PONTIANAK POST - Film Indonesia kembali mendapat tempat dalam ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2026.
Tahun ini, empat film Indonesia resmi terpilih untuk diputar dalam festival yang berlangsung pada 6–15 Oktober mendatang.
Salah satunya adalah Ibuku (My Mother) karya sutradara Eddie Cahyono yang akan menjalani world premiere di BIFF 2026.
Baca Juga: Empat Film Indonesia Tembus BIFF 2026, Laut Bercerita Masuk Kompetisi Utama
Film tersebut akan bersaing dengan 13 film lainnya dari berbagai negara Asia.
Kisah Ibu Mencari Anaknya
Dalam ulasan Jawapos disebutkan Ibuku berkisah tentang Sumiati, diperankan Christine Hakim, seorang ibu yang berusaha menemui anaknya, Sri, yang diperankan Ayushita.
Baca Juga: Joko Anwar dan Hanung Bramantyo Rayakan Enam Film Indonesia di BIFAN
Sri divonis hukuman mati dan menjalani hukuman di penjara Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya.
Kisah tersebut menjadi perjalanan seorang ibu dalam menghadapi situasi yang dialami anaknya.
Perjalanan Ibuku menuju Busan sebenarnya telah dimulai hampir satu dekade lalu. Eddie Cahyono mulai mengembangkan cerita film tersebut pada 2015.
Kala itu, proyek Ibuku lolos ke Asian Project Market di Busan dan meraih ARTE Kino International Award untuk pengembangan naskah.
Baca Juga: Enam Film Indonesia Lolos Seleksi Resmi Bucheon International Fantastic Film Festival 2026
Namun, film tersebut baru mendapat lampu hijau untuk diproduksi pada 2024.
’’Ibu itu sangat personal, tapi juga sangat universal buat semua orang,’’ kata Tika Bravani, produser, melalui ANP Talenta Media, dikutip dari Jawapos.
Menggunakan Seluloid 16 Milimeter
Selain dari sisi cerita, Ibuku juga memiliki pendekatan visual yang khas.
Film ini direkam menggunakan format seluloid 16 milimeter yang kini jarang digunakan dalam produksi film panjang.
Baca Juga: Morgan Oey Kaget Dipilih Menjadi Duta Festival Film Indonesia 2026
Pilihan format tersebut berkaitan dengan cara Eddie Cahyono menerjemahkan ingatan ke dalam gambar.
Karakter visual yang dihasilkan diharapkan dapat menggambarkan cara memori manusia bekerja.
Memori dapat terlihat jelas di satu sisi, tetapi terasa buram di sisi lainnya.
Baca Juga: Ghost in the Cell Tembus 86 Negara, Rekor Baru Film Indonesia
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari cara film membangun pengalaman visual dalam menyampaikan kisah Sumiati dan Sri. (*)
Editor : Chairunnisya