Agensi Rumah Tangga Angkat Kisah Perempuan dan Perjuangan Mencari Kerja

Chairunnisya • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 18:03 WIB
Cuplikan adegan dalam Film Agensi Rumah Tangga (STARVISION/DOK JAWAPOS)
Cuplikan adegan dalam Film Agensi Rumah Tangga (STARVISION/DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Film Agensi Rumah Tangga tidak hanya menghadirkan drama dan komedi seputar kehidupan asisten rumah tangga.

Ceritanya juga mempertemukan dua kelompok masyarakat dengan persoalan pekerjaan yang berbeda.

Di satu sisi terdapat kelompok menengah ke atas urban yang menghadapi kesulitan mencari pekerjaan dalam kondisi ekonomi yang carut-marut.

Baca Juga: Festival Film Pelajar dan Mahasiswa Kalbar: Ketika Anak Muda Kalbar Bercerita Lewat Layar

Di sisi lain, ada masyarakat menengah ke bawah yang mendambakan pekerjaan di kota besar.

Cerita tentang Perjuangan Mencari Kerja

Dalam ulasan Jawapos, disebutkan keinginan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu hal yang membuat cerita Agensi Rumah Tangga terasa relevan.

Film besutan sutradara Naya Anindita tersebut memperlihatkan bagaimana pekerjaan menjadi bagian penting dari kehidupan sejumlah karakter.

Baca Juga: Ode to Love Terjual Sejuta Kopi, NCT WISH Catat Pertumbuhan Besar

Kisah itu antara lain hadir melalui Katia (Enzy Storia), yang harus mencari cara untuk bertahan setelah terkena PHK.

Katia kemudian memilih membuka agen penyalur ART sebagai jalan untuk mendapatkan penghasilan sekaligus membangun pekerjaan baru.

Perbedaan Pandangan Katia dan Titin

Selain persoalan pekerjaan, Agensi Rumah Tangga juga menghadirkan hubungan Katia dengan ibunya, Titin (Unique Priscilla).

Baca Juga: Agensi Rumah Tangga, Kisah Katia Bangun Bisnis Penyalur ART

Keduanya memiliki perbedaan prinsip mengenai karier dan kesuksesan. Titin sebagai orang tua ingin anaknya memiliki masa depan cerah, sementara Katia memiliki pilihan sendiri mengenai jalan yang ingin ditempuh.

Perbedaan pandangan antara anak dan ibu tersebut menjadi salah satu bagian yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dinamika hubungan keduanya menjadi poin menarik dalam cerita, meski persoalan tersebut dinilai belum terlalu didalami.

Perempuan dalam Beban Ekonomi Keluarga

Agensi Rumah Tangga juga mengangkat fenomena absennya tanggung jawab laki-laki dalam keluarga.

Baca Juga: Dari Penyanyi ke Aktris, Shanna Shannon Hadapi Tantangan Film Pertama

Para ART digambarkan sebagai perempuan yang harus bekerja mencari nafkah sekaligus merawat keluarga. Kondisi tersebut terjadi karena suami atau anggota keluarga laki-laki mereka enggan bekerja atau terpaksa menganggur.

Persoalan tersebut membuat pekerjaan ART tidak hanya ditampilkan sebagai aktivitas mencari penghasilan, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab keluarga.

“ART itu juga manusia, bukan mesin kerja,” kata Upi, menyorot isu humanis dari ART yang hendak diangkat dalam Agensi Rumah Tangga.

Baca Juga: Film The End of Oak Street Hadirkan Teror Dinosaurus Tanpa Teknologi Modern

Melalui persoalan pekerjaan dan keluarga, film ini mencoba menempatkan kehidupan para ART sebagai bagian penting dari cerita. (*) 

Editor : Chairunnisya
Agensi Rumah Tangga Naya Anindita film indonesia art isu perempuan