Covid-19 membuat Ridwansyah Yusuf Achmad punya lebih banyak waktu berkualitas dengan istri. Mereka sama-sama menjadi pasien positif Covid-19 di RS Hasan Sadikin Bandung. Kini, setelah sembuh, dia tinggal menanti waktu bertemu dengan sang buah hati.
BAYU PUTRA-MUCHAMAD DIKDIK, Bandung
Ridwansyah Yusuf Achmad, 32, termasuk orang-orang pertama yang berkesempatan menjajal alat tes cepat Covid-19 bantuan Korea Selatan untuk Jawa Barat. Siapa sangka, dari hasil tes itu diketahui dia positif.
Sebagai salah seorang staf khusus Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Yusuf memang punya riwayat perjalanan ke luar negeri. Juga berhubungan dengan banyak WNA karena dia membidangi kerja sama internasional dan investasi.
Pada 1 Maret lalu, dia kembali dari Australia. Esok harinya, dia diminta bertemu Emil, sapaan Ridwan Kamil, di rumahnya. Pada hari itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Pembicaraan dengan Emil itu khusus membahas kasus pertama tersebut. Dia diminta menghubungi jaringannya di luar negeri untuk bisa mendapatkan alat tes lab Covid-19.
Emil berpikir bahwa tidak mungkin mengandalkan pusat karena jumlah warga Jabar mencapai 50 juta jiwa. Singkat cerita, Korea Selatan memberikan bantuan alat tes virus untuk Jawa Barat. Saat itu, pemprov mengumumkan bahwa semua orang yang pernah ke luar negeri atau kontak dengan WNA diminta untuk menjalani tes.
Pada 15 Maret, Gubernur Emil memulai sebagai yang pertama dites. Sementara itu, Yusuf berada di urutan ketiga. Hasil tes proaktif tersebut bisa diketahui dalam waktu singkat. Pukul 10.00 tes, pukul 18.00 hasilnya keluar. Ternyata Yusuf positif. ’’Kalau hari itu nggak ada tes, nggak akan ketahuan positif,’’ tuturnya pada Rabu (8/4).
Yusuf bisa dikatakan nyaris tanpa gejala. Tiga hari sebelumnya, Yusuf memang merasa kurang enak badan. Badannya menggigil. Namun, suhu tubuhnya masih normal di kisaran angka 37 derajat Celsius. Dia juga sempat batuk dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Karena itu, dia mengambil kesimpulan bahwa saat itu dirinya kelelahan dan flu biasa karena agenda yang padat.
Dia juga tidak mengalami sesak napas. Padahal, pada hari pertama isolasi, hasil rontgennya menunjukkan ada sedikit gejala pneumonia. Namun, gejala itu hilang saat rontgen berikutnya 3–4 hari kemudian. Yusuf menjadi pasien positif ke-11 di Jawa Barat dan 130 sekian di Indonesia.
Sehari setelah tes tersebut, Yusuf dijemput ambulans untuk dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung. Sang istri, Dwi Yohafetri Yuna, beserta putranya yang berusia 7 tahun juga dites Covid-19. Hasilnya, Dwi positif, sedangkan sang buah hati negatif.
Sehari setelah Yusuf masuk ruang isolasi, sang istri menyusul. Mereka diisolasi di satu ruangan. Baru dua hari kemudian, mereka dipindahkan ke ruangan yang lebih besar berkapasitas enam pasien karena gejalanya semakin sedikit. Sementara itu, sang buah hati oleh Gubernur Emil diputuskan untuk diinapkan di kediamannya bersama adik sang istri.
Ketika kali pertama diberi tahu positif Covid-19, Yusuf tidak panik. Dia memilih memberi tahu semua kawan dekatnya. Terutama yang berinteraksi dengan dia 14 hari ke belakang. ’’Jadi, setelah saya positif, banyak yang di-swab, seratusan,’’ tuturnya. Sebab, mereka semua masuk dalam tracing kontak dekat. Untung, mereka semua negatif.
Empat hari setelah isolasi di RS, Yusuf membuat posting-an di akun Instagram tentang sakitnya. Juga menyampaikan ke grup WhatsApp yang lebih luas. Respons mereka justru positif. Banyak yang mendoakan.
Menurut pria kelahiran Jakarta itu, seseorang yang dinyatakan positif Covid-19 lebih baik terbuka. Covid-19 bukanlah aib. Problem Covid-19 ini bukan pada penyakitnya, melainkan persebarannya yang begitu cepat. ’’Justru dengan mengakui, we protect our friends (kita melindungi teman-teman kita),’’ tuturnya.
Tantangan terberat Yusuf selama masa isolasi di RS adalah rasa bosan. Dia yang biasanya aktif mendampingi gubernur tiba-tiba hanya boleh berada di kamar. Untuk mengisi waktu, dia tetap aktif bekerja secara daring sesuai tupoksinya. Kebetulan, pihak RS mengizinkan dia membawa ponsel dan tabletnya. Dia juga lebih banyak beribadah.
Sisi positif selama karantina, Yusuf punya lebih banyak waktu berkualitas bersama istri. Setelah dipindah ke kamar yang lebih besar, mereka dipisah. Namun, Yusuf boleh mengunjungi bangsal Dwi. Mereka lebih sering mengobrol dalam waktu yang panjang. Hal yang sebelumnya jarang terjadi karena kesibukan kerja. ’’Empat belas hari ini saya belajar mengenal istri lebih dalam. Saya belajar untuk menyayanginya lebih baik, dia pun sabar atas situasi yang ada,’’ kata Yusuf.
Masa isolasi Yusuf berlangsung selama 14 hari. Pada hari ke-14, hasil tes terakhir negatif. Yusuf dinyatakan sembuh pada 30 Maret lalu dan boleh pulang. Begitu pula sang istri. Namun, saat pulang, Dwi belum dinyatakan negatif. Pihak RS mengizinkan pulang dengan catatan Dwi melaksanakan isolasi mandiri.
Dengan kondisi itu, di dalam rumah pun mereka konsisten menjaga jarak. Misalnya, menggunakan kamar mandi yang berbeda. Yusuf membenarkan bahwa rasanya memang mirip seperti pacaran. ’’Serumah tapi tetap nggak boleh dekat-dekat,’’ ujarnya, lantas tertawa. Yang kurang hanya kehadiran anak. Sebab, mereka baru boleh bertemu anak paling cepat pertengahan bulan ini.
Banyak sisi positif yang dialami Yusuf pascasembuh. Salah satunya adalah berat badannya yang turun. ’’Turun tujuh kilogram. Saya sebut saja, dari 92 ke 85,’’ ujarnya.
Lewat sakit itu pula, Yusuf belajar untuk mengurangi ritme alias slow down. Pekerjaan yang dilakukan secara daring dari RS dengan porsi dikurangi ternyata masih bisa terselesaikan. Begitu pulang ke rumah, dia juga kembali bekerja normal dengan sistem daring.
Meski intensitasnya lebih padat, dia tidak lagi perlu keluar rumah sehingga menghemat waktu di jalan. Yang tadinya harus ke sana sini ternyata bisa dikerjakan dari rumah. Perilaku secara umum menjadi berubah. Lebih rileks dalam menyikapi hidup dan tidak begitu ngoyo lagi. Bila biasanya punya banyak keinginan, kini lebih mampu mengerem keinginan itu sehingga tingkat stres juga menurun. Karena itu, dia memberikan sejumlah tip agar kita tidak panik dalam menghadapi Covid-19. Khususnya bila kita adalah pasien positif Covid-19. ’’First thing to do (hal pertama yang harus dilakukan), ketika dinyatakan Covid-19, adalah stay cool (tenang),’’ ucapnya. Langkah berikutnya adalah langsung mengisolasi diri secara fisik dari siapa pun.
Tahap selanjutnya, memberi tahu keluarga dan teman terdekat. Khususnya yang ditemui setidaknya dalam dua pekan terakhir. Pemberitahuan itu punya satu misi. Yakni, menyelamatkan mereka beserta keluarga dan lingkar pergaulannya. Mereka bisa segera ditangani sebagai orang dalam pemantauan (ODP). Bila hasilnya negatif disyukuri dan bila positif diisolasi.
Cerita kesembuhan juga datang dari Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana. Sejak 4 hingga 22 Maret lalu, nama Yana tak tercantum dalam siaran rutin agenda Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Pada 23 Maret, Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengabarkan bahwa Yana tengah sakit. Lewat unggahan video di akun media sosial miliknya, Yana menyampaikan bahwa dirinya positif Covid-19. ’’Jujur saya terpukul saat tahu pertama. Yang saya ingat adalah kematian,” ujarnya di Bandung, Minggu (5/4).
Setelah menjalani masa isolasi 11 hari, Yana pulih. Setelah melewati serangkaian tahap perawatan hingga dinyatakan sembuh, Yana bersyukur dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. ’’Saya sangat bersyukur, Allah masih sayang sama saya,’’ ujar Yana yang sudah bekerja lagi 3 April lalu. (*/c7/ayi) Editor : Super_Admin