PONTIANAK POST - Film The Odyssey garapan Christopher Nolan mendapat sambutan positif dari banyak penonton di Yunani setelah tayang perdana, meski sebelumnya memicu perdebatan mengenai pemilihan pemeran Helen of Troy.
Respons tersebut muncul setelah masyarakat menyaksikan langsung adaptasi epos karya Homer yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Yunani selama hampir tiga milenium.
Di sejumlah bioskop di Athena pada akhir pekan pembukaan film, banyak penonton mengaku bangga melihat karya sastra klasik yang mereka pelajari sejak sekolah diangkat menjadi produksi berskala global.
Mereka menilai film tersebut berhasil menghadirkan kembali kisah Odysseus dengan pendekatan sinematik modern tanpa menghilangkan esensi cerita.
Baca Juga: Ryan Reynolds Konfirmasi Film Deadpool Baru Sedang Dikembangkan Marvel Studios
Pecahkan Rekor The Dark Knight Rises
Film The Odyssey juga mencatat performa komersial yang kuat pada akhir pekan pembukaannya.
Universal Pictures melaporkan film garapan Christopher Nolan itu meraup pendapatan sebesar US$264,1 juta secara global dalam tiga hari pertama penayangan, terdiri dari US$124,5 juta dari Amerika Serikat dan Kanada serta US$139,6 juta dari pasar internasional.
Capaian tersebut menjadi pembukaan box office global terbesar sepanjang karier Christopher Nolan, melampaui rekor sebelumnya yang dibukukan The Dark Knight Rises (2012).
The Dark Knight Rises (2012) membukukan pendapatan sekitar US$248,9 juta pada akhir pekan pembukaan global.
Baca Juga: Trailer Avengers: Doomsday Tembus 503 Juta View dalam 24 Jam, Antusiasme Penggemar MCU Memuncak
Penonton Yunani Menilai The Odyssey Tetap Menghormati Karya Homer
Costas Anastassiadis, 55 tahun, mengatakan film tersebut membangkitkan kembali kenangan saat mempelajari kisah Homer di bangku sekolah.
"Saya benar-benar terpikat. Film ini membawa saya kembali sekitar 45 tahun lalu ketika kami membaca kisah itu di sekolah," ujarnya, dikutip dari New York Times.
Menurutnya, teknologi visual yang digunakan Nolan justru mendukung kekuatan cerita. Ia menilai tokoh Odysseus tidak membutuhkan efek komputer yang berlebihan karena kekuatan utama cerita berasal dari teks karya Homer sendiri.
Kontroversi Casting Lupita Nyong'o Dinilai Tidak Mengganggu Cerita
Sebelum film dirilis, keputusan Christopher Nolan memilih Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy menuai kritik di Yunani. Perdebatan bahkan sempat melibatkan sejumlah anggota parlemen selama beberapa bulan.
Namun setelah film tayang, sebagian besar penonton menganggap polemik tersebut dibesar-besarkan. Anastassiadis menilai kehadiran Nyong'o justru memperkuat sifat universal karya Homer.
Sementara itu, sejumlah penonton lain menyebut kemunculan karakter Helen of Troy dalam film hanya berlangsung singkat sehingga tidak memengaruhi keseluruhan cerita.
Baca Juga: The Odyssey Tak Hanya Soal Petualangan, Tetapi Juga Pergulatan Emosi
Tanggapan Beragam Kritikus di Yunani
Harian Kathimerini menilai Christopher Nolan berhasil menjawab tantangan besar dengan memadukan epos klasik yang telah bertahan selama berabad-abad dengan pendekatan artistik modern.
Sementara itu, media budaya Athinorama memuji ambisi visual film tersebut, tetapi menilai adaptasi itu belum sepenuhnya menghadirkan kedalaman filsafat dan kompleksitas narasi yang terdapat dalam karya asli Homer.
Dosen Sastra Yunani Kuno Universitas Athena, Evgenia Makrygianni, mengatakan The Odyssey masih memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat Yunani modern.
Menurutnya, konsep nostos atau kerinduan untuk pulang yang menjadi inti perjalanan Odysseus memiliki keterkaitan dengan pengalaman sejarah Yunani, mulai dari perang, pengasingan, kesulitan ekonomi hingga migrasi.
"Odysseus melambangkan ketangguhan, tekad, dan kekuatan untuk bertahan menghadapi kesulitan," katanya.
Makrygianni menambahkan setiap generasi selalu menemukan makna baru dari karya klasik. Ia menilai Homer tidak berubah, tetapi cara pembaca memahami karyanya terus berkembang seiring perubahan zaman.
Banyak penonton mengaku tidak mempermasalahkan minimnya aktor Yunani dalam film tersebut.
Mereka justru merasa lebih dekat dengan latar alam Yunani yang digunakan Christopher Nolan saat proses syuting karena menghadirkan laut, cahaya, dan lanskap yang dianggap sesuai dengan dunia Homer.
Vangelis Dravopoulos, 17 tahun, mengatakan film tersebut membuatnya melihat kembali puisi Homer dari sudut pandang berbeda. Ia mengaku senang dapat menyaksikan adegan-adegan ikonik seperti Cyclops dan para raksasa yang sebelumnya hanya ia baca di sekolah.
"Saya bangga semua ini terjadi di negara kami dan orang-orang masih membicarakan The Odyssey ribuan tahun kemudian," katanya.
Baca Juga: Film The Odyssey Hadirkan Petualangan Odysseus dengan Sentuhan Sinematik Kontemporer
Meski banyak memperoleh apresiasi, tidak semua penonton memberikan penilaian positif. Christina Georgiou, 36 tahun, menilai film tersebut memukau secara visual tetapi kurang menggali kedalaman cerita Homer.
Menurutnya, adegan peperangan yang panjang dan kostum yang berlebihan membuat adaptasi itu terasa sangat bergaya Hollywood serta menyederhanakan kekayaan makna epos klasik.
Selain persoalan artistik, film tersebut juga memicu kritik politik sebelum dirilis. Laporan mengenai dukungan subsidi produksi lebih dari 6 juta euro dari pemerintah Yunani mendapat penolakan dari partai nasionalis Niki.
Namun, Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni memberikan pembelaan. Ia menegaskan negara tidak memiliki kewenangan untuk mengatur bagaimana seorang kreator menafsirkan sebuah karya sastra maupun mitologi secara artistik.*
Editor : Uray RonaldSumber : New York Times