IDIL AQSA AKBARY, PONTIANAK
NAMA drg. Hary Agung Tjahyadi sebenarnya sudah tidak asing di jajaran Dinas Kesehatan Kalbar. Ia sudah mengawali karir sebagai staf sejak tahun 2007. Kemudian menjadi sekretaris dinas selama empat tahun, bahkan Plt kepala dinas selama enam bulan. Sampai tahun ini, ia akhirnya menjabat kepala dinas kesehatan definitif.
Hary Agung sapaan karibnya merupakan lulusan fakultas kedokteran gigi di Universitas Gajah Mada (UGM). Lulus di akhir tahun 1993, ia kemudian merantau ke Kalbar di tahun 1994. Alasannya hijrah ke Kalbar karena pada waktu itu ada program bagi lulusan dokter yakni wajib kerja sarjana.
Ada dua provinsi yang menjadi pilihannya saat itu dan salah satunya Kalbar. Namun karena ada perbedaan soal lamanya program yang harus dijalani, ia pun memilih Kalbar. Sebab provinsi yang satunya perlu waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan program wajib kerja sarjana.
“Yang bisa cepat hanya satu tahun di Kalbar sehingga saya ambil Kalbar. Kebetulan saat kuliah saya sempat membawa rombongan mahasiswa FKG UGM untuk bakti sosial di Kalbar, sehingga saya sudah cukup familiar dengan Kalbar,” ceritanya.
Setelah menyelesaikan program tersebut, ia kemudian menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT). Ditugaskan pertama kali oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Kabupaten Ketapang dengan pola PTT. Hary Agung menjadi dokter gigi angkatan pertama yang ditugaskan sebagai PTT di Kalbar. Karena sebelumnya hanya ada dokter umum.
“Jadi tahun 1994 dokter gigi pertama kali, saya di tugaskan di Puskesmas Sandai (Ketapang) kategori sangat terpencil, selama tiga tahun. Sempat juga saya separo dinas di sana, sebagai kepala puskesmas yang pada waktu itu uji coba. Karena pada saat itu belum ada pegawai, jadi PTT yang dijadikan kepala Puskesmas,” ungkapnya.
Setelah tiga tahun berlalu, tahun 1997 Hary Agung mengikuti tes seleksi aparatur sipil negara (ASN). Karena bertugas di fasilitas layanan kesehatan kategori sangat terpencil, maka PTT mendapat prioritas jadi ASN. Ketika resmi menjadi ASN, Hary Agung langsung bertugas di Pontianak.
“Saya bertugas sebagai ASN pertama kali di Puskesmas Telaga Biru (Siantan) sebagai dokter gigi, sekitar enam tahun merangkap sebagai kepala puskesmas,” katanya.
Lalu setelah enam tahun, pria kelahiran 20 Mei 1969 itu dipindah ke Puskesmas Alianyang, Pontianak Kota. Ia bertugas sekitar empat tahun, baru setelah itu masuk ke Dinas Kesehatan Kalbar sebagai staf di tahun 2007. “Jadi kalau dihitung total (pengalaman) saya di Puskesmas selama 13 tahun,” ucapnya.
Ayah tiga anak itu mengawali karir di Dinas Kesehatan Kalbar sebagai Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Khusus dan Bencana. Ia bertugas sekitar 13 tahun. Sempat menjabat Kepala Bidang Kesehatan Keluarga hingga sekretaris dinas. Bahkan ketika jabatan kepala dinas sempat kosong, Hary Agung pernah menjadi Plt Kadis selama enam bulan.
“Kemudian kembali lagi menjadi sekretaris karena (sudah) ada kepala dinas definitif. Kemudian Agustus 2020, saya dipercaya gubernur menjadi Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat. Lalu sekarang (2022) jadi Kepala Dinas Kesehatan,” paparnya.
Pria kelahiran Palembang itu bercerita selama 13 tahun bertugas di Puskesmas, cukup banyak prestasi yang sempat diraih. Di antaranya sempat mewakili Kalbar sebagai dokter teladan nasional. “Waktu dapat penghargaan dokter teladan itu Pak Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang menyerahkan di Istana Negara, kalau tidak salah itu tahun 2005 atau 2006,” ingatnya.
Selain itu yang tak kalah membanggakan menurutnya ketika menjabat sebagai Kepala Puskesmas Alianyang, Puskesmas tersebut sempat mendapat penghargaan pelayanan prima dari Kemenpan-RB.
“Puskesmas kami pertama kali di Kalbar yang mendapatkan penghargaan pelayanan prima dari Mempan-RB pada 2005 yang diserahkan Presiden. Itu menginisiasi puskesmas lainnya untuk mendapatkan penghargaan prima,” ujarnya.
Bagi Hary Agung kesenangan ketika mengabdi di tengah masyarakat adalah saat diterima dengan baik oleh masyarakat. Itu yang ia rasakan selama bertugas di Puskesmas terpencil hingga di Kota Pontianak.
“Jika kita berbuat baik maka orang akan berbuat baik dimana saja. Alhamdulillah selama di sana (bertugas di Puskesmas) saya sangat diterima baik oleh masyarakat. Selama kita memiliki niat baik dan berbuat baik, jadi tidak boleh ada ketakutan apa-apa,” imbuhnya.
Setelah dilantik sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kalbar yang baru Hary Agung telah menyusun beberapa fokus penanganan di bidang kesehatan yang perlu menjadi perhatian. Mulai dari penanganan Covid-19, stunting, mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hingga peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Untuk penanganan Covid-19 menurutnya saat ini masih jadi fokus utama di tubuh Dinas Kesehatan. Meskipun kata Hary Agung, dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 tak bisa hanya dikerjakan oleh tenaga kesehatan semata. Perlu kerjasama semua pihak, terutama dalam Satgas Covid-19 yang terdiri dari lintas sektor di dalamnya.
“Saya pikir upaya ke depan adalah memperkuat peran Dinkes dalam Satgas tersebut,” kata Hary Agung.(*) Editor : Syahriani Siregar