Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jadikan Drone Sebagai Penabur Benih dan Pupuk

Administrator • Minggu, 27 September 2020 | 01:33 WIB
TERUS BERINOVASI: Susilawati (kanan) sedang memeriksa tanaman padi dari komunitas petani padi yang didampinginya. Foto kanan, drone hasil inovasi balitbangtan yang sudah diujikan di lahan percontohan food estate.  DOKUMENTASI SUSILAWATI/ LILIK TRI MULYANT
TERUS BERINOVASI: Susilawati (kanan) sedang memeriksa tanaman padi dari komunitas petani padi yang didampinginya. Foto kanan, drone hasil inovasi balitbangtan yang sudah diujikan di lahan percontohan food estate. DOKUMENTASI SUSILAWATI/ LILIK TRI MULYANT
Mereka yang Bekerja di Balik Persiapan Megaproyek Food Estate

Kepada para petani di lahan percontohan lumbung pangan, mereka memperkenalkan beragam teknologi. Mulai pengukuran pH air sampai dengan pengendalian drone.

HILMI SETIAWAN, Jakarta 

PETANI main drone? Kenapa tidak. Toh, peranti itu sangat membantu. Bukan untuk mengambil foto, melainkan menabur benih dan pupuk.

’’Ke depan kami memang berharap operator drone dari perwakilan kelompok tani,” kata Lilik Tri Mulyana, perekayasa Balitbangtan Kementerian Pertanian (Kementan).

Lilik-lah yang pada 2018 memodifikasi sebuah drone sehingga mampu mengangkut benih belasan kilogram. Secara teknis bagian untuk menampung benih atau pupuk itu berada di bawah badan drone.

Dengan sistem otomatisasi, tempat bagian benih itu akan terbuka ketika drone sudah berada di atas area tanam. Selanjutnya, secara teratur drone menaburkan benih.

Lilik merupakan bagian dari peneliti Balitbangtan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) yang terlibat aktif di lahan percontohan atau centre of excellence megaproyek food estate. Lokasinya di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Untuk sementara ini drone sebagai penabur benih atau pupuk masih dioperasikan perekayasa dan teknisi balai besar pengembangan mekanisasi pertanian. Efektivitas penebaran benih padi dengan drone tersebut sudah diuji di lahan uji coba itu, yaitu rata-rata 130 butir/meter persegi untuk dosis 30 kg/hektare. Kemudian rata-rata 180 butir/meter persegi untuk penebaran benih dengan dosis 40 kg/hektare. ’’Penebaran benih padi dengan drone sekitar satu jam per hektare,’’ katanya.

Lahan percontohan seluas 1.000 hektare itu merupakan bagian dari lahan food estate yang mencapai 10 ribu hektare di Kabupaten Pulang Pisau. Total ada 30 ribu hektare yang disiapkan untuk proyek raksasa tersebut.

Dua puluh ribu hektare sisanya berada di Kapuas. Nanti yang di Kapuas juga dibuat lahan percontohan atau centre of excellence. Jika tidak ada kendala, food estate atau lumbung pangan diluncurkan pada pekan pertama Oktober.

Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah Susilawati juga berada di balik persiapan megaproyek ketahanan pangan itu. Tujuh tahun sudah dia berkutat di lahan percontohan tersebut.

Menurut Susilawati, pada tahap awal, lahannya harus dikapur dahulu karena lahan rawa. Ciri lahan rawa adalah identik dengan kadar pH yang rendah atau memiliki tingkat keasaman tinggi. Jadi, perlu dikapur dahulu supaya kondisinya netral dan bisa digunakan untuk menanam padi.

’’Di lokasi kami sudah siap. Pengapuran lahan sudah (dilakukan, Red). Petani siap menanam,’’ katanya.

Dia menjelaskan, ada sejumlah inovasi yang telah dikenalkan kepada para petani di lahan percontohan itu. ’’Inovasi kami (tujuannya, Red) meningkatkan indeks produksi dan indeks penanaman,’’ katanya.

Indeks produksi adalah meningkatkan hasil panen. Sedangkan indeks penanaman adalah meningkatkan jumlah panen dalam setahun.

Dia berharap ke depan petani di sana bisa panen dua kali atau bahkan tiga kali dalam setahun. Sebagaimana petani padi yang berada di Pulau Jawa pada umumnya.

Juga, sudah diterapkan konsep pertanian modern dengan berbagai mekanisasi. Misalnya, mengolah tanah dengan traktor roda dua atau roda empat.

Petani dikenalkan pula cara memilih benih yang tepat. Dia menjelaskan, petani tidak hanya dipandu untuk memilih benih yang menghasilkan beras giling atau konsumsi. Tetapi juga dapat menghasilkan benih. Bahkan, benih sudah tersertifikat.

Dengan cara itu, petani bisa mendapatkan keuntungan dobel. Pertama, hasil panen berupa gabah untuk digiling. Kedua, hasil padi untuk dijadikan benih. ’’Kami juga kenalkan berbagai varietas padi hasil pemuliaan. Misalnya, padi merek Inpari 42 dan Inpari 30,” katanya.

Begitu pula teknologi pengendalian hama. Untuk memantau kadar pH lahan tanam, juga sudah ditempatkan teknologi pengukur pH air. Pasokan listriknya berasal dari panel surya.

Teknologi lainnya adalah membuat kolam ikan di saluran air di sekitar area persawahan.

’’Entah itu ikan gabus, lele, atau betok. Bisa jadi tambahan income,” katanya. (*) Editor : Administrator
#pertanian #features