Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Lari Jadi Me Time hingga Quality Time, Ini Rahasia Febby Rastanty Tetap Konsisten Berolahraga

Chairunnisya • Kamis, 11 Juni 2026 | 11:58 WIB
Febby Rastanty (DOK JAWAPOS)
Febby Rastanty (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Bagi sebagian orang, olahraga menjadi kewajiban untuk menjaga kesehatan.

Namun bagi aktris Febby Rastanty, lari telah menjadi bagian dari gaya hidup yang memberikan banyak manfaat, mulai dari menjaga kebugaran hingga menjadi sarana healing di tengah kesibukan.

Dilansir dari Jawapos. sejak mulai menekuni olahraga lari pada 2023, Febby mengaku merasakan banyak perubahan positif dalam hidupnya.

Bahkan, kebiasaan tersebut turut memberi dampak baik terhadap keharmonisan hubungannya dengan sang suami, Drajad Djumantara.

Baca Juga: Hindari Cedera, Ini Teknik dan Persiapan Olahraga Lari yang Aman dan Nyaman

Saat ini, pemain film Sampai Nanti, Hanna itu tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti Sydney Marathon 2026 di Australia pada 30 Agustus mendatang.

Ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Febby membagikan alasan dirinya jatuh cinta pada lari hingga persiapan menuju ajang maraton bergengsi tersebut.

Lari yang Fleksibel dan Bisa Dilakukan Kapan Saja

Bagi Febby, salah satu alasan utama dirinya menyukai olahraga lari adalah fleksibilitas yang ditawarkan.

Baca Juga: Hobi Lari Maraton? Kenali Risikonya, Dokter Ungkap Bahaya Olahraga Berlebihan bagi Kesehatan Jantung

"Lari itu satu-satunya olahraga yang bisa terserah aku jadwalnya. Aku bisa lakukan di mana pun dan kapan pun. Waktuku agak nggak nentu, jadi nggak gampang untuk komitmen berolahraga sama orang lain."

Kesibukan pekerjaan yang padat membuatnya sulit menyesuaikan jadwal olahraga dengan orang lain. Karena itu, lari menjadi pilihan yang paling sesuai dengan rutinitasnya.

Meski lebih sering berlari sendiri, Febby juga sesekali menikmati olahraga tersebut bersama suaminya. "Iya, aku suka banget lari sendiri. Tapi aku biasanya juga suka lari bareng suami, jadi bisa sembari quality time."

Menjadikan Lari Sebagai Sarana Healing

Tak hanya untuk menjaga kesehatan fisik, lari juga memiliki makna yang lebih personal bagi Febby. Aktivitas tersebut menjadi waktu khusus untuk dirinya sendiri.

Baca Juga: Olahraga Lari tidak Disarankan untuk Orang dengan Obesitas, Ini Penjelasan Dokter

"Me time karena bisa dengerin lagu, kadang ngomong sama diri sendiri, sambil kontemplasi atau dengerin podcast. Itu beneran healing buat aku."

Menurutnya, momen berlari memberikan ruang untuk berpikir, merenung, sekaligus melepas penat dari aktivitas sehari-hari.

Tokyo Marathon Jadi Titik Balik

Dari berbagai pengalaman yang pernah dijalani, Tokyo Marathon menjadi momen yang paling berkesan bagi Febby.

Baca Juga: 5 Olahraga Ini Bakar Kalori Lebih Banyak dari Lari, Efektif Turunkan Berat Badan

"Tokyo Marathon karena itu maraton pertama dan titik baliknya aku. Setelah finish, aku langsung bilang bahwa aku pengin lagi. Malah rasa sakit habis finish hilang, berubah jadi happy dan puas."

Pengalaman menyelesaikan maraton pertamanya itu justru membuat kecintaannya terhadap olahraga lari semakin besar.

Merasakan Perubahan Fisik dan Mental

Selama tiga tahun rutin berlari, Febby merasakan perubahan yang signifikan, baik dari sisi kesehatan maupun pola hidup.

Baca Juga: KORMI Sintang Bidik Penguatan Olahraga Masyarakat dan Agenda Tingkat Provinsi

"Fisik, jadi terasa lebih sehat karena kardio. Terus perubahan sikap, jadi lebih disiplin dan komitmen dalam mengatur waktu dalam segala hal."

Menurutnya, lari bukan hanya melatih tubuh, tetapi juga membantu membentuk kedisiplinan dan konsistensi dalam kehidupan sehari-hari.

Fokus Persiapan Menuju Sydney Marathon 2026

Menjelang Sydney Marathon 2026, Febby menjalani persiapan yang cukup serius dengan bantuan pelatih.

"Karena aku pakai coach, jadi ada program-program setiap harinya target berapa kilo. Jaga nutrisi dan mental juga. Apalagi, cuacanya juga berbeda di sini dan Australia. Maraton itu nggak cuma soal kemampuan, tapi it’s a mental game."

Baca Juga: 5 Rekomendasi Smartwatch Terbaik 2026 untuk Olahraga dan Aktivitas Harian dari Murah hingga Premium

Selain latihan fisik, ia juga memberi perhatian khusus pada aspek nutrisi dan kesiapan mental untuk menghadapi tantangan berlari sejauh 42 kilometer.

Outfit Jadi Penyemangat Saat Berlari

Menariknya, Febby memiliki cara tersendiri untuk menjaga motivasi selama menjalani latihan maupun saat mengikuti lomba.

Baca Juga: Benarkah Olahraga Malam Berbahaya? Tak Perlu Takut, Begini Penjelasan Dokter Soal Fakta Kortisol dan Dampaknya ke Otak

"Pertama adalah cari outfit yang matching. Itu bikin aku senang dan semakin semangat lari. Bonusnya, dapat foto-foto bagus yang bikin jadi lebih bersemangat. Terus, kacamata, topi, ikat rambut, dan lipstik supaya nggak pucet."

Bagi Febby, penampilan yang nyaman dan sesuai selera bisa menjadi tambahan semangat saat menaklukkan setiap kilometer yang harus ditempuh. (*)

Editor : Chairunnisya
#olahraga lari #marathon