PONTIANAK POST - Di balik kekuatan super dan pertarungan para mutan, X-Men ’97 Season 2 menyimpan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Serial ini kembali mengangkat kebencian dan diskriminasi berdasarkan identitas melalui kehidupan para mutan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu benang merah yang menghubungkan musim kedua dengan serial lawas dan musim pertamanya.
Baca Juga: X-Men ’97 Season 2 Hadirkan Tiga Masa Berbeda dan Ancaman Besar Apocalypse
Mutan Terbelah karena Diskriminasi
Kebencian terhadap mutan membuat mereka terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, termasuk X-Men yang dibentuk Profesor X, berupaya menciptakan kehidupan berdampingan dengan manusia.
Sementara itu, kelompok mutan lainnya memilih membalas dendam kepada dunia karena diskriminasi dan kebencian yang mereka alami.
Konflik tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman diskriminasi dapat memengaruhi cara seseorang melihat dunia.
Baca Juga: Spider-Man Brand New Day Padukan Drama, Humor, dan Aksi Spektakuler dalam Satu Film
Para mutan tidak hanya menghadapi ancaman dari musuh yang memiliki kekuatan super. Mereka juga harus menghadapi manusia biasa yang takut dan berprasangka terhadap keberadaan mereka.
Graydon Creed dan Prasangka terhadap Mutan
Salah satu tokoh manusia yang menjadi bagian dari konflik tersebut adalah Graydon Creed.
Creed membenci mutan dan menganggap keberadaan mereka harus diberantas. Sikap tersebut tidak muncul tanpa alasan.
Baca Juga: Lee Min Ho Jadi Reporter Muda Pemburu Kebenaran dalam Film Assassin(s)
Ia memiliki pengalaman buruk bersama mutan yang kemudian membuatnya berprasangka bahwa semua mutan adalah penjahat.
Persoalan tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman terhadap sebagian anggota kelompok dapat berkembang menjadi generalisasi terhadap seluruh kelompok.
Alegori tentang Diskriminasi
Kebencian dan diskriminasi yang dialami mutan menjadi alegori dari persoalan yang terjadi di dunia nyata.
Manusia dapat membenci atau menghina orang yang dianggap berbeda. Perbedaan tersebut bisa berkaitan dengan etnis, ras, agama, orientasi seksual, identitas gender, maupun identitas lainnya.
Baca Juga: Film Evil Dead Burn Hadirkan Teror Deadite Lewat Drama Keluarga dan Trauma
Semua diskriminasi berakar dari prasangka, stereotip, atau pengalaman buruk di masa lalu.
Masalahnya, pengalaman buruk terhadap sebagian anggota kelompok sering kali digeneralisasi seolah-olah seluruh kelompok memiliki sifat yang sama.
Ujaran Kebencian Memperburuk Situasi
Prasangka juga dapat semakin kuat ketika dipanaskan oleh ujaran kebencian dan dilegitimasi oleh penguasa yang bertindak semena-mena.
Baca Juga: Film Evil Dead Burn Buktikan Efek Practical Masih Efektif Membuat Horor Mencekam
Dalam kondisi seperti itu, kelompok yang menjadi sasaran kebencian semakin kehilangan ruang aman.
Melalui kehidupan para mutan, X-Men ’97 Season 2 memperlihatkan bagaimana perbedaan identitas dapat menjadi sumber konflik ketika dipenuhi prasangka dan kebencian. (*)
Editor : Chairunnisya