistis

Film Cek Khodam mengikuti perjalanan tiga sahabat, yakni Sakti, Wira, dan Bima. Mereka membuat konten bertema cek khodam yang tanpa disadari memicu perubahan besar di dunia gaib.

Sakti diperankan Jirayut, Wira diperankan Saputra Kori, dan Bima diperankan Benidictus Siregar.

Konten yang mereka produksi menyebabkan AKM atau Angka Ketakutan Manusia turun drastis. Akibatnya, para penghuni dunia gaib merasa kehilangan kewibawaan karena tidak lagi dianggap menakutkan.

Baca Juga: Tak Sekadar Horor Komedi, Sekawan Limo 2 Tampil Lebih Dewasa

Ketika Dunia Gaib Kehilangan Wibawa

Perubahan perilaku manusia menjadi titik konflik utama dalam film ini. Hantu dan khodam yang sebelumnya ditakuti kini justru menjadi bahan hiburan dan candaan di ruang digital.

Kondisi tersebut membuat Panglima Khodam turun langsung ke dunia manusia. Ia mendapat tugas untuk mengembalikan martabat dunia gaib sekaligus meningkatkan kembali angka ketakutan manusia terhadap makhluk tak kasatmata.

Namun, misi tersebut tidak berjalan mulus. Semakin keras para khodam berusaha menakut-nakuti manusia, semakin besar pula kekacauan yang muncul.

Dari situ, unsur komedi dibangun dan menjadi kekuatan utama cerita.

Menyoroti Perubahan Cara Pandang Generasi Digital

Film ini tidak hanya menghadirkan horor dan komedi. Cek Khodam juga menyoroti perubahan cara manusia memandang hal-hal mistis di era digital.

Ketika dunia gaib tidak lagi menjadi sumber ketakutan utama, para penghuninya harus menghadapi kenyataan baru yang dianggap jauh lebih absurd. Manusia modern digambarkan terlalu sibuk menghadapi tekanan hidup sehingga tidak lagi memberi ruang besar pada ketakutan terhadap hantu.

Sudut pandang tersebut menjadi refleksi atas fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat saat ini. Fenomena yang diangkat dalam Cek Khodam juga sejalan dengan tingginya konsumsi konten horor dan mistis di Indonesia.

Survei internal platform audio Noice menunjukkan bahwa cerita horor secara konsisten masuk tiga besar konten podcast paling banyak didengar masyarakat Indonesia.

Rata-rata pendengar bahkan menghabiskan lebih dari 130 menit untuk menikmati konten horor, dengan dominasi pendengar dari kalangan milenial dan usia 18–24 tahun.

Tren serupa terlihat pada industri film. Penelitian Lembaga Sensor Film (LSF) pada 2023 menemukan bahwa genre horor menjadi salah satu genre yang paling diminati penonton Indonesia. Popularitas tersebut tercermin dari dominasi film-film horor di bioskop dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Salmokji: Whispering Water Tembus 2 Juta Penonton, Rekor Baru Horor Korea dalam 8 Tahun

Di platform streaming, minat terhadap horor juga tetap kuat. Data yang dirangkum Film Indonesia menunjukkan genre horor menjadi genre paling banyak ditonton di Netflix Indonesia dengan pangsa 18,32 persen.

Sementara laporan IDN Gen Z Report 2024 mencatat 51 persen perempuan Gen Z Indonesia menjadikan horor sebagai salah satu genre favorit mereka.

Tingginya konsumsi konten horor itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak meninggalkan tema mistis. Namun, cara menikmatinya telah berubah.

Jika dahulu kisah-kisah gaib identik dengan rasa takut, kini konten mistis juga hadir sebagai hiburan, bahan diskusi, hingga komedi di media sosial. Pergeseran inilah yang menjadi salah satu fondasi cerita dalam film Cek Khodam.

Deretan Pemeran dan Tim Produksi

Cek Khodam diproduseri oleh Dheeraj Kalwani. Film ini disutradarai Jeropoint yang juga terlibat sebagai penulis bersama Sandikagusti dan Shintapuji.

Selain Jirayut, Saputra Kori, dan Benidictus Siregar, film ini turut dibintangi Kak Gem, Tante Lala, Angie Williams, Fahira Almira, Roewina Umboh, dan Fanny Fadillah.

Melalui film ini, Dee Company menghadirkan komedi horor yang relevan dengan budaya digital masa kini.

"Film ini menawarkan cerita tentang dunia gaib yang berusaha kembali ditakuti, tetapi harus menghadapi manusia modern yang sudah terlalu sibuk bertahan dari masalah hidupnya sendiri," tulis Dee Company.

Baca Juga: Joe Taslim Dalami Peran Jurnalis Investigasi di The Furious, Banyak Nonton Film Dokumenter

Ketakutan yang Berubah Wajah

Di balik balutan komedi dan horor, Cek Khodam menghadirkan gambaran tentang perubahan ketakutan manusia. Jika dahulu hantu menjadi sumber kecemasan utama, kini tekanan ekonomi dan persoalan hidup sehari-hari justru menjadi tantangan yang lebih nyata bagi banyak orang.

Film ini mencoba menangkap fenomena tersebut melalui pendekatan ringan dan menghibur, sekaligus menyajikan refleksi tentang bagaimana masyarakat modern memandang dunia mistis di tengah kehidupan yang semakin kompleks.*

Editor : Uray Ronald
#Cek Khodam #film komedi horor #Jirayut #konten mistis digital #DEE Company