Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bertahan akan Kekhasan, Asiang Wariskan Usaha ke Anak

Super_Admin • Minggu, 27 Juni 2021 | 10:38 WIB
BUKA : Gubernur Kalbar Sutarmidji membuka kegiatan Musda V DPD PPDI Kalbar secara virtual di Kantor Gubernur, Kamis (7/10). BIRO ADPIM FOR PONTIANAK POST
BUKA : Gubernur Kalbar Sutarmidji membuka kegiatan Musda V DPD PPDI Kalbar secara virtual di Kantor Gubernur, Kamis (7/10). BIRO ADPIM FOR PONTIANAK POST
WARUNG kopi tradisional tak tergerus waktu, keberadaannya menjadi ciri khas Kota Khatulistiwa. Usianya yang tua sarat akan nilai sejarah, diwariskan turun temurun dari orang tua. Warung kopi Asiang, adalah salah satu yang tersohor hingga mancanegara.

SYAHRIANI SIREGAR, Pontianak

Tak payah mencari warung kopi Asiang, masuk saja Jalan Merapi, dari ujung jalan sudah padat motor para pengunjungnya yang diparkir berjajar. Warung kopi Asiang selalu ramai, buka dari pukul 05.00 pagi dan semakin ramai saat matahari meninggi.

Di depan sudah disambut atraksi lelaki paruh baya berbadan tegap, bertato dan bertelanjang dada. Tangan kanan dan kirinya selalu sibuk dengan teko kopi yang dituang dengan gerakan dari atas dan ditarik ulur, cara tersebut dikenal dengan teknik Hainan. Klasik dan unik. Di depannya sudah mengantre cangkir keramik yang siap untuk diisi, cangkir khas kopitiam ini banyak ditemui di kedai kopi tua di kawasan Asia.

Dialah pemilik sekaligus barista legendaris yang biasa disapa Koh Asiang. Meski sudah berusia 66 tahun, Asiang masih terlihat gesit meracik kopi untuk pengunjungnya nonstop dari pukul 05.00 pagi hingga 11 siang.

Di belakangnya ada lelaki muda, tinggi dan tampan. Saya seperti melihat Andy Lau versi muda. Ia sedang sibuk menghitung dan merapikan uang di atas meja. Saya menghampiri lelaki muda tersebut. "Sebentar ya, saya bilang ke bapak dulu, sudah janji sebelumnya kan?" tanyanya ramah.

Warkop Asiang terdiri dari ruko tiga blok dua lantai dengan nuansa ornamen kayu, banyak kipas dan lampu gantung khas tempo dulu. Sembari menunggu, saya melihat-lihat kumpulan foto yang terpajang di dinding dekat tangga kayu. Terlihat foto Koh Asiang bersama selebriti maupun tokoh-tokoh publik yang pernah berkunjung ke warkopnya. Asiang memang barista terkenal. Tak lama, Koh Asiang menghampiri dan mengajak ke lantai atas.

Tak seramai di lantai bawah, lantai atas juga digunakan pengunjung untuk menikmati kopinya yang diracik secara tradisional. Di sudut warung kopinya di lantai dua, Asiang bercerita bagaimana pandemi mengguncang usaha warung kopi yang sudah hampir 50 tahun dikelolanya.

Warkop Asiang sudah berdiri sejak tahun 1958, merupakan kedai kopi warisan orang tuanya. Asiang adalah generasi kedua yang mengelola. Kala itu usianya masih 17 tahun. Di usia yang masih muda itu Asiang sudah berjualan kopi membantu perekonomian keluarga.

Masa pandemi merupakan masa tersulit bagi Asiang. Tahun lalu warung kopinya sempat  ditutup sementara pasca razia kepatuhan protokol kesehatan. Nahas, ada pengunjung yang tidak menggunakan masker. Selain itu, pengelola, beberapa karyawan dan pengunjung menunjukkan hasil reaktif saat dilakukan rapid test di tempat. Warkop Asiang pun tutup selama satu bulan penuh. Tidak ada aktivitas dan penghasilan sama sekali.

"Waktu kosong tersebut kami gunakan untuk fokus jaga kesehatan saja, saya dan semua karyawan," ujar lelaki bernama lengkap Yohanes Fendi tersebut.

Sebanyak 14 karyawannya terpaksa dirumahkan sementara. Belasan orang hidup dari penghasilan warkopnya, terkadang Asiang merogoh kocek pribadi untuk memenuhi kebutuhan karyawannya saat itu.

"Seadanya yang bisa kita bisa kasi, ini sudah takdir dari Tuhan, tak usah kita banyak pikir lagi. Tak ada yang tahu pandemi ini bisa terjadi dan kapan berakhir," curhat lelaki berkepala plontos tersebut.

Setelah satu bulan tanpa kegiatan, warkopnya kembali buka. Namun, kondisi memang serba sulit, hingga tiga bulan berjalan setelah itu, Asiang belum juga mendongkrak penjualan. Pemasukan hanya 30 persen dibandingkan dari masa sebelum pandemi.

Walau berat namun warkopnya harus tetap jalan untuk menopang hidup belasan karyawannya. Perlahan keadaan mulai membaik walau masih jauh dari kondisi normal, pemasukan pelan-pelan naik menjadi 60 persen. Sampai lah sekarang, Asiang harus menerima kenyataan lagi bahwa pengetatan jam malam kembali dilakukan bagi warkop karena kasus Covid-19 semakin melonjak.

Asiang selalu kooperatif dengan setiap kebijakan pemerintah, ia pun selalu hadir jika ada panggilan terkait warkopnya. Menurutnya wajar jika pemerintah memberlakukan segala kebijakan untuk mengontrol, toh untuk kepentingan bersama.

Menurut Koh Asiang, kondisi sekarang memang membuat bingung semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat. Jika warkop dibiarkan buka akan khawatir mengundang kerumunan, jika ditutup akan berpengaruh pada ekonomi rakyat.

"Apalagi kami pelaku usaha, punya karyawan yang mesti digaji. Jadi, saya rasa pemerintah sudah memberi solusi yang baik dengan mengizinkan tempat usaha buka dengan pengawasan,” ungkap Asiang mengapresiasi setiap kebijakan yang dikeluarkan.

Dengan kebijakan PPKM mikro yang terjadi saat ini, warkop Asiang kini tutup jam delapan malam sesuai arahan pemerintah. Begitu juga dengan penerapan protokol kesehatan di warkopnya, tempat cuci tangan selalu disediakan di depan. Asiang juga selalu menyemprot warkopnya dengan cairan khusus sebelum tutup dan buka kembali di pagi hari.

Diakuinya yang paling sulit adalah mengontrol pergerakan pengunjung, saking ramainya. Belum lagi kebiasaan pengunjung yang suka menarik kursi dan duduk berkerumun di satu meja. “Mana boleh kita mengusir pelanggan yang datang, kita hanya kasi arahan saja,” jelas Asiang sambil sesekali menyapa ramah pengunjungnya yang lewat.

Dalam pengelolaan warkop, Koh Asiang sudah tak sendiri, ia menyerahkan kepada putera bungsunya, Suwandi. Ya, lelaki muda yang saya temui di depan, dia adalah generasi ketiga warung kopi Asiang.

“Saya kan sudah tua, sudah termasuk usia pensiun. Tak bisa lagi penuh mengurus warkop. Kalau ketemu tamu dari luar daerah atau luar negeri saya tetap ada. Tapi kalau untuk pengeloaan warkop sudah saya ajarkan ke anak. Mungkin menu dan pasarnya nanti yang berubah, itu tergantung dia, tapi cita rasa kopi tak akan berubah,” cerita Asiang.

Menurut ayah dua anak ini, anak muda punya pemikiran yang berbeda. Dengan generasi berikutnya, Asiang berharap warkopnya bisa berkembang. Apakah akan punya cabang atau frenchise ke depannya tergantung anak-anaknya.

"Yang penting dia bisa jaga nama baik, melayani pelanggan dengan baik dan jangan sedikit-sedikit emosi," pesan Koh Asiang.

Di tengah kondisi Covid-19 yang turun naik dan tidak tahu kapan ujungnya, Koh Asiang tetap optimis dengan keberadaan warung kopi tradisional di Pontianak karena budaya ngopi yang sudah melekat sekali pada masyarakat. Buktinya, setelah setahun berlalu, usaha warung kopi di Pontianak tak padam diterjang 'tsunami pandemi'.

"Mungkin pelanggan masih ada perhatian sama kita dan pastinya Tuhan selalu memperhatikan kita semua," pungkasnya optimis. (*) Editor : Super_Admin
#kopi #warkop #asiang