Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ghost in the Cell Tembus 86 Negara, Rekor Baru Film Indonesia

Chairunnisya • Minggu, 14 Juni 2026 | 13:51 WIB
Para pemain dan kru Ghost in the Cell saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada April 2026. (DOK JAWAPOS)
Para pemain dan kru Ghost in the Cell saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada April 2026. (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Film Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Karya terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell, mencatat pencapaian internasional yang impresif bahkan sebelum resmi tayang di dalam negeri.

Film yang tayang pada 16 April 2026 itu telah diakuisisi oleh 86 negara. Angka tersebut melampaui capaian film Pengabdi Setan yang sebelumnya dirilis di 42 negara.

Dibeli Puluhan Negara Sebelum Tayang

Sejumlah negara yang telah membeli hak penayangan Ghost in the Cell antara lain Singapura, Malaysia, Thailand, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Austria, Polandia, Inggris Raya, Irlandia, hingga Australia.

Baca Juga: Anggun Ungkap Cara Mendalami Karakter Guru Asri di Para Perasuk

Film ini merupakan produksi Come and See Pictures yang bekerja sama dengan RAPI Films, Legacy Pictures, dan Barunson E&A sebagai sales agent global.

Menurut Joko Anwar, daya tarik utama film tersebut terletak pada cerita yang dekat dengan realitas dan dapat dipahami penonton di berbagai negara.

"Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia… tentang kekuasaan, sistem yang korup, dan orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya," ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Dari Cerita Lisan ke Layar Kaca, Legenda Padang 12 Diangkat Jadi Film dan Sempat Trending

Mengangkat Ketidakadilan yang Bersifat Universal

Ghost in the Cell mengusung genre komedi horor dengan latar kehidupan di dalam penjara. Ceritanya menyoroti konflik kekuasaan, ketidakadilan, hingga perjuangan untuk bertahan hidup.

Joko Anwar menilai tema yang diangkat memiliki kedekatan dengan banyak masyarakat di berbagai belahan dunia.

"Karena ketidakadilan itu bahasa universal, itulah kenapa 86 negara mau membeli hak penayangan film ini," lanjut Joko Anwar.

Baca Juga: Anggun Debut Akting di Para Perasuk, Sempat Abaikan DM Wregas Bhanuteja

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa cerita yang berakar pada realitas lokal dapat diterima secara luas ketika mengangkat persoalan yang relevan secara universal.

Bukti Daya Saing Film Indonesia

Capaian Ghost in the Cell menjadi salah satu pencapaian penting bagi industri perfilman Indonesia.

Film ini tidak hanya membawa nama Joko Anwar ke pasar internasional, tetapi juga menunjukkan bahwa karya sineas Indonesia memiliki daya saing yang semakin kuat di panggung global.

Dengan jangkauan distribusi yang luas, Ghost in the Cell menjadi salah satu film Indonesia dengan capaian internasional terbesar sebelum penayangan domestiknya. (*) 

Editor : Chairunnisya
#film #film horor #film indonesia