PONTIANAK POST – Pulang sendiri tengah malam menjadi pengalaman yang diangkat film pendek Ambang Batas untuk memperlihatkan perjuangan perempuan mempertahankan rasa aman di ruang publik. Film berdurasi 20 menit itu menyoroti pelecehan verbal, sikap seksis, dan pandangan merendahkan yang kerap dinormalisasi.
Film karya Nadina Habsjah dan Yusgunawan Marto tersebut tayang di kanal YouTube Playvul NYRA sejak Rabu (13/8). Sebelumnya, Ambang Batas telah diputar di sejumlah festival film, termasuk Final Girls Berlin Film Festival dan London International Fantastic Film Festival.
Perjalanan Pulang yang Berubah Menegangkan
Cerita berpusat pada Ginanti (Putri Ayudya), seorang psikolog yang pulang bekerja lewat pukul 23.00. Ia menaiki taksi yang dikemudikan Santoso (Rukman Rosadi) untuk menuju rumah.
Awalnya, percakapan keduanya berlangsung biasa. Namun, pertanyaan Santoso mengenai status pernikahan dan pilihan Ginanti mengejar karier perlahan membuat suasana berubah.
Santoso kemudian mempertanyakan keputusan Ginanti bekerja hingga larut malam. Pandangannya terhadap perempuan yang belum menikah dan bekerja mulai membuat Ginanti merasa tidak nyaman.
Situasi semakin tegang ketika Santoso mengarahkan taksi keluar dari jalur perjalanan Ginanti. Rasa aman perempuan yang awalnya hanya terusik oleh percakapan kemudian berubah menjadi ancaman yang lebih nyata.
Berangkat dari Pengalaman Perempuan
Nadina dan Amanda Simandjuntak, yang menulis naskah film, mengatakan karakter Ginanti dibentuk dari pengalaman mereka sebagai perempuan.
“Ada momen kami, perempuan, harus pulang sendiri tengah malam dan harus siaga di mana pun karena ada hal yang bikin nggak nyaman di ruang publik,” kata Nadina.
Amanda mengatakan salah satu pengalaman yang menjadi perhatian adalah pertanyaan seksis yang kerap diterima perempuan di transportasi umum.
“Kayak misalnya kapan nikah, itu mengganggu dan melecehkan tapi dinormalisasi,” ujarnya.
Kata-Kata Bisa Mengusik Rasa Aman
Ambang Batas tidak hanya menggambarkan pelecehan melalui tindakan fisik. Film tersebut memperlihatkan bagaimana kata-kata, penghakiman, dan sikap meremehkan juga dapat membuat perempuan merasa terancam.
Ketegangan dibangun melalui dialog antara Ginanti dan Santoso. Percakapan yang awalnya sederhana perlahan berubah menjadi tekanan psikologis bagi Ginanti.
Rukman Rosadi berhasil menghidupkan karakter sopir dengan pandangan misoginis dan patriarkis. Putri Ayudya juga memperlihatkan perubahan emosi Ginanti ketika rasa nyaman dan aman yang dimilikinya perlahan hilang.
Dari Drama Menjadi Thriller
Nadina, Yusgunawan, dan Amanda mengemas Ambang Batas sebagai drama yang berkembang menjadi thriller. Scoring dan pencahayaan gelap memperkuat suasana tidak nyaman sepanjang perjalanan Ginanti.
“Awalnya film ini drama karena ceritanya terbentuk dari perbedaan nilai para tokoh. Tapi di akhir ada twist yang mengubah film jadi thriller,” kata Amanda.
Pada bagian akhir, sisi lain Ginanti terungkap. Karakternya sebagai psikolog yang memiliki empati besar terhadap klien justru menjadi bagian penting dari perkembangan cerita.
“Dia ini psikolog yang punya empati besar pada klien-kliennya. Empati itu di-twist menjadi bentuk tindakan,” ujarnya.
Ruang Aman Perempuan Masih Jadi Persoalan
Melalui satu perjalanan malam, Ambang Batas memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat yang tidak selalu aman bagi perempuan. Pelecehan tidak selalu hadir dalam bentuk sentuhan atau tindakan seksual, tetapi juga melalui perkataan dan sikap yang merendahkan.
Film tersebut sekaligus mempertanyakan kebiasaan menormalisasi pertanyaan seksis sebagai sekadar basa-basi. Bagi perempuan yang mengalaminya, perkataan tersebut dapat menjadi pengalaman yang mengganggu dan meninggalkan rasa tidak nyaman.
Sebagai film pendek, Ambang Batas menyampaikan persoalan tersebut dalam cerita yang sederhana, tetapi berkembang menjadi situasi penuh tekanan dalam perjalanan pulang seorang perempuan.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro