Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Ghost in the Cell, Cerita Horor Penjara yang Menyoroti Ketimpangan Sosial

Chairunnisya • Senin, 22 Juni 2026 | 15:21 WIB
Dari kiri, Dimas (diperankan Endy Arfian), Anggoro (Abimana Aryasatya), Six (Yoga Pratama), Wildan (Mike Lucock), dan Irfan (Danang Suryonegoro) harus bersatu agar selamat dari teror mengerikan yang menewaskan sesama tahanan di penjara Labuhan Angsana. (DOK JAWAPOS)
Dari kiri, Dimas (diperankan Endy Arfian), Anggoro (Abimana Aryasatya), Six (Yoga Pratama), Wildan (Mike Lucock), dan Irfan (Danang Suryonegoro) harus bersatu agar selamat dari teror mengerikan yang menewaskan sesama tahanan di penjara Labuhan Angsana. (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Penjara menjadi tempat yang paling tepat untuk melihat bagaimana kekuasaan, jabatan, dan harta dapat memengaruhi kehidupan seseorang.

Gambaran itulah yang diangkat sutradara Joko Anwar melalui film terbarunya, Ghost in the Cell.

Dilansir dari Jawapos, film ini mengikuti kisah Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang hidupnya berubah drastis setelah menyelesaikan liputan khusus di Hutan Nehea, Kalimantan.

Baca Juga: Ghost in the Cell Tembus 86 Negara, Rekor Baru Film Indonesia

Dia dituduh sebagai pelaku pembunuhan Endy (Rio Dewanto), pemimpin redaksi tempatnya bekerja yang ditemukan tewas mengenaskan.

Sebagai orang pertama yang menemukan jasad atasannya, Dimas menjadi tersangka utama.

Padahal, konflik keduanya sebelumnya hanya berkaitan dengan artikel yang ditulis Dimas yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan atasannya.

Baca Juga: Film Sore: Istri dari Masa Depan Wakili Indonesia di Oscar 2026

Terjebak dalam Penjara Penuh Teror

Situasi semakin buruk ketika Dimas mendekam di penjara dan ditempatkan satu sel dengan Tokek (Aming), narapidana yang dikenal paling berbahaya.

Sejak kedatangannya, penjara berubah menjadi tempat penuh teror. Para narapidana mulai mengalami gangguan dari entitas gaib. Sejumlah tahanan tewas secara mengenaskan dan dipajang layaknya instalasi seni.

Ketimpangan yang Ditampilkan Secara Nyata

Baca Juga: Jumbo Resmi Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, Bakal Tayang di 17 Negara Lintas Benua Bulan Ini!

Di balik cerita horornya, Ghost in the Cell menyoroti ketimpangan sosial yang terjadi dalam sistem.

Film ini memperlihatkan adanya blok khusus narapidana kasus korupsi yang memiliki fasilitas mewah menyerupai hotel bintang lima. Sementara itu, narapidana lain harus bertahan dalam kondisi yang jauh berbeda.

Melalui gambaran tersebut, Joko Anwar menunjukkan bagaimana ketidakadilan dapat muncul bahkan di lingkungan yang seharusnya memperlakukan semua orang secara setara. (*) 

Editor : Chairunnisya
#film horor #film indonesia