Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah Ahmad Ramdhani, Warga Kubu Raya Sukarelawan RSD Covid-19 Wisma Atlet

Administrator • Senin, 20 April 2020 | 11:20 WIB
Photo
Photo
Tangani Pasien yang Ingin Bunuh Diri, Berharap Pulang dengan Selamat

Ahmad warga Kabupaten Kubu Raya menjadi salah satu sukarelawan yang merawat puluhan pasien Covid-19 di RSD Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Suka duka ia alami setelah lebih dari dua minggu bertugas. Berikut sekelumit kisahnya!

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

SEJAK pemerintah menetapkan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta menjadi Rumah Sakit Darurat (RSD) Penanganan Covid-19 pada 23 Maret 2020 lalu, tenaga medis dari berbagai penjuru Indonesia ramai mendaftarkan diri menjadi sukarelawan. Ahmad Ramdhani salah satunya. Pria asal Kabupaten Kubu Raya itu rela berjuang demi tuntasnya bencana pandemi Covid-19 di tanah air.

Pria 24 tahun itu bercerita, dia mulai mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada 20 Maret 2020, namun ia baru benar-benar bisa berangkat pada 31 Maret 2020. Tekadnya bulat dan tak ada alasan lain selain ingin berjuang dalam menuntaskan bencana terbesar, pandemi Covid-19 yang luar biasa ini. "Saya berangkat dengan optimisme dan pastinya menggunakan biaya pribadi," ungkapnya, Minggu (19/4).

Sesampainya di Jakarta ia langsung menuju Posko Sukarelawan di Hotel Media and Tower, Jakarta. Warga Desa Punggur 1 itu lantas melakukan registrasi dan menunggu arahan untuk mengikuti Medical Check Up (MCU). Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu kemudian mendapat jadwal MCU pada 1 April 2020.

"Setelah medical check up saya kira langsung terjun ke RSD Wisma Atlet, ternyata saya harus menunggu hingga sehari ke depan untuk hasil MCU tersebut, apakah saya layak atau tidak menjadi sukarelawan. Tidak dipungkiri ada juga relawan yang tidak fit dan dikembalikan lagi," katanya.

Barulah pada 2 April 2020 ia diagendakan berangkat ke RSD Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Sampai di sana, ia pun tak lantas bertugas. Ada beberapa prosedur yang harus dilalui, di antaranya mengikuti rapid test, pembekalan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi, tata cara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan sistem IT yang digunakan di bangsal. "Jadi untuk masuk ke RS ini lumayan rumit dan harus sedikit bersabar," ucapnya.

Dua hari kemudian, 4 April 2020 hari pertama ia bertugas dan tergabung dalam kelompok C. Hari itu ia mendapat tugas siang dari pukul 14.30-22.30 WIB. Kala itu, ia bertugas di lantai 27, di mana dihuni oleh mayoritas pasien luar negeri. Sebagian asal Bangladesh, Arab saudi, India dan Pakistan. "Ada juga pasien dari Indonesia," ujarnya.

Pahit getir ia rasakan selama bertugas, mulai dari penggunaan APD yang berjam-jam. Selama 8-11  jam, para perawat ini dituntut menahan makan minum, Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK). Bahkan terkadang penggunaan masker yang terlalu lama membuat sebagian wajah terluka. Penggunaan kaca mata google juga tidak semudah yang dilihat. Jika kacamata tersebut terus digunakan maka akan berembun. Akibatnya, tindakan yang memerlukan pandangan teliti agak sedikit terganggu misalnya saat mengambil sampel darah.

"Terlebih lagi pasien yang memiliki kerterbatasan memahami bahasa, tidak bisa bahasa Inggris, sehingga terkadang bahasa tubuh yang saya gunakan agar sama-sama memahami," ceritanya.

Ahmad mengungkapkan, aktivitas rutin yang dilakukan sukarelawan adalah memonitor penggunaan obat. Pasien harus meminum obat sesuai prosedur yang telah ditentukan oleh dokter, baik itu pasien rapid test reaktif maupun pasien positif swab.

Untuk saat ini pasien yang dirawat oleh Ahmad mencapai sekitar 55 orang. Sementara, jumlah perawat yang berjaga hanya dua sampai tiga orang. Meski demikian, ia mengaku bersyukur bisa bergabung di Satgas Covid-19 RSDC Wisma Atlet Kemayoran. "Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di sini. Saya hanya berharap dapat pulang dengan selamat dan dapat bertemu dengan keluarga seperti saat saya mau berangkat," harapnya.

Alumni SMP Karya Nyata itu mengimbau masyarakat Indonesia, khususnya warga Kalbar untuk selalu mengikuti arahan pemerintah. Terutama anjuran untuk tetap berdiam diri di rumah, beraktivitas (olahraga) dan tidur cukup, serta mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi. "Itu supaya imun kita menjadi kuat dan bisa kebal terhadap virus corona. Selalu menggunakan masker terutama saat di keramaian, dan tidak termakan berita hoaks yang beredar," pesannya.

Ahmad mengatakan, penyakit Covid-19 bukanlah sebuah aib. Ia merasa kasihan melihat pasien yang sedang diterpa ujian penyakit tersebut. Tidak hanya harus berjuang dengan penyakitnya, mereka juga harus melawan stigma negatif dari masyarakat.

"Terkadang ada beberapa pasien yang mengalami stres, hingga terjadi panic attack. Bahkan ada yang sempat menyerang petugas hingga terluka. Parahnya lagi, ada yang sampai ingin bunuh diri," kenangnya.

Lulusan SMA 1 Sungai Kakap itu mengajak semua untuk ‘merangkul’ pengidap Covid-19 sampai benar-benar bisa memusnahkan virusnya. Kondisi di sana menurutnya tidak seekstrem yang diberitakan.

Wisma Atlet saat ini sudah menampung lebih dari seribu pasien. Sekitar 90 persen dari mereka tanpa gejala apapun. Lalu sudah lebih dari 300 pasien yang sembuh dan pulang ke rumah. "Maka dari itu pentingnya kita harus selalu menjaga jarak aman dan selalu menjaga kebersihan," tutupnya. (*)

  Editor : Administrator
#covid-19 #features