PONTIANAK POST - Di balik kisah horor yang mencekam, Obsession menyimpan pesan mengenai ego, obsesi, dan keinginan mengendalikan orang lain demi memenuhi hasrat pribadi.
Kritik terhadap Cinta yang Dipaksakan
Dikutip dari Jawapos, dalam wawancara bersama Time, Curry Barker menjelaskan bahwa dia ingin memberi sentuhan dan perspektif baru dalam jenis cerita "impian yang membahayakan".
Baca Juga: Obsession Sajikan Horor Psikologis dari Cinta yang Berubah Menjadi Malapetaka
"Saat kita memohon sesuatu, pasti itu cenderung egois atau berpusat pada diri sendiri," ujar Barker.
Menurutnya, sifat egois Bear menjadi awal dari seluruh malapetaka karena ingin menjadi pusat perhatian Nikki.
Barker menambahkan bahwa Obsession menunjukkan sisi gelap seseorang yang ingin orang lain bertindak sesuai keinginannya.
Baca Juga: Film Obsession Suguhkan Horor Psikologis dengan Nuansa Gelap yang Konsisten
"Yang namanya cinta itu harus diupayakan. Selain itu, rasanya cara apapun mustahil," kata Barker.
Relevan dengan Fenomena Saat Ini
Michael Johnston, pemeran Bear, menilai karakter yang dimainkannya cukup dekat dengan kondisi saat ini.
"Bear adalah orang yang merasa nilai dirinya datang dari validasi orang lain. Saat dia ditolak, kebaikannya menguap karena dia hanya memikirkan dirinya sendiri," ujar Johnston dalam wawancara bersama Men’s Health.
Baca Juga: Lee Min Ho Tampil Beda di Film Thriller The Assassin(s), Bukan Peran Romantis
Sementara itu, Inde Navarrette mengaku proses membangun karakter Nikki menjadi tantangan tersendiri.
"Curry membuat naskah dan karakter Nikki dengan sangat baik. Aku serasa bermain rubik untuk memerankan berbagai versi Nikki. Aku pun membuat bayangan, bagaimana latar belakang Nikki untuk mencari tahu wataknya," ujar Navarrette dalam wawancara bersama Gold Derby.
Akting Navarrette dengan senyum lebar yang mengerikan serta teriakan histerisnya menjadi salah satu kekuatan utama film dalam membangun atmosfer horor, meski tanpa kemunculan hantu. (*)
Editor : Chairunnisya