PONTIANAK POST - Di balik adegan perang, monster, dan pelayaran panjang, The Odyssey menyimpan cerita yang lebih dekat dengan kehidupan manusia. Christopher Nolan menempatkan konflik batin sebagai pusat perjalanan Odysseus.
Kerinduan dan Rasa Bersalah Jadi Inti Cerita
Odysseus tidak hanya berjuang melawan badai dan monster, tetapi juga menghadapi rasa bersalah karena kehilangan rekan-rekannya serta kehancuran Troya.
Baca Juga: Film The Odyssey Hadirkan Petualangan Odysseus dengan Sentuhan Sinematik Kontemporer
Di saat yang sama, ia terus menahan kerinduan kepada Penelope dan Telemachus yang telah menunggunya hampir 20 tahun.
Makhluk-makhluk mitologi seperti Cyclops, Circe (Samantha Morton), siren, dan Calypso (Charlize Theron) bukan sekadar pelengkap petualangan. Kehadiran mereka memperkuat pergulatan tentang tanggung jawab, hasrat, cinta, dan kemanusiaan Odysseus.
Semua Tokoh Mendapat Ruang Berkembang
Baca Juga: Film Korean Haunted Hospital Dipuji di BIFAN, Anggy Umbara Dapat Apresiasi
Tak hanya berfokus pada Odysseus, Nolan juga memberi ruang bagi karakter lain.
Penelope tampil dengan kemarahannya, Telemachus tumbuh menjadi sosok dewasa, Antinous (Robert Pattinson) menunjukkan ambisinya, sementara Calypso dan Circe memiliki konflik masing-masing.
Dengan alur yang sesekali menggunakan kilas balik, The Odyssey memang menuntut perhatian penuh.
Baca Juga: Pierre Coffin Ubah Film Monster Jadi Komedi Lewat Minions & Monsters
Namun, bahkan bagi penonton yang belum akrab dengan mitologi Yunani, film ini tetap menawarkan pengalaman sinematik yang kuat melalui perpaduan visual megah dan penceritaan emosional khas Christopher Nolan. (*)
Editor : Chairunnisya