PONTIANAK POST – Film Tiongkok Dear You (2026) mengangkat kisah keluarga dan perjalanan masyarakat Teochew dari kawasan Chaoshan, Guangdong, menuju Asia Tenggara. Film garapan Lan Hongchun itu menggunakan bahasa Teochew sebagai bahasa utama dan menjadikan tradisi qiaopi sebagai salah satu unsur penting dalam cerita.
Dear You mengikuti dua alur waktu yang saling berkaitan. Salah satunya mengisahkan seorang cucu yang pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya, sementara alur lainnya bercerita tentang seorang laki-laki yang meninggalkan China menuju Asia Tenggara untuk mencari pekerjaan pada era 1940-an.
Kisah tersebut memperlihatkan pengalaman perantauan yang tidak hanya berkaitan dengan perjalanan mencari kehidupan lebih baik, tetapi juga hubungan dengan keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman.
Baca Juga: Ruben Onsu Jadi Tersangka, Investasi Rp3,5 Miliar Berujung Kasus Hukum
Qiaopi Menjadi Pengikat Keluarga
Salah satu elemen utama dalam Dear You adalah qiaopi, tradisi surat yang dikirim perantau Tionghoa kepada keluarga di kampung halaman dan berkaitan dengan kiriman uang.
Dalam film, surat-surat tersebut menjadi penghubung antargenerasi. Pesan yang ditinggalkan para perantau memperlihatkan bagaimana hubungan keluarga tetap dipertahankan meskipun terpisah jarak dan waktu.
Alur cerita kemudian mempertemukan masa lalu dengan generasi masa kini. Seorang cucu berusaha mencari kakeknya yang telah lama meninggalkan China dan pergi ke Thailand.
Pencarian tersebut justru membawa sejumlah kenyataan yang tidak sesuai dengan cerita yang selama ini diketahui keluarga.
Baca Juga: Feng Shui Taman Rumah: Hindari Bentuk Segitiga dan Perhatikan Letak Tanaman
Bahasa Teochew Jadi Identitas Film
Penggunaan bahasa Teochew menjadi salah satu kekuatan utama Dear You. Film tersebut hampir seluruhnya menggunakan dialek Teochew sehingga pengalaman para tokohnya terasa lebih dekat dengan latar budaya yang diangkat.
Kehadiran film tersebut juga mendapat perhatian besar di Singapura, negara yang memiliki komunitas keturunan Teochew cukup besar.
Pada awal penayangannya, 4.800 tiket untuk delapan pemutaran versi Teochew terjual habis dalam waktu sekitar dua jam. Antusiasme tersebut kemudian mendorong penambahan jadwal pemutaran.
Baca Juga: Melihat Jejak Peradaban Hakka di Hang Mui Singkawang yang Masih Bertahan Hingga Kini
CNA juga melaporkan bahwa tambahan pemutaran versi Teochew kembali mendapat respons kuat. Sebanyak 4.800 tiket tambahan dilaporkan habis terjual sekitar satu jam setelah dibuka.
Respons tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam Dear You tidak sekadar menjadi pilihan artistik, tetapi juga berkaitan dengan identitas dan warisan budaya masyarakat Teochew.
Perdebatan Bahasa di Singapura
Penayangan Dear You dalam bahasa Teochew turut memunculkan pembicaraan mengenai keberadaan bahasa-bahasa dialek Tionghoa di Singapura.
Infocomm Media Development Authority (IMDA) menyatakan film dengan penggunaan dialek secara penuh dapat diputar dalam acara festival atau pemutaran khusus. Untuk penayangan umum, versi Dear You yang digunakan adalah versi sulih suara Mandarin.
IMDA menjelaskan kebijakan tersebut berkaitan dengan pendekatan bilingual yang menempatkan Mandarin sebagai bahasa utama masyarakat Singapura keturunan Tionghoa.
Namun, tingginya permintaan terhadap versi Teochew membuat pemerintah mengambil pendekatan yang lebih fleksibel terhadap permohonan pemutaran film tersebut.
Kisah Diaspora yang Menembus Batas Negara
Kekuatan Dear You tidak hanya terletak pada kisah keluarga, tetapi juga pada pengalaman diaspora yang dibawanya.
Cerita tentang meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan, membangun kehidupan di negara lain, dan tetap menjaga hubungan dengan keluarga menjadi bagian penting dalam film.
Clover Films, distributor film tersebut di Singapura, menyebut Dear You memiliki kaitan dengan sejarah migrasi dan nilai keluarga yang menghubungkan masyarakat di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Dengan latar perjalanan dari China menuju Asia Tenggara, film ini memperlihatkan bagaimana pengalaman perantauan dapat diwariskan melalui cerita, bahasa, dan surat-surat keluarga.
Dear You Jadi Fenomena di Singapura
Antusiasme masyarakat terhadap versi Teochew terus berkembang setelah pemutaran awal. Golden Village dan Clover Films kemudian memperluas pemutaran untuk menjawab permintaan penonton.
CNA melaporkan, rangkaian pemutaran tambahan versi Teochew bahkan kembali disambut antusias hingga mendorong permintaan penambahan jadwal berikutnya.
Bagi masyarakat keturunan Teochew, Dear You akhirnya menjadi lebih dari sekadar film keluarga. Bahasa dan kisah yang ditampilkan membawa kembali memori tentang perjalanan generasi sebelumnya.
Film ini mempertemukan keluarga, migrasi, bahasa, pengorbanan, dan identitas diaspora dalam satu cerita. Dari Chaoshan hingga Thailand dan Singapura, Dear You memperlihatkan bagaimana perjalanan para perantau tetap hidup dalam ingatan generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kisah orang Teochew yang ditampilkan dalam Dear You bukan semata cerita tentang seseorang yang meninggalkan tanah kelahirannya. Film ini menggambarkan bagaimana para perantau membawa harapan ketika meninggalkan rumah, menjaga hubungan melalui surat dan kiriman uang, lalu membangun kehidupan baru jauh dari kampung halaman. (*)
Editor : Rafael B. Junior