PONTIANAK POST – Film aksi Hong Kong The Furious resmi tayang di bioskop mulai 17 Juni 2026. Disutradarai Kenji Tanigaki, film ini tidak hanya menyajikan koreografi pertarungan kelas atas, tetapi juga mengangkat isu perdagangan manusia melalui kisah dua tokoh yang berjuang mencari orang-orang yang mereka cintai.
Di tengah derasnya film laga yang mengandalkan ledakan dan kekerasan semata, The Furious menawarkan pendekatan berbeda. Film ini memadukan aksi intens, investigasi kriminal, serta perjuangan kemanusiaan yang membuat penonton memiliki keterikatan emosional dengan para karakternya.
Kisah Perburuan Sindikat Perdagangan Manusia
Cerita berpusat pada Wang Wei yang diperankan Xie Miao, seorang ayah tuna wicara yang mencari putrinya setelah menjadi korban penculikan.
Dalam perjalanannya, ia bertemu Navin yang diperankan Joe Taslim. Navin adalah jurnalis investigasi yang berusaha mengungkap jaringan perdagangan manusia setelah istrinya menghilang secara misterius saat menyelidiki kasus serupa.
Keduanya kemudian bekerja sama membongkar sindikat kriminal yang beroperasi lintas wilayah dengan metode yang brutal dan terorganisir.
Isu perdagangan manusia menjadi fondasi cerita yang membuat film ini lebih dari sekadar tontonan aksi. Penonton diajak melihat dampak kejahatan tersebut terhadap keluarga korban dan orang-orang yang berjuang mencari keadilan.
Baca Juga: Yayan Ruhian Dipuji di The Furious, Fisik Tetap Prima di Usia Hampir 60 Tahun
Koreografi Laga yang Menjadi Kekuatan Utama
Salah satu daya tarik terbesar The Furious terletak pada adegan pertarungannya.
Kenji Tanigaki menyusun koreografi dengan detail tinggi melalui pengambilan gambar panjang atau long take. Teknik ini membuat setiap pukulan, tendangan, dan bantingan terlihat lebih nyata tanpa bergantung pada banyak potongan kamera.
Joe Taslim mengaku film ini menghadirkan koreografi pertarungan paling kompleks yang pernah ia jalani sepanjang kariernya.
"Yang membedakan film ini dari film laga lainnya adalah koreografinya yang sangat brilian dan baru buat saya," kata Joe Taslim dikutip dari Antara.
Parade Bintang Bela Diri Asia
Film ini mempertemukan sejumlah aktor laga dari berbagai disiplin seni bela diri Asia.
Joe Taslim membawa dasar judo yang telah menjadi ciri khasnya dalam berbagai produksi internasional.
Yayan Ruhian tampil dengan identitas pencak silat Indonesia yang agresif dan mematikan.
JeeJa Yanin menghadirkan teknik Muay Thai khas Thailand. Sementara Brian Le memperlihatkan kemampuan Extreme Martial Arts (XMA) dan Joey Iwanaga memamerkan tendangan akrobatik berkecepatan tinggi.
Perpaduan berbagai aliran bela diri tersebut menciptakan pertarungan yang terasa segar dan berbeda di setiap adegan.
Baca Juga: Joe Taslim Dalami Peran Jurnalis Investigasi di The Furious, Banyak Nonton Film Dokumenter
Reuni Joe Taslim dan Yayan Ruhian Setelah The Raid
Bagi penonton Indonesia, salah satu magnet terbesar film ini adalah kembalinya Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam satu layar.
Keduanya pernah mencuri perhatian dunia melalui film The Raid pada 2011 yang menjadi tonggak kebangkitan film aksi Indonesia di pasar internasional.
Dalam The Furious, keduanya tidak berada di pihak yang sama.
Joe tampil sebagai Navin, jurnalis investigasi yang berusaha membongkar jaringan perdagangan manusia. Sementara Yayan memainkan karakter yang memiliki keterkaitan erat dengan konflik utama.
Pertemuan dua ikon laga Indonesia ini menghasilkan sejumlah adegan yang menjadi puncak ketegangan cerita.
Navin, Karakter Paling Manusiawi yang Pernah Dimainkan Joe Taslim
Berbeda dari sejumlah karakter sebelumnya yang nyaris tak terkalahkan, Joe Taslim menyebut Navin sebagai sosok yang lebih realistis dan dekat dengan kehidupan manusia biasa.
Navin memang memiliki kemampuan bela diri. Namun kemampuan itu hanya menjadi alat bertahan hidup, bukan jaminan kemenangan.
Sepanjang film, ia mengalami kekalahan, terluka, dan harus bangkit kembali untuk melanjutkan perjuangannya.
"Selama ini aku main film karakternya cukup over the top. Di film ini dia adalah survivor," kata Joe.
Menurut Joe, sisi emosional inilah yang membuatnya jatuh cinta pada karakter tersebut.
Navin tidak hanya mencari istrinya yang hilang. Ia juga berusaha menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia.
Baca Juga: Sung Kang Sapa Penggemar di Indonesia, Bintang Fast & Furious Guncang ICE BSD
Motivasi tersebut membuat setiap adegan laga memiliki makna yang lebih dalam karena didorong oleh rasa kehilangan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
"Aku merasa ini sesuatu yang baru saat memerankan karakter dia, seorang suami mencari istrinya yang hilang. Dia bisa membela diri, tapi kita lihat dalam pertempuran dia adalah survivor, dan itu mengapa aku jatuh cinta sama karakter ini," ujar Joe.
Film Aksi yang Menawarkan Lebih dari Sekadar Pertarungan
Meski dipenuhi adegan laga brutal, The Furious tetap menyisipkan humor secara natural untuk menjaga ritme cerita.
Unsur investigasi jurnalistik dan perjuangan para korban perdagangan manusia membuat ketegangan terus terjaga hingga akhir film.
Kombinasi cerita yang kuat, aksi berkualitas tinggi, serta karakter yang memiliki kedalaman emosional menjadikan The Furious sebagai salah satu film laga Asia yang layak diperhitungkan pada 2026.
Bagi penggemar The Raid, John Wick, maupun film aksi modern yang mengutamakan koreografi pertarungan realistis, The Furious menawarkan pengalaman menonton yang sulit dilewatkan.*
Editor : Uray Ronald