PONTIANAK POST - Penjara menjadi tempat yang paling tepat untuk melihat bagaimana kekuasaan, jabatan, dan harta dapat memengaruhi kehidupan seseorang.
Gambaran itulah yang diangkat sutradara Joko Anwar melalui film terbarunya, Ghost in the Cell.
Dilansir dari Jawapos, film ini mengikuti kisah Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang hidupnya berubah drastis setelah menyelesaikan liputan khusus di Hutan Nehea, Kalimantan.
Baca Juga: Ghost in the Cell Tembus 86 Negara, Rekor Baru Film Indonesia
Dia dituduh sebagai pelaku pembunuhan Endy (Rio Dewanto), pemimpin redaksi tempatnya bekerja yang ditemukan tewas mengenaskan.
Sebagai orang pertama yang menemukan jasad atasannya, Dimas menjadi tersangka utama.
Padahal, konflik keduanya sebelumnya hanya berkaitan dengan artikel yang ditulis Dimas yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan atasannya.
Baca Juga: Film Sore: Istri dari Masa Depan Wakili Indonesia di Oscar 2026
Terjebak dalam Penjara Penuh Teror
Situasi semakin buruk ketika Dimas mendekam di penjara dan ditempatkan satu sel dengan Tokek (Aming), narapidana yang dikenal paling berbahaya.
Sejak kedatangannya, penjara berubah menjadi tempat penuh teror. Para narapidana mulai mengalami gangguan dari entitas gaib. Sejumlah tahanan tewas secara mengenaskan dan dipajang layaknya instalasi seni.
Ketimpangan yang Ditampilkan Secara Nyata
Di balik cerita horornya, Ghost in the Cell menyoroti ketimpangan sosial yang terjadi dalam sistem.
Film ini memperlihatkan adanya blok khusus narapidana kasus korupsi yang memiliki fasilitas mewah menyerupai hotel bintang lima. Sementara itu, narapidana lain harus bertahan dalam kondisi yang jauh berbeda.
Melalui gambaran tersebut, Joko Anwar menunjukkan bagaimana ketidakadilan dapat muncul bahkan di lingkungan yang seharusnya memperlakukan semua orang secara setara. (*)
Editor : Chairunnisya